Kamis, 13 Agustus 2026

Srikandi Madrasah Karya Aisyah Rahma Siregar, Dari Kepemimpinan Perempuan untuk Masa Depan Pendidikan

Administrator - Kamis, 13 Agustus 2026 15:02 WIB
Srikandi Madrasah Karya Aisyah Rahma Siregar, Dari Kepemimpinan Perempuan untuk Masa Depan Pendidikan

Deli Serdang - Kepemimpinan perempuan dalam dunia pendidikan Islam bukan lagi sekadar perbincangan tentang siapa yang berada di balik meja pimpinan. Ia telah berkembang menjadi pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana perempuan menjalankan amanah kepemimpinan tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman, sekaligus mampu membawa lembaga pendidikan menghadapi perubahan zaman?

Baca Juga:

Pertanyaan itulah yang coba dijawab melalui buku Srikandi Madrasah: Kiprah Kepemimpinan Perempuan dalam Manajerial Pendidikan Islam, karya Kepala MTsN 2 Deli Serdang, Dr. Nuraisyah Rahma Siregar, M.A. Buku tersebut diluncurkan dalam rangkaian Seminar Kebangsaan bertema "Peran Perempuan di Mata Publik dalam Peran Kebangsaan" di Hall MTsN 2 Deli Serdang, Kamis (13/08/2026).

Namun, Srikandi Madrasah tidak semata-mata hadir sebagai sebuah buku tentang perempuan. Lebih dari itu, karya tersebut menawarkan cara pandang mengenai bagaimana kepemimpinan pendidikan Islam seharusnya dibangun: berakar pada nilai agama, tetapi tidak terjebak dalam romantisme masa lalu; terbuka terhadap perubahan, tetapi tidak kehilangan identitas.

Kehadiran buku ini mendapat apresiasi dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Deli Serdang, Dr. H. Saripuddin Daulay, M.Pd. Dalam sambutannya pada kegiatan tersebut, ia menyampaikan apresiasi atas lahirnya karya yang mengangkat kepemimpinan perempuan dalam manajerial pendidikan Islam.

Menurutnya, tema yang diangkat melalui buku Srikandi Madrasah memiliki relevansi dengan perkembangan pendidikan saat ini. Perempuan memiliki ruang dan kesempatan yang besar untuk memberikan kontribusi dalam berbagai bidang, termasuk dalam kepemimpinan dan pengelolaan lembaga pendidikan.

Kakan Kemenag Deli Serdang menilai bahwa kepemimpinan di lingkungan madrasah tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan administratif. Seorang pemimpin harus mampu memberikan keteladanan, membangun kerja sama, menjaga amanah, serta memiliki kemampuan untuk membawa lembaga pendidikan merespons berbagai perubahan yang terjadi.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Dr. Nuraisyah Rahma Siregar yang telah menuangkan gagasan dan pengalaman kepemimpinan melalui sebuah karya literasi. Menurutnya, buku tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai dokumentasi pemikiran, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi para kepala madrasah, guru, dan tenaga kependidikan untuk terus meningkatkan kompetensi dan kualitas kepemimpinan.

Sementara itu, Guru Besar UIN Sumatera Utara, Prof. Dr. H. Mesiono, M.Pd., yang hadir sebagai narasumber dalam Seminar Kebangsaan, turut memberikan perspektif mengenai pentingnya posisi perempuan dalam ruang publik dan kehidupan kebangsaan.

Dalam penyampaiannya, Prof. Dr. H. Mesiono menempatkan persoalan kepemimpinan perempuan dalam konteks yang lebih luas. Menurutnya, perempuan memiliki potensi dan kapasitas untuk mengambil peran dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan. Peran tersebut perlu dilihat berdasarkan kompetensi, integritas, ilmu pengetahuan, serta kontribusi yang diberikan kepada masyarakat.

Perspektif tersebut sejalan dengan gagasan utama Srikandi Madrasah yang tidak menempatkan kepemimpinan sebagai arena pertentangan antara laki-laki dan perempuan. Kepemimpinan justru dipandang sebagai ruang kolaborasi untuk menghadirkan kemajuan pendidikan dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Prof. Dr. H. Mesiono juga menekankan pentingnya pendidikan dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap peran perempuan. Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki posisi strategis untuk membangun generasi yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual, tetapi juga mampu memahami realitas sosial dan menghargai kontribusi setiap individu berdasarkan kapasitasnya.

Dalam konteks tersebut, kehadiran buku Srikandi Madrasah menjadi relevan karena menawarkan refleksi tentang bagaimana perempuan dapat menjalankan kepemimpinan dalam lingkungan pendidikan Islam. Kepemimpinan perempuan tidak harus diposisikan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai keislaman, tetapi dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan berkemajuan.

Pandangan tersebut sekaligus memperkuat pesan bahwa kualitas seorang pemimpin tidak semata-mata ditentukan oleh identitas gender. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seseorang menjalankan amanah, mengembangkan ilmu, membangun akhlak, bekerja secara profesional, dan memberikan manfaat bagi lingkungan yang dipimpinnya.

Di tengah tuntutan pendidikan yang semakin kompleks, kepala madrasah tidak lagi cukup hanya menjadi administrator. Ia dituntut mampu menjadi pemimpin pembelajaran, penggerak perubahan, pengelola sumber daya, komunikator publik, sekaligus teladan bagi warga madrasah.

Di sinilah gagasan Srikandi Madrasah menemukan relevansinya.

Buku ini memotret sosok perempuan pemimpin pendidikan Islam sebagai figur yang berdiri di antara nilai dan perubahan. Ia menjaga akar spiritual madrasah, tetapi pada saat yang sama mampu membaca perkembangan zaman. Ia mencintai tradisi Islam, namun tidak menjadikan tradisi sebagai alasan untuk membatasi potensi perempuan.

Kepemimpinan yang ditawarkan bukan kepemimpinan yang hanya mengandalkan kekuasaan struktural. Sebaliknya, kepemimpinan tersebut dibangun melalui perpaduan antara ilmu, akhlak, ketegasan, kelembutan, profesionalitas, dan amanah.

Konsep tersebut menjadi penting karena madrasah hari ini menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibandingkan masa sebelumnya. Perkembangan teknologi digital, perubahan karakter peserta didik, tuntutan peningkatan mutu, budaya literasi, kompetisi pendidikan, hingga kebutuhan untuk membangun komunikasi publik membuat pemimpin madrasah harus mampu bergerak lebih adaptif.

Dalam konteks itu, perempuan memiliki ruang yang sama untuk mengambil peran strategis.

Srikandi Madrasah menolak pandangan bahwa kepemimpinan pendidikan harus dikonstruksi melalui satu citra gender tertentu. Kepemimpinan bukan persoalan apakah seseorang laki-laki atau perempuan, melainkan tentang bagaimana amanah dijalankan dan seberapa besar manfaat yang mampu diberikan.

Perempuan tidak hadir untuk menggantikan laki-laki. Kehadiran perempuan justru menjadi bagian dari keberagaman kepemimpinan yang dapat memperkaya perspektif dalam pengelolaan pendidikan.

Gagasan tersebut juga memiliki dampak yang lebih luas bagi peserta didik.

Ketika seorang perempuan tampil sebagai kepala madrasah, peserta didik perempuan memperoleh sebuah gambaran nyata bahwa kepemimpinan bukan sesuatu yang berada di luar jangkauan mereka. Mereka dapat melihat bahwa menjadi pemimpin tidak harus membuat seorang perempuan kehilangan identitas, nilai, dan karakter keislamannya.

Pada saat yang sama, peserta didik laki-laki belajar bahwa perempuan dapat dihormati bukan hanya karena statusnya, tetapi karena ilmu, akhlak, kemampuan, dan kontribusinya.

Dengan demikian, kepemimpinan perempuan di madrasah memiliki dimensi pendidikan yang lebih luas. Ia bukan sekadar persoalan manajemen lembaga, tetapi juga menjadi pembelajaran sosial yang berlangsung melalui keteladanan.

Madrasah pada akhirnya tidak hanya mengajarkan nilai melalui buku pelajaran. Nilai juga diajarkan melalui apa yang dilihat peserta didik setiap hari.

Ketika peserta didik menyaksikan perempuan memimpin dengan ilmu, bekerja dengan sistem, mengambil keputusan dengan tanggung jawab, dan tetap menjaga nilai-nilai keislaman, mereka mendapatkan pengalaman pendidikan yang tidak selalu dapat diberikan melalui pembelajaran di dalam kelas.

Dari sinilah Srikandi Madrasah membawa pesan bahwa kepemimpinan merupakan bagian dari proses pendidikan itu sendiri.

Buku ini juga menghubungkan kepemimpinan perempuan dengan kebutuhan membangun madrasah masa depan. Madrasah tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang mampu menghafal pengetahuan. Madrasah harus mampu melahirkan generasi yang beriman, berpikir kritis, berakhlak, berani berkarya, cakap digital, peduli terhadap persoalan sosial, dan mampu beradaptasi dengan perubahan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan pemimpin yang mampu melihat pendidikan secara utuh.

Pemimpin yang mampu menghubungkan iman dengan ilmu. Menghubungkan akhlak dengan profesionalitas. Menghubungkan tradisi dengan inovasi. Menghubungkan identitas lokal dengan tuntutan global.

Dalam kerangka inilah sosok Srikandi Madrasah ditempatkan sebagai sebuah simbol.

Ia bukan hanya perempuan yang menduduki jabatan kepala madrasah. Ia adalah figur yang mampu menjadikan kepemimpinan sebagai ruang pengabdian.

Ia memimpin dengan hati, tetapi tidak kehilangan ketegasan. Ia menggunakan ilmu sebagai dasar berpikir, sistem sebagai cara bergerak, dan amanah sebagai landasan dalam bertindak.

Gagasan tersebut juga memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah madrasah tidak hanya ditentukan oleh sarana dan prasarana. Kepemimpinan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan bagaimana seluruh potensi lembaga dapat digerakkan menuju tujuan bersama.

Seorang kepala madrasah harus mampu membangun budaya kerja, menggerakkan guru dan tenaga kependidikan, memberikan ruang bagi kreativitas peserta didik, membangun komunikasi dengan orang tua, serta menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat dan pemangku kepentingan.

Karena itu, kepemimpinan perempuan yang digambarkan dalam Srikandi Madrasah bukanlah kepemimpinan yang berdiri sendiri. Ia merupakan kepemimpinan yang mengutamakan kolaborasi.

Guru bukan sekadar bawahan, tetapi mitra dalam menjalankan visi pendidikan. Peserta didik bukan hanya objek pembelajaran, tetapi generasi yang harus diberdayakan. Masyarakat bukan sekadar penerima hasil pendidikan, tetapi bagian dari ekosistem yang ikut menentukan keberhasilan madrasah.

Di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, pendekatan seperti ini menjadi semakin penting.

Kepemimpinan pendidikan tidak dapat berjalan dengan pola lama yang hanya berorientasi pada instruksi. Diperlukan komunikasi, keterbukaan, kemampuan mendengar, kemampuan beradaptasi, dan keberanian melakukan inovasi.

Dalam perspektif tersebut, perempuan memiliki kekuatan tersendiri yang dapat menjadi bagian dari dinamika kepemimpinan pendidikan. Namun, buku ini tidak menempatkan karakter kepemimpinan tertentu sebagai monopoli perempuan. Nilai-nilai seperti empati, ketegasan, kolaborasi, profesionalitas, dan tanggung jawab merupakan kualitas kepemimpinan yang dapat dimiliki siapa saja.

Karena itu, pesan utama Srikandi Madrasah bukan tentang perempuan melawan laki-laki.

Pesannya justru tentang laki-laki dan perempuan yang bersama-sama mengambil bagian dalam membangun pendidikan yang lebih baik.

Kehadiran buku ini menjadi penting karena isu kepemimpinan perempuan sering kali berhenti pada perdebatan mengenai kesempatan. Srikandi Madrasah membawa pembicaraan tersebut ke wilayah yang lebih substantif: bagaimana kesempatan itu diisi dengan kompetensi, bagaimana jabatan dijalankan dengan amanah, dan bagaimana kepemimpinan menghasilkan perubahan nyata.

Pada akhirnya, kepemimpinan tidak diukur dari seberapa tinggi posisi seseorang, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya.

Itulah pesan yang menjadikan Srikandi Madrasah lebih dari sekadar sebuah karya literasi. Buku ini menjadi refleksi tentang perjalanan kepemimpinan perempuan di lembaga pendidikan Islam sekaligus ajakan untuk membangun madrasah yang lebih profesional, religius, humanis, adaptif, dan bermutu.

Peluncuran buku tersebut di MTsN 2 Deli Serdang juga memperlihatkan bahwa literasi dapat menjadi bagian dari perjalanan kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu mengelola lembaga, tetapi juga perlu memiliki keberanian untuk menulis, merefleksikan pengalaman, dan membagikan gagasan kepada masyarakat.

Srikandi Madrasah pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang siapa yang memimpin madrasah hari ini. Buku ini berbicara tentang madrasah seperti apa yang ingin dibangun untuk masa depan.

Madrasah yang tidak takut terhadap perubahan, tetapi tetap berpegang pada nilai. Madrasah yang memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan. Madrasah yang mengejar prestasi tanpa mengabaikan akhlak. Madrasah yang memberikan ruang kepada laki-laki dan perempuan untuk tumbuh, memimpin, dan berkontribusi.

Sebab, masa depan pendidikan Islam tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar.

Ia membutuhkan generasi yang beriman, berkarakter, kritis, kreatif, cakap digital, memiliki kepedulian sosial, dan siap mengambil bagian dalam kehidupan bangsa.

Dan untuk melahirkan generasi seperti itu, dibutuhkan pemimpin yang mampu melihat pendidikan bukan sekadar sebagai pekerjaan, melainkan sebagai amanah dan jalan pengabdian.

Di titik itulah makna Srikandi Madrasah menemukan tempatnya: perempuan yang memimpin dengan hati, berpikir dengan ilmu, bergerak dengan sistem, dan bertindak dengan amanah.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
MTsN 2 Medan Diduga Lakukan Pungutan Liar, Siswa Terancam Tak Bisa Ujian jika Tak Bayar Dana Partisipasi
Siswa MTsN 1 Labura Arya Ramadhan Bawa Harum Nama Indonesia pada Turnamen Sepakbola Internasional Batam Cup 2025
Bangga Lihatnya! Pelajar MTsN 2 Deli Serdang Nonton Kriket Sambil Belajar
MTsN 3 Medan Raih Dua Emas dan Satu Perunggu pada Kompetisi Robotik Tingkat Nasional
komentar
beritaTerbaru