Sabtu, 05 September 2026

Teater, Pembangunan, dan Sikap Kritis

Administrator - Sabtu, 05 September 2026 21:49 WIB
Teater, Pembangunan, dan Sikap Kritis

MEDAN – Teater bukan sekadar panggung hiburan, apalagi hanya ruang rekreasi estetis belaka. Di tengah dinamika sosial yang terus berubah, seni pertunjukan semestinya mampu berdiri sebagai salah satu pilar kontrol sosial yang ikut mengawal arah pembangunan bangsa.

Baca Juga:

Pandangan tersebut disampaikan pegiat teater sekaligus penulis puisi Sumatra Utara, Khairuddin Ibrahim Harahap, saat ditemui di Medan, Sabtu (5/9).

Menurut Khairuddin, teater memiliki kekuatan inheren untuk menumbuhkan sikap kritis di tengah masyarakat. Panggung teater, katanya, dapat menjadi ruang dialog yang mempertemukan realitas kehidupan dengan kesadaran masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial.

Terlebih ketika pembangunan hanya diukur melalui angka pertumbuhan ekonomi, pembangunan fisik dan proyek infrastruktur, sementara dimensi kemanusiaan, kebudayaan dan keadilan sosial justru terpinggirkan.

Menggugat Pembangunan yang "Kehilangan Jiwa"

Khairuddin menilai pembangunan modern tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik semata. Jalan, gedung, jembatan dan berbagai infrastruktur memang penting, tetapi pembangunan yang sesungguhnya harus bermuara pada peningkatan kualitas hidup dan martabat manusia.

"Teater itu cermin yang jujur. Ketika pembangunan justru melahirkan ketimpangan, penggusuran, atau hilangnya ruang publik bagi seniman, teater wajib hadir menyuarakan kritik tersebut. Kita tidak boleh membiarkan pembangunan berjalan tanpa jiwa," ujar Khairuddin di sela-sela aktivitas sastranya.

Menurut dia, komunitas teater mempunyai posisi strategis untuk melakukan intervensi budaya. Kritik yang lahir dari panggung tidak harus selalu hadir dalam bentuk demonstrasi atau slogan politik. Ia dapat disampaikan melalui karakter, dialog, konflik dan simbol-simbol artistik yang membuat penonton berhadapan dengan kenyataan sosial secara lebih manusiawi.

Naskah yang berani dan penyutradaraan yang tajam, lanjutnya, dapat menjadi instrumen penyadaran masyarakat atau conscientization. Penonton tidak semestinya diposisikan sebagai objek pasif yang hanya datang untuk menikmati pertunjukan.

Sebaliknya, mereka harus diajak bertanya: Apa yang sedang terjadi di sekitar kita? Siapa yang diuntungkan dan siapa yang tertinggal? Ke mana pembangunan diarahkan? Dan yang paling penting, apakah pembangunan tersebut benar-benar menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat?

Seni yang Membangun Manusia

Sebagai sastrawan yang aktif menulis puisi, Khairuddin melihat adanya hubungan erat antara kedalaman rasa dalam puisi dengan daya dobrak teater.

Puisi mengasah kepekaan batin, sementara teater menghadirkan pengalaman sosial secara kolektif. Ketika keduanya bertemu, seni tidak hanya menjadi persoalan estetika, tetapi juga dapat menjadi medium untuk membangun empati, kepekaan sosial dan kecerdasan emosional.

Dalam konteks generasi muda, fungsi tersebut menjadi semakin penting. Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak, membaca realitas, berdialog dan mempertanyakan berbagai persoalan secara kritis.

Bagi Khairuddin, inilah esensi tertinggi konsep Theater for Development atau teater untuk pembangunan. Pembangunan tidak hanya menciptakan kota yang lebih modern, tetapi juga manusia yang lebih beradab, kritis dan humanis.

"Manusia-manusia berkarakter inilah yang nantinya akan menjadi penggerak utama pembangunan nasional yang berkeadilan," katanya.

Kritik sebagai Bentuk Cinta

Khairuddin menegaskan, sikap kritis teater terhadap pembangunan tidak boleh dipahami sebagai sikap anti-kemajuan.

Justru sebaliknya, kritik merupakan bentuk kecintaan terhadap bangsa. Ketika seniman mempertanyakan sebuah kebijakan, menampilkan ketimpangan atau mengangkat suara kelompok yang terpinggirkan, sesungguhnya mereka sedang mengingatkan negara agar pembangunan tidak kehilangan orientasi kemanusiaannya.

"Mengkritik bukan berarti menolak kemajuan. Teater bersikap kritis justru karena mencintai bangsa ini. Kita ingin memastikan bahwa pembangunan yang berjalan adalah pembangunan yang memanusiakan manusia," pungkasnya.

Pada akhirnya, pembangunan yang besar bukan hanya pembangunan yang meninggalkan gedung-gedung megah atau infrastruktur yang membentang. Pembangunan yang sejati adalah pembangunan yang meninggalkan manusia-manusia yang lebih bermartabat.

Dan di situlah panggung teater menemukan alasan keberadaannya: bukan sekadar untuk ditonton, tetapi untuk membuat masyarakat melihat, berpikir, merasa, lalu bertindak.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Peringati International Women Day 2026, Jurnalis Perempuan dan Seniman Hadirkan Teater Kemanusiaan di Medan
Resepsi HUT Ke-62 Tena Medan. Digitalisasi Bukan Berarti Kematian Bagi Teater Konvensional
Rico Waas Dukung Komunitas Medan Teater Tampil di Festival Teater Sumatra III
Wali Kota Dukung Komunitas Medan Teater Tampil di Festival Teater Sumatra III
S Handono Hadi Kukuhkan Pengurus Teater Nasional Medan.
Medan Teater Pentaskan "Orang Orang Setia"
komentar
beritaTerbaru