Medan – Proyek revitalisasi Lapangan Merdeka Medan, yang digadang-gadang akan menjadi kebanggaan kota dengan anggaran fantastis hampir setengah triliun rupiah, kini berubah menjadi sorotan tajam dan memicu kemarahan publik. Meski diresmikan dengan gegap gempita pada 19 Februari 2025, kenyataannya hingga akhir Juni 2025, proyek ini masih jauh dari kata rampung, bahkan lebih mirip "Lapangan Genangan" daripada ruang publik modern.
Kondisi
lapangan yang becek, penuh material berserakan, dan genangan air di mana-mana, terutama di basement dua lantai yang seharusnya menjadi area parkir mutakhir, menjadi bukti nyata kegagalan perencanaan dan pelaksanaan. Basement tersebut kini tak ubahnya kolam tak berpenghuni akibat ketiadaan sistem pembuangan air. "Tak ada sistem pembuangan air. Tak ada aktivitas. Tapi uang sudah mengalir!" demikian keluhan warga.
Yang lebih memicu kemarahan, pekerja masih terlihat mondar-mandir di lokasi, mengerjakan proyek yang ironisnya sudah diklaim selesai. Ini memunculkan pertanyaan besar dari masyarakat:
* Apakah proyek ini sudah memiliki Sertifikat Laik Fungsi (SLF) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG)?
* Jika belum rampung, mengapa sudah diresmikan?
* Mengapa tidak ada sanksi atau denda bagi kontraktor atas keterlambatan dan kualitas proyek yang buruk?
Kemarahan netizen pun memuncak. "Rp 500 miliar itu uang kami! Jangan main-main!" tulis salah satu warga. Komentar lain menegaskan, "Kalau belum siap, jangan resmikan. Jangan jadikan rakyat tameng pencitraan."
Warga Medan kini menuntut transparansi penuh dan pertanggungjawaban atas megaproyek ini. Mereka mendesak pihak berwenang, termasuk KPK dan Kejaksaan Agung, untuk segera turun tangan mengusut tuntas dugaan pemborosan anggaran publik dan praktik yang tidak bertanggung jawab. Publik berharap agar kasus ini tidak menjadi preseden buruk bagi pembangunan infrastruktur di daerah lain.mhl
Baca Juga:
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News