Kamis, 05 Maret 2026

Tantangan Edukasi BEI Sumut di Skala Kabupaten, Saat Saham Berbenturan dengan Tradisi dan Mindset Investasi

Administrator - Rabu, 04 Maret 2026 22:45 WIB
Tantangan Edukasi BEI Sumut di Skala Kabupaten, Saat Saham Berbenturan dengan Tradisi dan Mindset Investasi
Kepala Kantor Perwakilan BEI Sumut, M. Pintor Nasution dalam jumpa pers Rabu, 4 Maret 2026 di Medan. (Foto.ist)

sumut24.co - Medan

Baca Juga:


Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Utara terus melakukan edukasi untuk menjangkau masyarakat diluar Kota Medan yaitu di 33 kabupaten kota di provinsi Sumatera Utara. Saat ini Kota Medan menduduki peringkat pertama pada perputaran pasar modal yang mendominasi lebih dari 50 persen total investor di Sumut. Peringkat kedua diduduki Kabupaten Deliserdang, selanjutnya Simalungun, lalu diikuti oleh daerah-daerah berskala kabupaten dan kota besar lainnya.


Mengingat konsentrasi investor yang masih didominasi wilayah perkotaan, BEI Sumut menerapkan strategi "jemput bola" ke berbagai kabupaten guna meningkatkan literasi pasar modal.


Kepala Kantor Perwakilan BEI Sumut, M. Pintor Nasution dalam jumpa pers Rabu, 4 Maret 2026 di Medan menjelaskan pentingnya mendatangi daerah yang memiliki indeks literasi rendah namun memiliki potensi ekonomi tinggi. BEI Sumut tercatat telah melakukan kunjungan edukasi saham hingga ke daerah Kepulauan Nias, Tapanuli Selatan, hingga kawasan pesisir seperti Tanjungbalai.


Edukasi tidak hanya menyasar mahasiswa, tetapi juga ASN, pelaku UMKM, petani, dan ibu rumah tangga yang seringkali menjadi target utama penipuan investasi.


Pintor menjelaskan proses sosialisasi banyak menjumpai tantangan. Berbagai permasalahan sering terjadi salah satunya sosialisasi saham berbasis syariah. BEI telah melakukannya di daerah pesisir seperti Kabupaten Langkat dan Tapanuli Selatan. Tak segan Pintor wajib menyisipkan fatwa dalam sosialisasi dengan tujuan bukan sekadar membaca teks, tapi membangun kepercayaan akan saham dengan harapan agar mudah diterima oleh masyarakat awam di daerah.


Selanjutnya terdapat kendala kultural masyarakat yaitu sugesti "Pegang Fisik". Masyarakat di daerah Sumut cenderung memiliki kedekatan emosional dengan aset yang terlihat secara fisik. Emas dan tanah sebagai standar pemikiran, seperti memiliki kebun sawit, tanah, atau simpanan emas fisik dianggap jauh lebih aman daripada angka-angka di aplikasi (aset digital).


Permasalahan lain adalah kurangnya melibatkan tokoh lokal. Sosialisasi seringkali hanya menyentuh kalangan akademisi atau ASN. Padahal, untuk menjangkau masyarakat, peran tokoh masyarakat, pemuka agama, dan ketua adat sangat penting sebagai penjamin informasi. Atau dengan kata lain pendekatan personal dan pembuktian testimoni dari tokoh lokal biasanya jauh lebih efektif daripada sekadar seminar formal.


Pintor menambahkan, hingga saat ini kami dari Bursa Efek Indonesia terus tiada henti melakukan program sosialisasi ke pelosok daerah Sumatera Utara. Walaupun tidak gampang untuk menghapus permasalahan yang kerap terjadi tapi BEI optimis langkah-langkah edukasi langsung menyentuh masyarakat akan berbuah positif. Hal tersebut dibuktikan dari terus meningkatnya grafik jumlah pelaku bisnis saham selama tiga hingga lima tahun belakangan ini.


Berbagai program edukasi yang sudah dilakukan adalah seperti membuka Sekolah Pasar Modal (SPM), yang kini dibawa ke tingkat kabupaten. Dalam kegiatan ini, BEI bekerja sama dengan perusahaan sekuritas untuk langsung membantu masyarakat membuka rekening efek di tempat.


Selain itu BEI juga bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan roadshow seperti telah dilaksanakan pada daerah Binjai dan Tapanuli Selatan. Memberikan literasi online yang dapat diikuti oleh masyarakat dari pelosok Sumatera Utara.

Berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah, melalui pelatihan dan seminar yang diikuti oleh ASN Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumut sehingga mampu menjadikan literasi keuangan sebagai agenda prioritas.


Mengedukasi masyarakat Sumatera Utara tentang pasar modal bukan sekadar mengajarkan cara menekan tombol 'beli' atau 'jual' di aplikasi. Adalah perjuangan panjang untuk mengubah paradigma lama dari 'investasi fisik' menuju 'investasi nilai' yang lebih modern. Meski tantangan mindset dan tradisi masih membayangi, pertumbuhan signifikan investor di Sumut tetap menjanjikan. Dengan kolaborasi yang lebih erat antara BEI, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat, pasar modal tidak lagi hanya milik warga Medan, tetapi menjadi alat kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. (W04)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Pasar Modal Syariah Indonesia Cetak Rekor Pertumbuhan di 2025
Pasar Modal 2025 : Aktivitas Penerbitan Efek Meningkat, Kualitas Perusahaan Tercatat Semakin Solid
IHSG Anjlok Persen, Bursa Efek Indonesia Resmi Bekukan Sementara Perdagangan
Pasar Modal Syariah, Investasi Produktif, Bukan Ajang Spekulasi
Distribusi Data Akhir Sesi I BEI Dorong Likuiditas dan Efisiensi Perdagangan Pasar Modal
Gen Z Jadi Kekuatan Baru di Pasar Modal Indonesia
komentar
beritaTerbaru