Selasa, 08 September 2026

Ceo Sumut24 Group Anto Genk : Cigar, Dari Gaya Hidup Jadi Cara Membangun Networking

Administrator - Selasa, 08 September 2026 22:44 WIB
Ceo Sumut24 Group Anto Genk : Cigar, Dari Gaya Hidup Jadi Cara Membangun Networking
Anto Genk bersama Henry Manager Tembakau Deli.ist
MEDAN — Asap tipis mengepul perlahan dari ujung cerutu. Aroma khas memenuhi ruang, sementara obrolan mengalir tanpa terasa. Tak ada meja rapat, tak ada agenda resmi, namun dari suasana santai itu justru bisa lahir komunikasi yang lebih dekat.

Baca Juga:

Bagi sebagian orang, cigar atau cerutu memang identik dengan gaya hidup tertentu. Aroma, cita rasa, hingga proses menikmatinya yang membutuhkan waktu membuat sigar memiliki karakter berbeda dibandingkan rokok pada umumnya.


Namun, di balik itu, cigar ternyata juga bisa menjadi medium membangun komunikasi dan jejaring sosial.
Dalam pertemuan bisnis maupun pergaulan, misalnya, menikmati sigar bersama dapat menjadi pintu masuk sebuah percakapan. Pembahasan yang awalnya sekadar pekerjaan bisa berkembang ke pengalaman pribadi, keluarga, hobi hingga berbagai hal yang membuat seseorang lebih mengenal lawan bicaranya.


Di sinilah nilai sosial sebuah cigar muncul.
Bukan soal seberapa mahal cerutu yang dinikmati, melainkan waktu dan suasana yang tercipta ketika dua orang duduk bersama.


Percakapan yang berlangsung tanpa tekanan agenda formal sering kali membuat komunikasi menjadi lebih cair. Hubungan pun tidak lagi sebatas relasi pekerjaan, tetapi berkembang menjadi hubungan personal yang lebih dekat.


Fenomena tersebut juga mulai menjadi bagian dari pengalaman sejumlah kalangan di Sumatera Utara, termasuk komunitas jurnalis.


Salah satunya adalah Rianto, SH, MH, atau yang akrab disapa Anto Genk, CEO Sumut24 Group sekaligus Ketua JMSI Pengda Sumut.


Anto Genk mengenal dunia cigar sejak 2024. Perkenalan itu terjadi ketika dirinya diperkenalkan dengan sigar oleh Ketua Umum JMSI, Dr. Teguh Santosa, di sela kegiatan JMSI.


Menariknya, Anto mengaku bukan seorang perokok aktif. Ia pertama kali mencoba sigar lebih karena menghargai orang yang memperkenalkannya.

"Awalnya hanya menghargai ketua, karena saya tidak perokok aktif. Saya coba sigar itu meskipun tidak mendalami rasanya," kenang Anto Genk.


Seiring waktu, ketertarikannya terhadap sigar mulai tumbuh. Seorang teman yang merupakan tokoh penting di Sumatera Utara kemudian memperkenalkannya dengan berbagai jenis sigar.
Dari sana, Anto mulai mengenal karakter, aroma dan cita rasa beragam cerutu, termasuk cigar asal Kuba.


"Sejak itu saya pun kerap mencari cigar berkualitas, mulai dari sigar lokal hingga di luar Sumatera dan Indonesia," ujarnya.


Bagi Anto, menikmati sigar kemudian bukan sekadar persoalan cita rasa. Ada pengalaman sosial yang ikut menyertainya.


Duduk bersama sambil menikmati sigar membuka ruang percakapan yang berbeda. Tidak harus langsung membahas bisnis, pekerjaan atau kepentingan masing-masing.


Justru obrolan ringan sering menjadi pintu menuju pembicaraan yang lebih serius dan mendalam.
Sigar menjadi medium. Komunikasi tetap menjadi tujuan.


Networking Tanpa Sekat


Dalam dunia profesional, membangun jaringan atau networking tidak selalu harus dilakukan melalui pertemuan formal.


Hubungan yang kuat terkadang justru tumbuh dari percakapan sederhana, pertemuan berulang dan kesempatan untuk mengenal seseorang di luar urusan pekerjaan.


Bagi kalangan jurnalis, networking juga memiliki peran penting. Bukan hanya untuk memperoleh informasi, tetapi juga membangun akses komunikasi dengan narasumber, memahami karakter berbagai pihak serta membuka peluang kolaborasi.
Namun, kedekatan personal tetap tidak boleh menghilangkan profesionalisme.


Bagi seorang jurnalis, hubungan baik dengan narasumber harus tetap berjalan bersama independensi dan etika jurnalistik. Kedekatan tidak boleh berubah menjadi keberpihakan.

Dalam konteks itulah sigar dapat dipandang sebagai salah satu medium komunikasi sosial.
Ia tidak otomatis menciptakan hubungan. Manusialah yang menentukan bagaimana sebuah pertemuan berkembang menjadi komunikasi, kepercayaan dan jejaring.


Pada akhirnya, bukan asap cerutunya yang paling penting.Tetapi percakapan yang lahir di baliknya.red

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru