Melawan Lupa: Ketika Sang Jenderal Besar Pernah Disingkirkan dari Panggung Kekuasaan
Melawan Lupa Ketika Sang Jenderal Besar Pernah Disingkirkan dari Panggung Kekuasaan
News
Baca Juga:
- Satres Narkoba Polres Asahan Musnahkan Bukti Narkotika 4,8 Kg Sabu & 268 Butir Ekstasi, Dinilai Selamatkan Ribuan Jiwa
- Kejari Asahan Musnahkan Barang Bukti 120 Perkara, Langkah Tegas Penegakan Hukum Sesuai Aturan Berlaku
- Implementasi Perpres Pengadaan Barang dan Jasa Di Sosialisasikan Pemko Tanjungbalai
Oleh: H Syahrir Nasution
Ada pertanyaan yang menggugah hati nurani kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi moral dan adab: "Mengapa barang busuk harus kita tanggung?"
Sebuah kalimat sederhana, tapi mengandung makna yang dalam — sekaligus sindiran keras terhadap akal sehat yang sedang diuji di negeri ini.
Sejak nenek moyang kita, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa bermartabat. Kita diajarkan untuk hidup dengan nilai-nilai kejujuran, harga diri, dan tanggung jawab yang berlandaskan nurani. Kita boleh tidak punya banyak harta, tapi kita punya harga diri yang tak bisa dibeli dengan apapun. Maka menjadi aneh — bahkan menyayat hati — ketika rakyat dipaksa memikul beban atas sesuatu yang bukan kesalahannya, apalagi untuk menanggung "barang busuk" yang jelas-jelas bukan hasil dari kerja keras rakyat.
Lebih menyakitkan lagi ketika barang yang rusak, cacat, bahkan tak layak pakai — disebut "barang rongsok" — justru dibebankan pembayarannya kepada masyarakat. Seolah-olah rakyat harus ikut bertanggung jawab atas kesalahan pihak lain. Ini bukan hanya persoalan ekonomi atau kebijakan, tapi persoalan nurani dan logika sehat.
Bagaimana mungkin kita harus bangga produk Cina jika yang datang justru barang gagal, yang kualitasnya tidak memenuhi standar, dan pada akhirnya justru menambah beban bangsa sendiri? Kebanggaan tidak bisa dipaksakan, apalagi jika di atas penderitaan rakyat.
Karena sesungguhnya, manusia hanya berharga jika ia mampu menghargai harga dirinya sendiri.
Bangsa yang membiarkan diri menanggung kesalahan orang lain tanpa suara, bangsa yang mau "menyelamatkan muka" pihak yang berbuat curang, adalah bangsa yang sedang menurunkan martabatnya sendiri.
Tidak masuk akal — bahkan melawan logika moral — jika kita dengan sadar menjatuhkan diri ke lumpur kehinaan demi menutupi kebusukan orang lain.
Tanggung jawab tidak bisa diwariskan kepada yang tak bersalah.
Maka, marilah kita kembali pada nilai yang paling dasar: kejujuran dan harga diri.
Jangan biarkan bangsa ini menjadi penanggung "barang busuk" — baik dalam arti harfiah maupun moral. Sebab bangsa yang bermoral tinggi, tak akan pernah rela menanggung beban dosa yang bukan miliknya.****
Melawan Lupa Ketika Sang Jenderal Besar Pernah Disingkirkan dari Panggung Kekuasaan
News
MAS TPI Medan Plus Keterampilan Cetak Siswa Siap Kerja dan Berkarakter
News
Gubernur Bobby Apresiasi Kafilah Sumut Tembus Lima Besar MTQ Nasional
News
sumut24.co PAKPAK BHARAT, Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat menggelar Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila hari ini (01/10). Pering
News
Kepala MAS TPI Medan Zainal Arifin PKL Bukan Sekadar Praktik, Tapi Wadah Mengamalkan Ilmu di Masyarakat
News
Nobar Film G30S/PKI, Lom Lom Suwondo Ajak Masyarakat Jadikan Sejarah sebagai Pelajaran
News
Hari Kesaktian Pancasila, TPI Medan Tegaskan Komitmen Cetak Generasi Berkarakter dan Mandiri
News
DPR RI Setujui Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri, CEO Sumut24 Group Sampaikan Ucapan Selamat
News
TPI Medan Gembleng Mental Siswa Lewat Perkemahan di Sibolangit
News
Profil Komjen Suyudi Ario Seto, Calon Tunggal Kapolri yang Diusulkan Prabowo
News