Pemuda Tabagsel Bagikan Ratusan Takjil Gratis di Pasar 7 Tembung
Pemuda Tabagsel Bagikan Ratusan Takjil Gratis di Pasar 7 Tembung
kota
Baca Juga:
Oleh : H Syahrir Nasution
Sejarah tidak pernah lupa. Ia mungkin diam, menunggu waktu, tetapi pada akhirnya selalu berbicara dengan jujur. Sejarah adalah hakim yang tak bisa disuap, tak bisa diintimidasi, dan tak mengenal kompromi. Ia mencatat siapa yang berjalan lurus dan siapa yang memilih jalan curang untuk meraih kekuasaan, jabatan, atau kepentingan duniawi lainnya.
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT telah memberi peringatan yang sangat tegas melalui QS. Al-Muthaffifiin ayat 1: "Wailul lil muthaffifiin" — celakalah bagi orang-orang yang berbuat curang. Ayat ini bukan sekadar teguran moral, melainkan vonis ilahiah terhadap perilaku kecurangan yang kerap dibungkus rapi dengan dalih kepentingan, kecerdikan, bahkan legitimasi kekuasaan.
Kecurangan tidak selalu hadir dalam bentuk mencuri secara kasat mata. Ia bisa menjelma dalam manipulasi, intrik, penyalahgunaan wewenang, permainan licik untuk merebut jabatan, atau menghalalkan segala cara demi memuaskan hasrat birahi kekuasaan. Lebih berbahaya lagi, banyak pelakunya tidak lagi sadar bahwa mereka sedang curang—karena kebiasaan telah mematikan nurani.
Manusia dihadapkan pada pilihan sederhana namun menentukan: mengisi hidup dengan cara bersih atau kotor. Jalan kotor mungkin tampak cepat, efektif, dan menguntungkan dalam jangka pendek. Namun jalan itu hampir selalu dibantu oleh "tangan-tangan syaitan", bukan oleh pertolongan Allah. Dan sejarah menunjukkan, hasil dari jalan kotor tidak pernah berakhir dengan kemuliaan, melainkan dengan kehancuran.
Bala dan bencana tidak selalu datang dalam bentuk musibah besar. Ia bisa hadir sebagai aib, kehilangan kepercayaan publik, kehancuran nama baik, atau kehampaan batin yang tak pernah terobati. Semua itu adalah konsekuensi logis dari kecurangan yang dipelihara, baik disadari maupun tidak.
Pada akhirnya, jabatan hanyalah sementara, kekuasaan akan berpindah tangan, dan harta akan ditinggalkan. Tetapi catatan sejarah—dan lebih dari itu, catatan Allah—akan tetap abadi. Maka sebelum sejarah mengadili, sebelum ayat-ayat Allah menjadi saksi, sudah seharusnya setiap orang bercermin: apakah langkah kita hari ini dibimbing oleh tangan Allah, atau digerakkan oleh bisikan syaitan?
Sebab sejarah tidak pernah berbohong. Dan vonis terhadap orang-orang curang sudah ditetapkan jauh sebelum mereka berpikir bisa menghindarinya.
Jika ingin, saya bisa menajamkan lagi ke isu kekuasaan, politik, birokrasi, atau kasus konkret agar lebih "menggigit" secara kontekstual.***
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Pemuda Tabagsel Bagikan Ratusan Takjil Gratis di Pasar 7 Tembung
kota
Tim Gabungan BNNPSUMUT Razia Lokasi THM Blue Night 48 Orang Positif Narkoba Diamankan
kota
Yuddy Chrisnandi Soroti Pentingnya Keselarasan Visi Menteri dengan Presiden
kota
Jelang Idul Fitri 2026, Personel Gabungan Siaga di Pos Yan Barumun Polres Padang Lawas
kota
Dini Hari Mencekam! Rumah Warga di Padangsidimpuan Selatan Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp250 Juta
kota
Penuh Haru dan Kebersamaan, Ribuan Anak Yatim Hadiri Buka Puasa Bersama di Kediaman Ketua Golkar Tapsel H Rahmat Nasution
kota
Polres Pelabuhan Belawan dan Tim Jatanras Polda Sumut Amankan Dua Pelaku Penganiayaan yang Viral
kota
MEDAN Ibadah iktikaf pada malam ke25 Ramadan 1447 Hijriah di Masjid Agung Medan mencatat sejarah baru. Sebanyak 4.363 jamaah memadati m
News
Volume Lalu Lintas Terus Meningkat Hingga H7 Hari Raya Idulfitri 1447 H, Lebih dari 700 Ribu Kendaraan Melintas di Ruas Tol Regional Nusant
kota
Wagub Sumut Surya Tegaskan Komitmen Jaga Stabilitas Daerah di Hadapan Menko Polkam
kota