Gubernur Aceh Jajaki Investasi UEA, Bahas Penerbangan Langsung hingga Tol
JAKARTA Muzakir Manaf melakukan pertemuan dengan Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem Obaid Salem Al Dhaheri,
News
Baca Juga:
Oleh : H Syahrir Nasution
Sejarah tidak pernah lupa. Ia mungkin diam, menunggu waktu, tetapi pada akhirnya selalu berbicara dengan jujur. Sejarah adalah hakim yang tak bisa disuap, tak bisa diintimidasi, dan tak mengenal kompromi. Ia mencatat siapa yang berjalan lurus dan siapa yang memilih jalan curang untuk meraih kekuasaan, jabatan, atau kepentingan duniawi lainnya.
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT telah memberi peringatan yang sangat tegas melalui QS. Al-Muthaffifiin ayat 1: "Wailul lil muthaffifiin" — celakalah bagi orang-orang yang berbuat curang. Ayat ini bukan sekadar teguran moral, melainkan vonis ilahiah terhadap perilaku kecurangan yang kerap dibungkus rapi dengan dalih kepentingan, kecerdikan, bahkan legitimasi kekuasaan.
Kecurangan tidak selalu hadir dalam bentuk mencuri secara kasat mata. Ia bisa menjelma dalam manipulasi, intrik, penyalahgunaan wewenang, permainan licik untuk merebut jabatan, atau menghalalkan segala cara demi memuaskan hasrat birahi kekuasaan. Lebih berbahaya lagi, banyak pelakunya tidak lagi sadar bahwa mereka sedang curang—karena kebiasaan telah mematikan nurani.
Manusia dihadapkan pada pilihan sederhana namun menentukan: mengisi hidup dengan cara bersih atau kotor. Jalan kotor mungkin tampak cepat, efektif, dan menguntungkan dalam jangka pendek. Namun jalan itu hampir selalu dibantu oleh "tangan-tangan syaitan", bukan oleh pertolongan Allah. Dan sejarah menunjukkan, hasil dari jalan kotor tidak pernah berakhir dengan kemuliaan, melainkan dengan kehancuran.
Bala dan bencana tidak selalu datang dalam bentuk musibah besar. Ia bisa hadir sebagai aib, kehilangan kepercayaan publik, kehancuran nama baik, atau kehampaan batin yang tak pernah terobati. Semua itu adalah konsekuensi logis dari kecurangan yang dipelihara, baik disadari maupun tidak.
Pada akhirnya, jabatan hanyalah sementara, kekuasaan akan berpindah tangan, dan harta akan ditinggalkan. Tetapi catatan sejarah—dan lebih dari itu, catatan Allah—akan tetap abadi. Maka sebelum sejarah mengadili, sebelum ayat-ayat Allah menjadi saksi, sudah seharusnya setiap orang bercermin: apakah langkah kita hari ini dibimbing oleh tangan Allah, atau digerakkan oleh bisikan syaitan?
Sebab sejarah tidak pernah berbohong. Dan vonis terhadap orang-orang curang sudah ditetapkan jauh sebelum mereka berpikir bisa menghindarinya.
Jika ingin, saya bisa menajamkan lagi ke isu kekuasaan, politik, birokrasi, atau kasus konkret agar lebih "menggigit" secara kontekstual.***
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
JAKARTA Muzakir Manaf melakukan pertemuan dengan Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem Obaid Salem Al Dhaheri,
News
sumut24.co ASAHAN, Suasana khidmat dan penuh semangat mewarnai acara pelantikan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Institut Agama Islam Darul
News
Patroli Gabungan 3 Pilar Polsek Medan Area Tekan Gangguan Kamtibmas
kota
Investor Tiongkok dan Koperasi Jasa Keluarga Pers Bahas Pengadaan Mesin Pengering Gabah
kota
Bos Ponsel Pancur Batu pelaku penganiaya Temui Babak Baru, Leo Sembiring Masih DPO, Putra Persadaan Sudah P21 di Kajari
kota
dr H Asri Ludin Tambunan Sampaikan Persoalan Tanah Hingga Infrastruktur ke Pusat
kota
Keren Abis! SMPN 1 Panyabungan Sapu Bersih 4 Trofi di FLS2N 2026 Madina
kota
AKBP Yon Edi Winara Tegas Soal Sengketa Lahan di Paluta, Minta Penyelesaian Terukur dan Sesuai Hukum
kota
Medan, Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara menggelar acara pelepasan dan perpisahan bagi Harli Siregar yang akan mengemban tugas baru di Kejaksa
News
Perkuat Sinergi Strategis di Kawasan Ekonomi Unggulan, Bank Sumut Hadir Lebih Dekat di Batam untuk Dorong Pertumbuhan Inklusif
kota