Sabtu, 26 September 2026

Tradisi Silek dan Cara Lain Mendengarkan Komposisi Musik

Administrator - Sabtu, 26 September 2026 10:39 WIB
Tradisi Silek dan Cara Lain Mendengarkan Komposisi Musik
Baca Juga:

Jakarta -Di Gedung Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, malam itu penonton tidak duduk seperti lazimnya menyaksikan pertunjukan musik.

Di tengah panggung terdapat matras pencak silat berukuran sekitar 4 × 4,5 meter. Penonton duduk bersila mengelilingi arena dalam dua-tiga baris di setiap sisi. Barisan terdepan berjarak hanya beberapa sentimeter dari arena.

Di setiap sudut matras terdapat mikrofon dengan tiang pendek, ditempatkan rendah dan diarahkan ke permukaan matras.

Panggung digelapkan. Cahaya hanya jatuh dari atas, menerangi arena.

Tiga orang yang akan menjadi pusat pertunjukan mula-mula duduk di antara penonton barisan depan. Ketika pertunjukan dimulai, mereka masuk ke arena, menyalami beberapa penonton terdekat, lalu mengambil posisi kuda-kuda dan berhadapan.

Gerakan tubuh mulai berlangsung. Ada serangan dan tangkisan, tangkapan, kuncian, jatuhan dan lompatan. Tubuh menghantam matras. Kaki menghentak. Kain bergesekan. Tangan menepuk tubuh. Napas para pesilat mulai memburu.

Sesekali tubuh seorang pesilat terhempas hanya beberapa sentimeter dari penonton.

*Silek di Tengah Musik*
Yang sedang disaksikan penonton tampaknya adalah silek. Silek adalah istilah dalam tradisi Minangkabau untuk seni bela diri yang secara umum dikenal sebagai silat. Pencak silat sebagai tradisi Nusantara sendiri telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2019.

Rabu (23/9/2026) malam itu, silek hadir dalam panggung komposisi musik. Pertunjukan tersebut merupakan bagian dari Pekan Komponis Indonesia (PKIna) 2026, yang berlangsung pada 23–27 September di Taman Ismail Marzuki.

Tiga orang di arena itu adalah M. Hario Efenur, atau yang akrab dipanggil Uncu, Emri, dan Hamdan Tawil atau Da At. Pertunjukan sekitar 45 menit itu berlangsung dalam tiga pertemuan: Emri dengan Da At, Emri dengan Uncu, kemudian Da At dengan Uncu.

Emri adalah seniman tari yang juga mengajar di ISI Padangpanjang, sedangkan Da At merupakan alumni ISI Padangpanjang dan pembuat alat-alat musik tradisional Minangkabau. Keduanya telah menekuni tradisi silek sejak lama.

Pada pertemuan pertama, gerakan mereka masih mudah dibaca sebagai pertarungan. Namun bersamaan dengan gerakan itu muncul bunyi yang tidak datang dari alat musik.

Kaki menghentak matras. Tubuh beradu. Kain bergesekan. Tangan menepuk tubuh. Hentakan terdengar ketika tubuh jatuh atau melompat. Tarikan napas para pesilat terdengar semakin jelas.

Pada awalnya, bunyi-bunyi tersebut mungkin terasa sebagai akibat dari gerakan. Namun semakin pertunjukan berlangsung, bunyi itu mulai menarik perhatian dengan sendirinya.

*Bunyi dari Gerakan*
Pertemuan kedua, Emri dengan Uncu, membawa pengalaman serupa. Gerakan mereka berubah mengikuti respons satu sama lain. Satu tindakan memancing tindakan berikutnya, dan setiap tindakan membawa bunyinya sendiri.

Menjelang pertemuan terakhir, Da At tampil sendirian selama beberapa menit, sementara Uncu tetap berada di arena tanpa bergerak.
Daat berganti-ganti jurus, mengubah langkah, berpindah posisi, melompat, menepuk tubuh dan celana sileknya.

Tidak ada lawan yang harus direspons. Namun bunyi tetap muncul dari setiap tindakan.

Langkah kaki, gesekan kain, tepukan tangan pada tubuh dan pakaian, hentakan kaki serta napas membentuk rangkaian bunyi yang terus bergerak mengikuti tubuh Da At.

Pada bagian ini muncul pertanyaan: apakah bunyi-bunyi tersebut sekadar akibat dari gerakan silek, atau memang ada sesuatu yang sedang disusun?

Pertanyaan itu menjadi penting karena sejak awal Uncu menempatkan tubuh, gerak dan bunyi dalam satu kerangka penciptaan komposisi. Dalam sesi diskusi karya seusai pertunjukan, ia kemudian menjelaskan cara berpikir yang menjadi dasar karyanya dengan kalimat sederhana:

"Yang dikomposisi bukan nada. Tapi tindakan."

Uncu tidak mengambil gerakan silek lalu memberinya musik. Ia menjadikan tindakan tubuh dalam silek sebagai bahan komposisi.

Gerakan yang telah disusun dan dilatih dapat menjadi bagian yang tetap, sementara respons terhadap lawan membuka ruang perubahan saat pertunjukan berlangsung. Serangan dapat menjadi pemicu, tangkapan dan pelepasan membentuk hubungan antartindakan, sedangkan perubahan posisi, kecepatan, tenaga dan jarak menghasilkan perubahan bunyi.

Dengan cara itu, silek tidak sekadar menjadi tontonan yang diiringi musik. Gerak dan tindakan tubuhnya sendiri ditempatkan sebagai bagian dari komposisi.

*Tubuh sebagai Komposisi*
Uncu menyebut pendekatan tersebut sebagai Musik Konsekuensial. Gagasannya berangkat dari sistem ketubuhan silek: silek dipahami bukan hanya sebagai teknik gerak, tetapi sebagai pengetahuan yang bekerja melalui tubuh, termasuk prinsip, respons dan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

Dalam sistem tersebut, tubuh bukan sekadar alat untuk memainkan komposisi yang telah dibuat sebelumnya. Tubuh menjadi tempat komposisi berlangsung.

Gagasan ini merupakan bagian dari perjalanan artistik Uncu bersama Candasuara, yang ia dirikan pada 2016. Kelompok yang berbasis di Sumatera Barat itu memusatkan penciptaannya pada seni ketubuhan Minangkabau, khususnya silek dan randai, sebagai sumber penciptaan musik.

Ketertarikan Uncu pada musik dan silek sendiri telah tumbuh sejak 2003. Saat itu ia mulai memainkan musik tradisional Minangkabau seperti gandang tambua, talempong dan rabano, sekaligus mulai belajar silek.

Eksplorasi hubungan tubuh, bunyi dan teknologi kemudian juga muncul dalam sejumlah kolaborasinya. Salah satunya melalui karya Panjago, bersama Rani Jambak, istrinya, dan Prof. Scott Wilson dari University of Birmingham. Dalam karya tersebut, gerak silek Uncu ditangkap kamera dan sensor gerak, lalu diolah menjadi body sound yang dipertemukan dengan musik elektronik dan live coding, sementara visualnya dikerjakan oleh Jean David Caillouet.

Uncu dan Rani juga mengelola Rumah Gagas, sebuah laboratorium dan ruang kreatif untuk pertunjukan kontemporer dan eksperimental.

Uncu kini tengah menyelesaikan pendidikan doktoral di ISI Surakarta. Karya Ketubuhan Silek: Formulasi Sistem Ketubuhan Silek Menjadi Sistem Komposisi Musik yang dipentaskan dalam PKIna 2026 berkaitan dengan proses penelitian dan penciptaan tersebut.

Gagasan tersebut hadir dalam Pekan Komponis Indonesia, sebuah program yang memiliki sejarah panjang. Agenda tahunan Dewan Kesenian Jakarta ini telah berlangsung sejak 1979, ketika masih bernama Pekan Komponis Muda.

Puluhan tahun kemudian, PKIna 2026 mengambil tema Tala–Talu: Listening, Remapping, Extending. Tema tersebut membuka ruang bagi berbagai bentuk penciptaan dan pemikiran musik.

Dalam konteks itu, karya Uncu bukan sekadar memperluas bunyi yang digunakan dalam musik, tetapi juga memetakan kembali dari mana musik dapat berangkat: dari tindakan tubuh yang telah hidup dalam sebuah tradisi.

*Mendengar yang Bergerak*
Gagasan Uncu bersinggungan dengan pertanyaan yang lebih lama dalam musik eksperimental: apa sebenarnya yang membuat sesuatu dapat disebut musik?

John Cage pernah menggeser pertanyaan tersebut melalui 4'33". Dalam karya itu, David Tudor duduk di depan piano tanpa memainkan nada, sementara suara-suara yang muncul dari lingkungan pertunjukan menjadi bagian dari pengalaman mendengarkan.

Jika Cage menggeser perhatian pendengar melalui keheningan, Uncu menggesernya melalui tubuh.

Hentakan kaki, gesekan kain, tepukan tubuh, napas dan benturan yang biasanya menjadi bagian dari gerakan silek ditempatkan sebagai materi musik.

Cara berpikir ini dapat ditempatkan dalam percakapan yang lebih luas tentang soundscape yang dikembangkan R. Murray Schafer. Jika lingkungan dapat dipahami sebagai lanskap bunyi, gagasan itu dapat diperluas untuk melihat tubuh sebagai ruang kecil yang terus menghasilkan berbagai bunyi dari gerak dan aktivitasnya.

Dalam praktik body music, seperti yang dikembangkan Keith Terry, tubuh juga digunakan sebagai sumber bunyi. Namun pendekatan Uncu memiliki tekanan yang berbeda: yang dikomposisikan bukan semata-mata pola bunyi tubuh, tetapi tindakan yang menghasilkan bunyi tersebut, dan tindakan itu bersumber dari pengetahuan silek.

Seorang penonton dalam sesi diskusi karya bercerita bahwa ia sempat memejamkan mata agar lebih berkonsentrasi mendengarkan. Ketika penglihatan disisihkan, bunyi gesekan, hentakan, napas dan benturan tubuh terasa memiliki susunan tersendiri.

Jarak penonton dengan arena membuat pengalaman itu semakin kuat. Ketika tubuh terlempar hanya beberapa sentimeter dari mereka atau benturan keras tiba-tiba terdengar, penonton tidak sepenuhnya berada dalam posisi pengamat yang berjarak.

Kedekatan itulah yang membuat pertunjukan terasa immersive: jarak, suara, gerakan dan ketegangan tubuh ikut membentuk pengalaman penonton.

*Kembali ke Arena*
Pada bagian terakhir, tiba saatnya Da At berhadapan dengan Uncu.

Kali ini Da At membawa sebilah kuku alang, senjata tradisional berbentuk belati yang cukup besar dan mengilap di bawah cahaya lampu, sementara Uncu bertangan kosong.

Adegan itu kembali menghadirkan ketegangan silek. Tetapi setelah menyaksikan bagaimana gerakan tubuh menjadi sumber bunyi, perhatian penonton mungkin sudah berubah.

Yang terdengar bukan sekadar suara dari sebuah pertarungan. Ada langkah, napas, gesekan kain, benturan, jeda, respons dan perubahan tenaga. Semuanya lahir dari tindakan tubuh yang sejak awal ditempatkan sebagai bagian dari sistem komposisi.

Langkah, napas, gesekan kain, benturan dan jeda yang terdengar di arena malam itu tidak lagi sekadar menyertai gerakan silek sebagai bagian dari tradisi leluhur yang diwariskan melalui tubuh. Semuanya menjadi bagian dari cara lain membaca tubuh, sekaligus mendengarkan musik.

========================

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Gebyar Pentas Seni HAB ke-80 Penyuluh Agama Kemenag Asahan
Wakil Bupati Asahan Saksikan Penampilan Seni Budaya Etnis Simalungun di PSBD ke-6
Wartawan Senior Babel Tewas Penuh Luka Sayatan
Forum Pimred Multimedia Indonesia Rayakan HUT ke-2, Tampilkan Kesenian Debus
Buka Pesta Seni Medan 2025, Rico Waas Jamin Akan Menjunjung Tinggi Kesenian dan Kebudayaan
Seniman Medan Siap Meriahkan Pesta Seni 1–5 Juli 2025, Dapat Dukungan Penuh dari Wali Kota Rico Waas
komentar
beritaTerbaru