Kamis, 15 Oktober 2026

Rp20 Miliar Disebut Telan Dana, Stadion Sangnaualuh Kembali Disuntik Rp7,39 Miliar: Manson Purba Desak APH Usut Dugaan Korupsi

Administrator - Kamis, 15 Oktober 2026 09:29 WIB
Rp20 Miliar Disebut Telan Dana, Stadion Sangnaualuh Kembali Disuntik Rp7,39 Miliar: Manson Purba Desak APH Usut Dugaan Korupsi
Baca Juga:

PEMATANGSIANTAR | SUMUT24.co

Proyek pembangunan Stadion Sepak Bola Sangnaualuh di Jalan Stadion, Kecamatan Siantar Utara, Kota Pematangsiantar, kembali menjadi sorotan tajam. Setelah sebelumnya disebut-sebut menghabiskan anggaran sekitar Rp20 miliar secara bertahap pada 2017, 2018, 2019, dan 2021, kondisi stadion justru memprihatinkan. Kini, pemerintah kembali mengalokasikan anggaran Rp7.399.800.000 dari APBD Tahun Anggaran 2026 untuk pembangunan stadion tersebut.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai efektivitas penggunaan uang rakyat, pengawasan proyek, serta pertanggungjawaban atas pembangunan sebelumnya yang dinilai gagal memberikan hasil sesuai harapan masyarakat.

Bagaimana mungkin proyek yang telah menelan anggaran puluhan miliar rupiah belum mampu menghadirkan fasilitas olahraga yang layak, sementara pemerintah kembali menggelontorkan miliaran rupiah untuk pembangunan berikutnya?

Pantauan awak media di Stadion Sangnaualuh, Rabu (14/10/2026), menunjukkan material bangunan telah ditumpuk di area lapangan. Namun, saat kunjungan dilakukan, tidak terlihat aktivitas pekerja di lokasi.

Pada papan proyek tercantum pelaksana pekerjaan CV Athaila Sinergi, beralamat di Jalan Serumpun No. 59, Kelurahan Sudirejo I, Kecamatan Medan Kota, Medan. Proyek tersebut memiliki pagu anggaran sebesar Rp7,399 miliar dengan masa pengerjaan 120 hari.

Rp20 Miliar Dipertanyakan, Mengapa Stadion Masih Memprihatinkan?

Riwayat pembangunan Stadion Sangnaualuh pada periode 2017–2021 menjadi persoalan yang perlu dijelaskan secara terbuka. Anggaran yang disebut telah mencapai sekitar Rp20 miliar itu semestinya dapat dipertanggungjawabkan melalui hasil pembangunan yang terukur, berkualitas, dan dapat dimanfaatkan masyarakat.

Namun, kondisi stadion yang terlihat rusak, ditumbuhi semak belukar, serta memiliki fasilitas tribun yang memprihatinkan justru memunculkan tanda tanya besar.

Warga mempertanyakan apakah seluruh pekerjaan pada proyek-proyek terdahulu telah dilaksanakan sesuai kontrak, apakah volume dan spesifikasi pekerjaan telah terpenuhi, serta bagaimana hasil pemeriksaan dan pertanggungjawaban anggarannya.

Persoalan ini tidak cukup dijawab dengan kembali mengalokasikan anggaran baru. Pemerintah Kota Pematangsiantar, khususnya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), perlu membuka penjelasan secara transparan mengenai hasil pembangunan sebelumnya, kerusakan yang terjadi, serta alasan proyek tersebut kembali membutuhkan dana miliaran rupiah.

Jika pembangunan terdahulu telah dibayar sesuai kontrak, publik berhak mengetahui hasil pekerjaan yang diterima pemerintah dan pihak yang bertanggung jawab atas kondisi stadion saat ini.

Manson Purba: Jangan Sampai Uang Rakyat Terbuang Lagi

Mantan pemain Persesi Pematangsiantar, Manson Halomoan Purba, SE (47), menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap kondisi stadion yang pernah menjadi bagian penting perjalanan sepak bolanya.

Manson mengaku pernah berlatih di stadion tersebut dan mengikuti kompetisi Piala Suratin pada 1995–1996. Karena itu, ia berharap pembangunan Stadion Sangnaualuh benar-benar menghasilkan fasilitas olahraga yang membanggakan masyarakat, bukan justru menjadi proyek yang terus menghabiskan anggaran tanpa hasil yang sepadan.

"Saya sangat bangga jika Stadion Sangnaualuh dibangun dengan baik. Tetapi, kalau melihat kondisi sekarang, saya sangsi pembangunan ini akan berhasil lagi," tegas Manson.

Ia mempertanyakan arah pembangunan yang kembali berfokus pada lapangan, sementara kondisi tribun penonton dan tembok keliling juga membutuhkan perhatian.

"Kalau hanya lapangannya yang dibangun, sementara tembok keliling dan tribun tidak dibenahi, apa manfaatnya secara menyeluruh? Uang yang digunakan ini uang rakyat. Jangan sampai miliaran rupiah kembali habis, tetapi stadion tetap tidak layak digunakan," ujarnya.

Manson menegaskan, apabila pelaksanaan proyek tersebut terbukti tidak jelas, bermasalah, atau menyimpang dari ketentuan, aparat penegak hukum (APH) harus segera turun tangan.

"Kalau memang pembangunan ini diduga menjadi ajang korupsi, lebih baik dihentikan daripada hanya menjadi pemberangusan uang negara. Tetapi, semuanya harus diperiksa dan dibuktikan. Saya meminta APH mengusut anggaran pembangunan sebelumnya dan memastikan uang rakyat benar-benar digunakan sesuai peruntukannya," katanya.

APH Diminta Telusuri Anggaran dan Hasil Pekerjaan

Sorotan terhadap Stadion Sangnaualuh tidak boleh berhenti pada kondisi fisik bangunan. Persoalan yang lebih mendasar adalah apakah anggaran yang telah dikeluarkan sebanding dengan hasil pekerjaan yang diterima pemerintah.

Aparat penegak hukum, termasuk kejaksaan dan kepolisian, didorong menelusuri rangkaian proyek pembangunan stadion sejak 2017 hingga 2021, kemudian membandingkannya dengan pekerjaan yang kembali dilaksanakan pada 2026.

Pemeriksaan dapat mencakup dokumen kontrak, pencairan anggaran, laporan kemajuan pekerjaan, volume dan spesifikasi teknis, hasil pemeriksaan, serta pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam setiap tahapan proyek.

Apabila ditemukan indikasi penyimpangan, proses hukum harus dilakukan berdasarkan bukti dan hasil pemeriksaan yang sah. Sebaliknya, jika pekerjaan telah sesuai ketentuan, pemerintah perlu menjelaskan secara terbuka penyebab kerusakan dan kebutuhan pembangunan lanjutan.

Masyarakat juga berhak mengetahui apakah alokasi Rp7,399 miliar pada 2026 mencakup pembangunan fasilitas yang memadai atau hanya sebagian pekerjaan yang belum menyelesaikan persoalan utama stadion.

Kadis PUPR Belum Memberikan Jawaban

Untuk memperoleh penjelasan mengenai dasar pengalokasian anggaran 2026, kondisi pekerjaan terdahulu, serta lingkup pekerjaan yang sedang dilaksanakan, awak media telah menghubungi Kepala Dinas PUPR Kota Pematangsiantar, Sofian Purba.

Namun, hingga berita ini disusun, yang bersangkutan belum memberikan jawaban.

Sikap diam tersebut membuat sejumlah pertanyaan publik belum terjawab. Padahal, keterbukaan informasi mengenai proyek bernilai miliaran rupiah merupakan bagian penting dari akuntabilitas penggunaan APBD.

Pemerintah Kota Pematangsiantar dan Dinas PUPR perlu memberikan penjelasan resmi agar masyarakat tidak terus dibayangi pertanyaan mengenai nasib Stadion Sangnaualuh.

Rp20 miliar disebut telah digelontorkan, kini Rp7,39 miliar kembali dialokasikan. Publik tidak membutuhkan sekadar janji pembangunan, melainkan hasil nyata, transparansi anggaran, dan pertanggungjawaban yang jelas. Jangan sampai Stadion Sangnaualuh terus menjadi simbol proyek berulang yang menguras uang rakyat tanpa memberikan manfaat maksimal bagi dunia olahraga Pematangsiantar.

(LP)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Publik Berhak Tahu! Proyek Infrastruktur Padangsidimpuan Gagal Tender, Transparansi Anggaran 2026 Dipertanyakan
Proyek Bahu Jalan Rp2,9 Miliar di Paya Gambar Disorot: Tanpa Plank, Tanah Urukan Diduga Diperjualbelikan, Warga Terancam ISPA
Mendapat Sorotan, Camat Medan Johor Himbau Material Proyek Drainase di Kuala Bekala Dirapikan
Proyek Bahu Jalan Paya Gambar Disorot: Debu Bertebaran, Tanpa Plank Proyek
Proyek Bahu Jalan di Paya Gambar Dikeluhkan Warga, Pengaturan Lalu Lintas Dipertanyakan
Baru Sehari Pengerjaan, Oknum Lurah Diduga Bagi Bagi Anggaran Proyek Drainase di Kuala Bekala Medan Johor
komentar
beritaTerbaru