Selasa, 07 Juli 2026

Musikal Senja Teduh Pelita Resmi Dipentaskan, Hadirkan Petualangan Emosional Tentang Harapan, Keluarga, dan Masa Depan Bumi

Administrator - Selasa, 07 Juli 2026 19:01 WIB
Musikal Senja Teduh Pelita Resmi Dipentaskan, Hadirkan Petualangan Emosional Tentang Harapan, Keluarga, dan Masa Depan Bumi
Musikal Senja Teduh Pelita resmi memulai rangkaian pertunjukannya di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 3 hingga 12 Juli 2026. Dipersembahkan oleh Indonesia Kaya dan Jakarta Movin berkolaborasi dengan MALIQ & D’Essentials,
Jakarta,- Musikal Senja Teduh Pelita resmi memulai rangkaian pertunjukannya di Graha
Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 3 hingga 12 Juli 2026. Dipersembahkan oleh
Indonesia Kaya dan Jakarta Movin berkolaborasi dengan MALIQ & D'Essentials, musikal orisinal ini
menghadirkan kisah science fiction tentang sekelompok anak yang berusaha membangun kembali
dunia setelah peradaban runtuh, sekaligus mengajak penonton merefleksikan hubungan manusia
dengan alam dan masa depan.
Billy Gamaliel, Program Manager Indonesia Kaya mengatakan, "Kami percaya seni pertunjukan
memiliki kekuatan untuk menghubungkan generasi sekaligus mengajak masyarakat berefleksi.
Melalui Musikal Senja Teduh Pelita ini, kami ingin terus mendukung lahirnya karya-karya berkualitas
dan memberi ruang berkembang bagi talenta muda, yang memperkuat ekosistem seni pertunjukan
Indonesia."
Musikal Senja Teduh Pelita membawa penonton ke masa depan ketika dunia porak-poranda akibat
perubahan iklim, pengelolaan energi dan pembangunan yang tidak berkelanjutan, pandemi, serta
peperangan antarbangsa. Populasi manusia menurun drastis, tanah subur dan air bersih menjadi
langka, hingga suatu hari seluruh orang dewasa menghilang dan meninggalkan sembilan anak
menghadapi dunia yang telah mereka wariskan.
Di tengah situasi tersebut, seorang anak bernama Arah, yang diperankan secara bergantian oleh Alf
Elijah Sigarlaki dan Daria Lakshmi Algamar, membentuk Pasukan Pelita, sekelompok anak dengan
kemampuan yang saling melengkapi untuk bertahan hidup sekaligus mencari orang tua mereka yang
menghilang. Bersama Kala (Xandrea Tabythaputri dan Clioichi Junio Eigo), ahli sejarah dunia; Volta
(Sahlendra Syarief), ahli listrik dan mekanika; Langit (Mavisha Reakana), pembaca bintang; Hara
(Emily Olivia), ahli tumbuh-tumbuhan; Palu (Nayaka Maleakhi), ahli membangun; Raga (Nadindra
Gynta), pemanjat andal; Binbin (J. Rizhan), yang memahami bahasa hewan; serta Lagu (Annabella
Farizky), yang memiliki kepekaan terhadap musik dan suara, mereka memulai perjalanan mencari
harapan baru di tengah dunia yang nyaris kehilangan segalanya.
Dalam perjalanan tersebut, mereka menemukan sebuah teluk yang masih utuh dan belum tersentuh
kerusakan, yang kemudian mereka beri nama Teluk Pelita. Di tempat itu mereka dihadapkan pada
pilihan yang jauh lebih besar, melanjutkan pencarian orang-orang yang mereka cintai atau
membangun kehidupan baru di Teluk Pelita. Perlahan mereka menyadari bahwa ancaman terbesar
bagi masa depan bukan hanya dunia yang telah rusak, tetapi juga keserakahan yang dapat tumbuh di
dalam diri manusia.
Nuya Susantono, Produser sekaligus Sutradara Musikal Senja Teduh Pelita menyampaikan, "Kisah
yang terjadi di Musikal Senja Teduh Pelita adalah sebuah universe yang lahir dari inspirasi atas
kejeniusan bunyi dan aksara khas MALIQ & D'Essentials yang indah, dekat, dan penuh refleksi atas

Baca Juga:

hidup yang kita jalani. Bahwa di dalam diri kita ada cinta besarnya Arah yang akan melakukan
apapun untuk orang yang disayanginya. Dalam diri kita pula ada Kala, yang berani berpikir kritis akan
apa itu benar dan salah. Dan kita semua adalah Pasukan Pelita yang terus bertahan dan berjuang
merawat kehidupan."
Sekitar 20 lagu MALIQ & D'Essentials, termasuk Senja Teduh Pelita, Himalaya, Aurora, Jalan Pulang,
hingga lagu dari album baru Begini Begitu, diinterpretasikan menjadi bagian dari perjalanan
emosional para tokohnya.
Angga Puradiredja, mewakili MALIQ & D'Essentials, mengungkapkan, "Hari ini, lewat Musikal Senja
Teduh Pelita, lagu-lagu kami menemukan rumah baru. Mereka tidak lagi hanya hadir untuk didengar,
tapi juga untuk dilihat, dirasakan, dan dihidupkan dalam sebuah dunia yang baru. Mungkin memang
begitulah seharusnya karya hidup. Ia tidak berhenti di bentuk pertamanya. Semoga pertunjukan ini
menjadi ruang yang hangat untuk bertemu kembali dengan lagu-lagu yang mungkin sudah kita kenal,
melalui pengalaman yang berbeda. Dan semoga, setelah pertunjukan ini selesai, lagu-lagu itu pulang
bersama kalian dengan cara dan rasa yang baru."
Keunikan lain dari pertunjukan ini hadir melalui tokoh utama Arah, yang diperankan dalam dua
interpretasi berbeda, yaitu versi laki-laki dan perempuan. Keduanya menjalani perjalanan cerita yang
sama, namun menghadirkan pengalaman emosional yang berbeda bagi penonton.
Alf Elijah Sigarlaki, pemeran Arah versi laki-laki mengatakan, "Arah mengajarkan saya bahwa
menjadi pemimpin bukan berarti selalu memiliki jawaban. Yang terpenting adalah tetap membawa
harapan ketika semua orang kehilangan arah."
Sementara itu, Daria Lakshmi Algamar, pemeran Arah versi perempuan menambahkan, "Bagi saya,
Arah mengajarkan bahwa harapan dan kasih sayang adalah kekuatan yang membuat kita terus
melangkah. Saya berharap setiap penonton bisa menemukan dirinya sendiri dalam perjalanan Arah."
Musikal Senja Teduh Pelita melibatkan 32 pemeran, di mana 11 di antaranya adalah anak-anak,
serta 200 insan kreatif yang bersama-sama membangun pengalaman teater musikal yang imersif.
Pertunjukan ini memadukan tata panggung, multimedia, tata cahaya, tata kostum, koreografi, dan
tata musik yang dirancang untuk menghidupkan dunia Pasukan Pelita di atas panggung. Seluruh
musik dalam pertunjukan diaransemen dan dibawakan secara langsung oleh Wishnu Dewanta
Orchestra, dengan pendekatan musikal yang disesuaikan untuk mendukung karakter, alur cerita, dan
dinamika para tokoh anak di atas panggung.
Dari sisi visual, pertunjukan ini mengeksplorasi penggunaan projection mapping, permainan laser,
serta set panggung modular yang dapat berubah dan bertransformasi mengikuti perpindahan ruang
dan perjalanan cerita. Dunia Musikal Senja Teduh Pelita juga dihidupkan melalui teknik puppetry
yang menghadirkan berbagai satwa eksotis Indonesia seperti rusa, burung camar, dan elang,
sementara adegan laut divisualisasikan lewat laser, efek visual, dan koreografi ensemble yang
membentuk ikan-ikan serta kunang-kunang.

Sejalan dengan pesan yang diangkat dalam pertunjukan, Musikal Senja Teduh Pelita juga mengajak
penonton untuk mengambil langkah nyata dalam menjaga bumi melalui kolaborasi dengan Remind
Indonesia, pengelola sampah elektronik. Selama periode pertunjukan, penonton dapat membawa
sampah elektronik seperti handphone, headset, kabel, dan perangkat elektronik kecil lainnya untuk
didaur ulang secara bertanggung jawab.
Menutup keterangannya, Nuya Susantono mengatakan, "Kami berharap setiap orang pulang dari
pertunjukan ini dengan satu pertanyaan sederhana: dunia seperti apa yang ingin kita wariskan
kepada generasi masa depan? Semoga karya ini tidak hanya menghibur, tapi juga menggerakkan
hati dan pikiran kita ke arah yang luhur."
Musikal Senja Teduh Pelita masih dapat disaksikan hingga 12 Juli 2026 di Graha Bhakti Budaya,
Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tiket pertunjukan masih tersedia dan dapat diperoleh melalui
website maupun aplikasi tiket.com.
Pementasan ini juga terselenggara berkat dukungan Light+ by Wardah, myBCA, Simpati, Sarinah,
MilkLife, dan Argo Visual. Apresiasi turut disampaikan kepada seluruh media partner OPPAL,
Localfest, Cretivox, Pop Asia, Place To Go Concert, Info Panggung, Info Ordal, Volix, The Maple, IDN
Times, Popbela, Popmama, Female Radio, dan Prambors yang telah mendukung penyebarluasan
informasi mengenai Musikal Senja Teduh Pelita kepada masyarakat.rel

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru