Polda Sumut Gagalkan Penyelundupan 10 Kg Sabu di Perairan Kuala Bangka Labura.
Polda Sumut Gagalkan Penyelundupan 10 Kg Sabu di Perairan Kuala Bangka Labura.
kota
Baca Juga:
- Bupati Taufik Zainal Abidin Hadiri Wisuda Angkatan XXXVI Universitas Asahan, Lahirkan 613 Sarjana Unggul Penopang Pembangunan Daerah
- Kapolsek Perbaungan AKP Japri Simamora Hadiri Rakerda Ke 1 JMSI dan Pelantikan PC JMSI Serdang Bedagai dan Tebing Tinggi 2026 - 2031
- Pejabat Tinggi Sumut Dijadwalkan Hadiri Rakerda JMSI Sumut dan Pelantikan JMSI Sergai-Tebing Tinggi
Tiga kata yang hampir sama makna dan pengertiannya bagi orang awam ini—serakah, rakus, dan congok—ternyata justru disenangi perilakunya oleh sebagian kalangan, termasuk oleh seorang Gubernur yang telah diangkat secara terhormat oleh rakyat untuk mengelola sebuah provinsi.
Akhir-akhir ini, ketiga kata tersebut menjadi trending topic di pemberitaan media cetak maupun media sosial. Bahkan, menjadi sorotan masyarakat di mana pun berita itu muncul.
Lantas, berita apa gerangan itu?
Pertanyaan ini menjadi buah bibir, baik di kalangan masyarakat terdidik maupun masyarakat awam di pelosok desa.
Apa sebenarnya isi berita yang membuatnya begitu heboh dan ramai diperbincangkan?
Yakni tentang seorang pejabat publik sekelas gubernur yang memiliki karakter serakah, rakus, dan congok. Jika kita memakai istilah dari etnis Mandailing, sifat seperti ini disebut "Na Okok". Bahkan ada lagi istilah yang lebih keras dan menggambarkan keserakahan tingkat dewa: "Durung Lamot" (Durlam).
Secara harfiah, Durlam menggambarkan seseorang yang ingin meraup semua yang ada di muka bumi ini. Seperti kata orang desa: "Sapu Ranjau", atau dalam istilah masyarakat pesisir: "Sapu Jagat"—apa pun disapunya, tak tersisa!
Jika rakyat miskin yang berperilaku seperti ini, mungkin masih bisa kita maklumi. Tapi saat perilaku tersebut justru menjangkiti elite pejabat tinggi di tingkat provinsi—itu luar biasa aneh!
Kelakuan seperti ini lazimnya dilakukan oleh makhluk lain di luar manusia. Padahal, manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang paling sempurna, berakal sehat, dan beradab.
Inilah rupanya yang menjadi topik panas dalam beberapa hari terakhir, khususnya di jagat pemberitaan Nusantara. Terutama di Provinsi Sumatera Utara.
Namun berbeda dengan di Serambi Mekah, Provinsi Aceh. Di sana, berita seperti ini dianggap bad news—karena masyarakatnya sangat menjunjung tinggi harga diri. Jika harga diri sudah tidak dihargai, maka segalanya menjadi tak bernilai.
Bak kata orang-orang bijak:
> "Manusia hanya berharga, jika ia bisa menghargai harga dirinya."
* Wakil Ketua Himpunan Keluarga Besar Mandailing Sumut
Polda Sumut Gagalkan Penyelundupan 10 Kg Sabu di Perairan Kuala Bangka Labura.
kota
Aksi di Medan, Mahasiswa Jangan Hanya Eks Kadis PMD, Bupati Samosir Juga Harus Diusut
kota
DPW Tani Merdeka Aceh Yakin Sudaryono Mampu Perkuat Program MBG dan Sejahterakan Petani
kota
sumut24.co ASAHAN , Puluhan massa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Peduli Reformasi (GEMPPAR) Asahan menggelar aksi unjuk
News
sumut24.co TANJUNGBALAI , Pemerintah Kota Tanjungbalai bersama Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sumatera Utara (Kanwil Kemenkum Sumut) memp
News
Kadis Koperasi dan UKM Sumut 17.994 Koperasi Jadi Pilar Penguatan Ekonomi Rakyat, UMKM Tembus 1,4 Juta UnitMedan &ndash Kepala Dinas Koperasi,
kota
Bupati Saipullah Tegaskan Perpustakaan Jadi Senjata Utama Tingkatkan IPM Madina
kota
Pemkab Madina Siapkan Gedung Lama RSUD Panyabungan Jadi Sumber PAD, BRI hingga Pusat Rehabilitasi Masuk Rencana
kota
MAHAJAYA Jadi Wadah Persatuan Marga Harahap, Kapolres Padangsidimpuan AKBP Noval Nanusa Gegoh Desky Sambut Sinergitas Baru
kota
Nashya Balqish Efendvy Siregar Harumkan Nama Medan, Juara I Desain Poster FLS3N Sumut
kota