Think right, Say right, Act right

214

Oleh : Hasan Basri Siregar

Sudah menjadi kebiasaan dan ciri khas Alm Drs Syahrun Isa (Suhu) pendiri, pencipta tata gerak dan pencetus lahirnya perguruan seni beladiri Tako Indonesia, usai memimpin latihan, beliu selalu memberikan wejangan dan menguji kemampuan olah fikir dan olah gerak para murid-murid Tako.

Seperti halnya sore itu, di Dojo Sasana Krida jalma utama jalan IAIN no 3 Medan, Suhu panggilan penghormatan murid Tako kepadanya, duduk berhadapan dengan anggota Sabuk Hitam, menyampaikan beberapa wejangan sebelum menutup latihan.

Suhu berujar, think right, ( berfikir benar) say right, ( berkata benar) act right, ( bertindak benar)

” Tahukah kalian, berfikir benar, berkata benar dan bertindak benar itu? Sebut Suhu mengulangi ucapannya, memancing daya nalar para murid Tako, dari apa yang di sampaikan nya.

Sebelum dijawab para muridnya, beliu dengan santun, bercerita, membuka cakrawala memberikan Edukasi terkait hal tersebut.

Menurut Suhu, Putra asli kelahiran Tebingtinggi, waktu itu, saya sedang bersama seorang wanita, dan ” seperti” sedang melakukan ciuman.

Terkait hal itu, tentu sekilas orang akan menilai, wah….. Suhu telah melakukan perbuatan asusila (Cabul) kepada wanita, terangnya.

Persoalan tersebut pun cepat menyebar dan sampai ke telinga orang lain yang tak tahu persis sebenarnya apa yang terjadi, ungkap Suhu.

Dampaknya, tidak hanya saya sendiri, tapi keluarga, istri dan anak-anak akan menanggung malu atas kejadian tersebut.

Padahal ketika itu, jelas Suhu. Saya sedang melakukan pertolongan awal, kebetulan seorang wanita tenggelam di sungai, mengangkatnya ketepi dan saya melakukan pernafasan buatan dengan cara meniup mulutnya agar bisa siuman.

Oleh karenanya ungkap Suhu, setiap persoalan yang terjadi, hendaknya kita melihatnya dengan yang benar pula.

Setiap persoalan itu, didengar, dilihat, dan disaksikan langsung ( atau mencari informasi akurat) seterusnya barulah kita membuat penilaian dan menyampaikan nya dengan benar dan pada saat yang benar. Tutupnya.

Tak terasa sore itu kami latihan waktu hampir menjelang Maghrib, dan sesi latihan ditutup dengan peradatan Tako ( saling melakukan penghormatan dengan cara menundukkan kepala) dan para siswa masing-masing pulang membawa pesan wejangan dari Suhu, untuk bisa diterjemahkan dalam kehidupannya.***

Hasan Basri Siregar (Hari’S) siswa Tako di era awal tahun delapan puluhan. Senin (16/11/2020) osh.

Loading...