Keluarga Besar PBB PAC Percut Seituan Akan Mengelar Perayaan Natal
Medan sumut24.co Dalam rangka memperingati kelahiran Yesus Kristus, Keluarga Besar Pemuda Batak Bersatu Pimpinan Anak Cabang (PBB PAC) Kec
News
Baca Juga:
Madina | Sumut24.co
Suasana Kota Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, berubah semarak pada Minggu (16/8/2026). Ribuan warga memadati ruas jalan protokol untuk menyaksikan Karnaval Budaya dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.
Kegiatan yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madina itu melibatkan ratusan peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar tingkat PAUD, SD, SMP, hingga SMA, kelompok masyarakat, organisasi, hingga jajaran instansi pemerintah ikut ambil bagian dalam parade budaya tersebut.
Kemeriahan semakin terasa dengan hadirnya puluhan kelompok marching band dan drum band. Mereka mengiringi barisan peserta sepanjang rute yang dimulai dari kawasan Pasar Hilir hingga Bank Sumut di Panyabungan.
Sejak pagi, masyarakat telah berdatangan dan memenuhi sisi jalan. Antusiasme warga terlihat dari banyaknya penonton yang bertahan untuk menyaksikan beragam atraksi, kostum, serta kreativitas peserta.
Panggung kehormatan menjadi salah satu pusat perhatian dalam kegiatan tersebut. Bupati Madina H. Saipullah Nasution bersama Ketua TP PKK Madina Ny. Yupri Astuti Saipullah Nasution tampil mengenakan pakaian adat Mandailing.
Keduanya mengenakan busana adat lengkap dengan Ampu dan Bulang, yang menjadi bagian penting dari identitas budaya Mandailing.
Sementara itu, Wakil Bupati Madina Atika Azmi Utammi Nasution tampil berbeda dengan mengenakan Daro Baro, pakaian adat perempuan Aceh.
Penampilan para pimpinan daerah tersebut sekaligus memperlihatkan pesan bahwa perayaan kemerdekaan tidak hanya menjadi momentum mengenang perjuangan bangsa, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan dan menjaga keberagaman budaya.
Tidak hanya Bupati dan Wakil Bupati, unsur Forkopimda serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) juga tampil menggunakan beragam pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.
Kreativitas peserta menjadi daya tarik tersendiri dalam karnaval tersebut. Setiap kelompok berusaha menghadirkan penampilan yang berbeda untuk menarik perhatian dewan juri sekaligus menghibur masyarakat.
Salah satu penampilan yang cukup mencuri perhatian datang dari siswa SDN 083 Pidoli.
Berbeda dari peserta lain yang tampil dengan kostum penuh warna, para siswa tersebut justru menggunakan pakaian hitam putih. Namun, kesederhanaan itu dibalut dengan pesan sejarah yang kuat.
Mereka berjalan dalam barisan dengan membawa peti jenazah yang dihiasi foto para pahlawan di bagian ujungnya.
Aksi tersebut menggambarkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak diperoleh secara cuma-cuma. Di balik kemerdekaan yang dinikmati generasi saat ini terdapat pengorbanan para pejuang yang mempertaruhkan tenaga, harta, bahkan nyawa.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif.
Kreativitas berbeda ditampilkan jajaran Dinas Pertanian Madina. Barisan mereka membawa identitas serai wangi, salah satu komoditas yang tengah dikembangkan pemerintah daerah sebagai bagian dari upaya mendorong peningkatan perekonomian masyarakat, khususnya petani.
Pemilihan serai wangi sebagai tema karnaval bukan sekadar ornamen. Penampilan tersebut sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan potensi pertanian daerah kepada masyarakat luas.
Karnaval akhirnya tidak hanya menjadi ajang mempertontonkan pakaian adat dan kesenian, tetapi juga menjadi ruang promosi berbagai potensi lokal yang dimiliki Madina.
Nuansa nostalgia juga hadir dalam parade tersebut. Salah satu kelompok masyarakat tampil menggunakan busana khas era 1980-an.
Kostum bergaya jadul itu menghadirkan suasana berbeda di tengah dominasi pakaian adat Nusantara. Penampilan tersebut seolah mengingatkan bahwa setiap generasi memiliki tren dan gaya masing-masing.
Menariknya, berbagai gaya lama kini kembali populer dan bahkan menjadi inspirasi dalam dunia fashion. Hal itu membuat penampilan peserta bernuansa 1980-an mampu mencuri perhatian masyarakat.
Meski tampil dengan konsep yang beragam, mayoritas barisan tetap mengedepankan kekayaan budaya Indonesia melalui pakaian adat dari berbagai daerah.
Di balik kemeriahan parade, kegiatan tersebut juga memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Momen berkumpulnya ribuan warga dimanfaatkan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan penjualan. Pedagang makanan, minuman, hingga berbagai produk lokal ikut merasakan ramainya aktivitas masyarakat di sekitar lokasi acara.
Dampak ekonomi juga dirasakan pelaku ekonomi kreatif. Jasa makeup artist (MUA), penyedia pakaian adat, penyewaan kostum, fotografer, hingga sejumlah usaha pendukung lainnya mendapatkan peluang dari tingginya kebutuhan peserta selama rangkaian kegiatan.zal
Medan sumut24.co Dalam rangka memperingati kelahiran Yesus Kristus, Keluarga Besar Pemuda Batak Bersatu Pimpinan Anak Cabang (PBB PAC) Kec
News
Wabup dan Ketua DPRD Hadiri Nobar G30S/PKI di Madina, Pesan Persatuan Menggema di Panyabungan
News
Pesan Tegas Wakapolres Tapsel di Hari Kesaktian Pancasila Hidupkan Nilai Persatuan
News
Unik! Upacara Kenaikan Pangkat Yonif 123/Rajawali Digelar di Atas KRI 522/Youtefa
News
Lima Ranperda Disepakati, Wali Kota Letnan Dalimunthe Ini Motivasi Bangun Padangsidimpuan
News
Ada Kejanggalan? Tokoh Masyarakat Minta Polisi Dalami Kematian Siswa SD di Bukit Malintang, Madina
News
Jaga Pancasila! MPC PP Padangsidimpuan Satu Komando dengan MPW, Hadiri Renungan Suci G30S di Kampung Kolam
News
Medan sumut24.co Budi H Sormin Ketua Dewan Pimpinan Cabang Aliansi Wartawan Indonesia (DPC AWI) Kota Medan menyampaikan ucapan selamat d
News
Pulih PascaBanjir, Kelompok Tani Pertamina EP Rantau Panen Cabai Bersama Wakil Bupati Aceh Tamiang
News
sumut24.co MedanGaleri Mustika Deli yang berlokasi di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Medan membuktikan keunggulannya sebagai pusat kriya
kota