Baca Juga:
Madina | Sumut24.co
Bupati Mandailing Natal (Madina), Saipullah Nasution, menantang mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Mandailing Natal untuk mengambil peran lebih besar dalam menghadapi perkembangan era digital.
Mahasiswa diminta menjadi agen literasi digital, khususnya ketika menjalani Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di desa-desa.
Pesan tersebut disampaikan Saipullah saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional yang digelar Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (HMPS KPI) di lingkungan STAIN Mandailing Natal, Panyabungan, Senin (25/5/2026).
Seminar bertema "Media, Mahasiswa, dan Transformasi Sosial di Era Digital" itu menjadi ruang diskusi mengenai pentingnya kesiapan generasi muda dalam menghadapi tantangan perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat.
Dalam paparannya, Saipullah menegaskan bahwa derasnya arus digitalisasi tidak bisa lagi dihindari. Internet kini telah menjadi kebutuhan utama masyarakat, mulai dari akses informasi hingga aktivitas ekonomi sehari-hari.
Namun di balik kemudahan tersebut, ia mengingatkan adanya ancaman serius berupa penyebaran informasi palsu atau hoaks yang semakin sulit dibendung.
"Digitalisasi ini sudah tidak bisa kita hindarkan. Saat ini internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari," ujar Saipullah di hadapan para peserta seminar.
Karena itu, Bupati Madina berharap mahasiswa tidak hanya menjalani KKL sebagai formalitas akademik, melainkan mampu menjadi motor edukasi di tengah masyarakat. Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi strategis untuk membantu warga memahami penggunaan media digital secara sehat, bijak, dan produktif.
Selain persoalan literasi digital, Saipullah juga menyoroti dampak perubahan pola perdagangan di era digital. Kehadiran pasar daring atau marketplace, kata dia, menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha lokal, khususnya pedagang pakaian di Madina.
Ia menilai masih banyak pedagang tradisional yang belum memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usaha. Kondisi itu terjadi bukan hanya karena keterbatasan pemahaman, tetapi juga minimnya kemauan untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.
"Mau tidak mau kita harus memberikan pelatihan kepada pedagang-pedagang yang ada di Pasar Baru itu untuk memanfaatkan marketplace, tempat-tempat perdagangan di dunia maya," jelasnya.
Di sisi lain, Bupati Madina juga mengungkapkan masih adanya persoalan mendasar terkait akses internet di wilayah Mandailing Natal. Dari total 404 desa dan kelurahan, sekitar 40 wilayah masih mengalami kondisi blankspot atau belum terjangkau jaringan internet.
Persoalan tersebut, menurut Saipullah, menjadi salah satu fokus utama pemerintah daerah selama masa kepemimpinannya. Ia menargetkan seluruh desa dan kelurahan di Madina dapat menikmati akses internet sebelum masa jabatannya berakhir.
Meski demikian, ia mengakui upaya percepatan pembangunan infrastruktur digital masih menghadapi sejumlah kendala, termasuk kebijakan efisiensi anggaran yang membuat sejumlah program berjalan lebih lambat dari target.
Seminar nasional tersebut juga menghadirkan dua narasumber lainnya, yakni Plt. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Madina, Muhammad Syail Lubis, serta Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia Madina, Edi Djunaedi.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan mahasiswa dalam membangun masyarakat yang lebih cakap digital di tengah pesatnya transformasi teknologi.zal
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News