Rabu, 12 Agustus 2026

Anak-Anak Bertahan di Atas Puing Bencana, Negara Datang Terlambat?

Administrator - Senin, 15 Desember 2025 11:19 WIB
Anak-Anak Bertahan di Atas Puing Bencana, Negara Datang Terlambat?
Istimewa
Baca Juga:

Aceh - Seorang anak kecil berjalan tertatih di atas batang kayu dan lumpur sisa bencana. Tubuhnya kotor, langkahnya ragu. Di sekelilingnya, rumah-rumah warga lenyap tersapu bencana alam. Ironisnya, di tengah kehancuran itu, sebuah masjid masih berdiri kokoh—seolah menjadi satu-satunya penopang harapan di tengah absennya perlindungan nyata dari negara.

Bencana ini kembali memperlihatkan pola lama yang terus berulang: alam rusak, rakyat jadi korban, dan penanganan datang setelah semuanya terlambat. Anak-anak, kelompok paling rentan, dipaksa menghadapi trauma tanpa jaminan pemulihan yang jelas. Mereka tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga rasa aman dan masa depan.

Hingga saat ini, warga terdampak mengeluhkan minimnya kehadiran negara dalam penanganan pascabencana. Distribusi bantuan dinilai lamban, pendataan korban tidak transparan, dan upaya mitigasi hampir tidak pernah dilakukan sebelum bencana terjadi. Padahal, kawasan ini disebut-sebut telah lama masuk zona rawan banjir dan longsor.

Bencana bukan semata musibah alam. Kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan, pembalakan liar, serta buruknya tata kelola wilayah menjadi faktor yang patut dipertanyakan. Namun, nyaris tidak ada pihak yang dimintai pertanggungjawaban atas kerusakan yang berujung petaka bagi warga.

Masjid yang tetap berdiri di tengah puing menjadi simbol ironi: iman rakyat lebih kokoh daripada sistem perlindungan negara. Ketika rumah hancur dan anak-anak melangkah di atas sisa kehidupan mereka, yang hadir justru solidaritas warga, bukan negara yang seharusnya paling bertanggung jawab.

Foto ini bukan sekadar dokumentasi bencana, melainkan cermin kegagalan kebijakan. Selama penanganan bencana masih bersifat reaktif dan bukan pencegahan, selama kerusakan lingkungan dibiarkan tanpa penegakan hukum, maka anak-anak akan terus menjadi saksi sekaligus korban dari kelalaian yang sama.

Bencana boleh disebut takdir, tetapi penderitaan yang berulang adalah akibat dari pembiaran.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Pimpin Apel Pemerintahan, Wali Kota Tanjungbalai Tekankan OPD Harus Bertanggung Jawab dan Kerja Maksimal
Perkuat Sinergi Pengamanan Objek Vital Nasional, PLN dan Polda Aceh Kolaborasi Dukung Keandalan Kelistrikan Serta Ketahanan Energi
Wujud Sinergi Dan Kolaborasi, BPN Aceh Serahkan 21 Sertipikat HGB PLTA Peusangan Kepada PLN
Sekda Mursid Ajak Masyarakat Rawat dan Lestarikan Pohon di Kawasan Lut Tawar
Eks Kombatan GAM Ramai Hijrah ke Partai Nasional
Ahli BPKP Akui Tak Pahami Bisnis Iklan Media, Kuasa Hukum Sebut Ada Indikasi Kriminalisasi
komentar
beritaTerbaru