Selasa, 13 Januari 2026

Mengenal Ungku Saliah, Ulama Pariaman yang Fotonya Banyak Terpajang di Warung Nasi Padang

Administrator - Selasa, 13 Januari 2026 14:10 WIB
Mengenal Ungku Saliah, Ulama Pariaman yang Fotonya Banyak Terpajang di Warung Nasi Padang
Istimewa

Padang Pariaman — Banyak masyarakat yang pernah singgah di warung nasi Padang atau kedai nasi ampera dan mendapati sebuah foto kakek bersorban terpajang di dinding. Tak sedikit pula yang bertanya-tanya, siapa sosok dalam foto tersebut.

Baca Juga:

Foto itu adalah Ungku Saliah, seorang ulama asal Pariaman yang dikenal sangat saleh dan oleh sebagian masyarakat dianggap memiliki karomah. Hingga kini, potret Ungku Saliah masih banyak dipajang di tempat usaha, terutama oleh masyarakat Minangkabau, baik sebagai bentuk penghormatan maupun karena keyakinan tertentu.

Sebutan "Ungku" berasal dari kata Tuanku, sebuah gelar yang diberikan kepada ulama yang telah menuntaskan pendidikan agama dan dianggap layak mengajarkan ilmu Islam. Sementara "Saliah" berasal dari kata Saleh, yang menjadi gelar pelengkap setelah seseorang dinobatkan sebagai Tuanku. Gelar Tuanku sendiri lazim digunakan di kalangan ulama tarekat, khususnya di wilayah Pariaman.

Asal-usul dan Masa Kecil

Ungku Saliah berasal dari Sungai Sariak, tepatnya di Lubuak Bareh, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman. Di daerah inilah ia dilahirkan, tumbuh, dan menghabiskan masa kecilnya sekaligus memulai perjalanan menuntut ilmu agama.

Ia diperkirakan lahir pada tahun 1887, meski tidak terdapat catatan pasti mengenai tanggal dan bulan kelahirannya. Ungku Saliah merupakan anak sulung dari pasangan Tulih dan Tuneh (Sikumbang), serta memiliki empat orang saudara. Nama kecilnya adalah Dawat atau Dawaik.

Menurut cerita yang berkembang secara turun-temurun, sejak kecil Dawaik telah menunjukkan keistimewaan. Salah satu kisah yang kerap diceritakan masyarakat adalah kemampuannya menanak nasi tanpa api, namun beras tersebut tetap matang.

Menimba Ilmu Agama

Pada usia sekitar 15 tahun, Dawaik mulai belajar ilmu agama kepada Syekh Muhammad Yatim Tuangku Mudiak Padang, seorang ulama penyebar Islam di Surau Kalampaian Ampalu Tinggi. Dari gurunya inilah ia kemudian memperoleh gelar Tuanku Saleh, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Ungku Saliah.

Ia juga sempat berguru kepada ulama besar lainnya, seperti Syekh Aluma Nan Tuo di Koto Tuo, Bukittinggi. Selanjutnya, ia memperdalam ilmu tarekat kepada Syekh Abdurrahman di Surau Bintungan Tinggi. Setelah menuntut ilmu di berbagai tempat, Ungku Saliah kembali menetap di Sungai Sariak untuk mengajarkan agama kepada masyarakat.

Wafat dan Foto yang Dikeramatkan

Ungku Saliah wafat di kediamannya di Sungai Sariak pada 3 Agustus 1974. Setelah wafatnya, sosok Ungku Saliah mulai dianggap keramat oleh sebagian pengikut dan masyarakat. Konon, anggapan tersebut berkembang di kalangan murid-murid Hamzah Alfansuri, salah satu tokoh Tarekat Syattariyah.

Hingga kini, sebagian masyarakat, khususnya yang berasal dari Pariaman, masih memandang Ungku Saliah sebagai ulama yang memiliki karomah. Tak jarang fotonya dipajang di warung atau tempat usaha. Ada yang meyakininya sebagai pelaris dagangan, namun banyak pula yang sekadar memajangnya sebagai bentuk penghormatan dan kekaguman terhadap keteladanan sang ulama.

Cerita-Cerita Karomah

Berbagai kisah tentang keistimewaan Ungku Saliah beredar luas di tengah masyarakat. Cerita-cerita tersebut disampaikan dari mulut ke mulut, mengingat minimnya catatan tertulis mengenai kehidupan beliau. Di antaranya adalah kemampuan berpindah tempat dalam waktu singkat, meramalkan kejadian tertentu, hingga doa-doanya yang diyakini mustajab.

Meski demikian, masyarakat diimbau untuk menempatkan sosok Ungku Saliah secara proporsional, sebagai ulama yang patut dihormati dan diteladani akhlaknya, tanpa berlebihan apalagi menjadikannya sebagai sarana mistik atau pelaris usaha.

Ungku Saliah tetap dikenang sebagai salah satu ulama besar Minangkabau yang berperan dalam pengembangan ajaran Islam, khususnya di wilayah Padang Pariaman, dengan warisan keteladanan yang masih hidup hingga kini.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru