sumut24.co - Medan
Baca Juga:
Bencana alam tidak bisa diprediksi, kapan saja, dimana saja bisa terjadi. Kejadian memilukan tersebut telah melanda provinsi Sumatera Utara dan beberapa provinsi lain pada akhir November 2025 tahun lalu. Banjir bandang melanda memakan korban jiwa ribuan nyawa manusia melayang dan ribuan pemukiman penduduk habis dibawa air bah dalam sekejap mata.
Peristiwa sedih tersebut mungkin telah berlalu hampir setahun, tetapi kenangan dan dampak peristiwa masih terus membekas hingga hari ini.
Melalui tulisan ini saya ingin bercerita tentang pengalaman sebuah keluarga saat bencana tersebut terjadi. Peristiwa banjir bandang melanda Sumatera Utara dan salah satunya terjadi pada wilayah Kelurahan Sukadono, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan. Ketika nyawa hampir melayang, sebuah operator selular yaitu
Telkomsel telah menyelamatkan masyarakat seisi kampung dan nyawa seorang anak berusia 10 tahun.
Saat itu di bulan November 2025, pukul 21.00 WIB, hujan turun tak berhenti. Sudah berlangsung selama 12 jam dan belum ada tanda-tanda berkurang intensitasnya. Akibatnya luapan air semakin tinggi mengepung jalanan dan rumah penduduk. Suasana semakin mencekam ketika listrik padam secara massal menambah kepanikan masyarakat di wilayah tersebut.
Saat ilistrik baru padam, seluruh jaringan operator selular masih masih berfungsi dengan baik. Tapi ketika sekitar 30 menit hingga satu jam praktis seluruh operator selular putus sinyal kecuali operator selular
Telkomsel yang tetap menyala.
Masyarakat semakin panik ketika hujan semakin deras dan dalam hitungan jam air banjir sudah mencapai setinggi pinggang. Jam sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB. Salah satu penduduk berinisial Simbolon (red*) yang tinggal di wilayah tersebut akhirnya memutuskan naik keatas atap mobil bersama istri dan kedua anaknya. Situasi semakin menyedihkan karena salah satu anaknya yang saat itu dalam kondisi demam tinggi harus ikut mengungsi naik ke atap mobil guna menyelamatkan diri.
Simbolon yang saat itu memakai telepon genggam dengan sim card beberapa operator selular akhirnya hanya mengandalkan
Telkomsel secara berulang-ulang menghubungi instansi pemerintah dan aparat kepolisian guna memohon bantuan agar dievakuasi.
"Tolong pak, evakuasi kami. Anak saya demam tinggi. Kami sudah naik keatas atap mobil", jeritnya ketika berhasil berkomunikasi via telepon dengan petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sumut pukul 01.00 dini hari. "Mohon sabar pak, wilayah bapak belum bisa kami datangi, air sudah tinggi. Kami masih mengevakuasi wilayah lain, mohon telepon genggam terus diaktifkan, agar kita tidak putus komunikasi !", ujar BNPB.
Dengan mengandalkan dua buah powerbank dan sebuah lampu darurat yang redup, keluarga Simbolon bertahan menahan dinginnya hujan dan suasana gelap gulita sambil berangkulan. Simbolon terus tidak berhenti menghubungi siapa saja melalui telepon genggamnya untuk meminta pertolongan.
Para penduduk lainnya bernasib sama. Ada yang naik ke loteng rumah, ada yang mengungsi ke rumah tetangganya yang bertingkat untuk bertahan ditengah kepungan air banjir yang sudah setinggi dada.
Jam menunjukkan pukul 03.00 WIB dini hari, anak Simbolon yang sedang demam tinggi semakin tak berdaya dan tidak bergerak sama sekali. Sang ibu menjerit menangis meminta pertolongan melalui saluran telepon genggam. Tapi pihak kepolisian dan BNPB saat itu masih berkata sabar, kami akan menuju kesana. Kami lagi berjuang mengevakuasi di wilayah lain menggunakan perahu karet dan truk kepolisian. Karena cuma pakai armada itu yang bisa menembus tingginya banjir. Tapi jumlah armada kami sangat terbatas. Aktifkan terus telepon genggamnya bu, ujar BNPB.
Akhirnya sekitar pukul 04.00 WIB dini hari, bantuan pun tiba. Yang mana sebelumnya pihak BNPB menghubungi telepon genggam Simbolon ke nomor yang aktif yaitu
Telkomsel dan menyuruh standby untuk dijemput. Dengan menggunakan perahu karet, pihak BNPB berhasil mengevakuasi masyarakat di wilayah Kelurahan Sukadono secara bertahap. Diutamakan bagi lansia dan anak - anak. Ketika perahu karet tiba, istri Simbolon langsung melompat dari atas atap mobil naik ke perahu karet sambil memeluk putranya yang sudah kritis membiru. Sambil menjerit menangis dia berkata "Tolong selamatkan anak saya pak". Selanjutnya para pengungsi dibawa ke wilayah aman banjir yaitu beberapa masjid dan gereja. Si anak dan para lansia dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan kesehatan. Para penduduk seluruhnya berhasil dievakuasi ke wilayah aman dan tidak ada korban jiwa.
Banjir dan tanah longsor diketahui telah melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada akhir November 2025. Bencana alam banjir akibat Siklon Tropis Senyar ini mengakibatkan hancurnya seluruh pemukiman penduduk dan menelan korban jiwa lebih dari 1000 orang dan ratusan ribu jiwa mengungsi akibat kehilangan tempat tinggal.
Wilayah terdampak yaitu Aceh, terparah meliputi Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Selatan, dan Aceh Tenggara. Untuk Sumatera Utara meliputi Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Sibolga, Medan, Deli Serdang, dan Langkat. Dan untuk wilayah Sumatera Barat meliputi Kabupaten Agam, Padang Pariaman, hingga Kota Padang.
Dampak bencana tersebut juga menimpa seluruh fasilitas pelayanan masyarakat. Termasuk seluruh fasilitas operator seluler. Kondisi banjir bandang memutuskan aliran listrik massal dan memutus jalur kabel, melumpuhkan puluhan ribu perangkat pelanggan serta mengganggu layanan seluler selama berhari-hari. Kabel putus akibat arus banjir yang deras dan tanah longsor memutus jalur kabel backbone, feeder, hingga distribusi. Kerusakan perangkat penting seperti Mini OLT, Node-B, ONT pelanggan, dan BTS banyak yang offline atau terendam.
Hanya jaringan operator seluler
Telkomsel yang langsung gerak cepat mengerahkan tim gabungan mempercepat pemulihan daya cadangan dan menyambung kembali kabel yang putus. Walau tidak maksimal tapi disaat peristiwa mencekam itu terjadi, ternyata hanya jaringan
Telkomsel yang terbukti kokoh tegar menyala untuk berkomunikasi.
Ketika jaringan operator - operator seluler lain tidak mampu bertahan akibat pemadaman aliran listrik dalam jangka waktu yang lama,
Telkomsel tak berhenti terus berjuang melayani pelanggan walau saat itu hanya menggunakan baterai cadangan yang tersisa diberdayakan sedemikian rupa demi tetap bisa mengirimkan pesan darurat pelanggannya.
Dari pengalaman memilukan ini,
Telkomsel teruji andal menjadi penyelamat disaat kondisi lingkungan sangat memprihatinkan. Berkat bantuan
Telkomsel, warga berhasil mengirimkan koordinat lokasi bencana banjir untuk dievakuasi.
Sembari terus memperbaiki infrastruktur jaringan yang rusak akibat peristiwa bencana alam berskala nasional tersebut,
Telkomsel juga turut serta membantu masyarakat yang terdampak diantaranya memberikan bantuan logistik berupa makanan pokok, air bersih dan mendirikan dapur umum di lokasi pengungsian. Selain itu
Telkomsel juga menyediakan layanan kesehatan dengan membuka posko layanan kesehatan bagi warga terdampak. Menyediakan Paket Darurat berupa kuota khusus seharga Rp1 lewat kode *888*20# agar komunikasi warga tetap lancar. Jaringan tanpa putus Hotline 24 Jam dengan menyediakan nomor darurat 0800-111-9000 melalui layanan TelkomGroup dan berbagai bantuan lainnya.
Telkomsel telah memenuhi janjinya untuk senantiasa hadir melayani masyarakat sepenuh hati dan terus menjaga Indonesia. (Laura Silalahi)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News