Senin, 06 April 2026

STIGMA MASYARAKAT TENTANG COVID 19.

Administrator - Senin, 10 Agustus 2020 09:41 WIB
STIGMA MASYARAKAT TENTANG COVID 19.

 

Baca Juga:

Oleh : Dwi Amanda Safitri Bimbingan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

ABSTRAK Covid-19 merupakan wabah penyakit yang tengah merebak di hampir seluruh penjuru dunia dan menyebabkan beberapa masalah bagi masyarakat luas. Banyak aspek yang terganggu misalnya seperti cara interaksi antar manusia. Di tengah wabah mematikan yang sedang melanda seluruh dunia, terjadi beberapa keadaan yang dimana akan membuat keadaan semakin buruk, yaitu adalah sebuah pemikiran negatif yang timbul dalam pemikiran seseorang terhadap orang lain yang tengah mengalami gejala penyakit tertentu. Stigma malah dapat mengakibatkan penyebaran di masyarakat semakin tidak terkendali.

Terkait dengan wabah yang tengah melanda, menjadikan Teknologi Informasi (TI) menjadi salah satu aspek yang paling sering di gunakan oleh masyarakat untuk menyebarkan atau pun mendapatkan informasi di luar rumah. Selain sisi positif yang kita lihat, ada beberapa sudut

pandang negatif yang dapat terjadi jika tidak dapat memilah berita mana yang benar mana yang tidak. Sosial media juga sering sekali menyebarkan berita hoax yang akan membuat sebagian orang merasakan kekhawatiran yang berlebihan dalam menaggapi beberapa hal.

Kata kunci : covid 19 stigma sosial; pencegahan.

A. PENDAHULUAN Pada Saat ini dunia telah dilanda oleh Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu pandemik korona yang berpunca oleh virus SARS-cov-2 pertama kali muncul di Wuhan, salah satu kota di Republik Rakyat Tiongkok yang kemudian tersebar ke seluruh negara termasuklah Indonesia. Pemerintah Indonesia sendiri mengkonfirmasi kasus korona yang pertama merebak di Indonesia adalah pada tanggal 2 Maret 2020 meskipun muncul beberapa anggapan bahwa COVID-19 telah masuk ke Indonesia beberapa waktu sebelumnya (Tim detikcom, 2020). Per 14 Mei 2020, kasus positif COVID-19 sudah mencapai angka 16.006 dengan angka kesembuhan sebesar 3.518 dan kematian sebesar 1.043 jiwa (Idhom,2020). Gejala umum yang tampak jiak terinfeksi COVID-19 yaitu terdapat gangguan pernafasan yang akut seperti sesak nafas, batuk dan demam. Reaksi yang timbul akan nampak rata-rata 5-6 hari dengan waktu inkubasi 14 hari. Pada kasus korona yang berat bisa membawa dampak pneumonia, gagal ginjal, sindrom pernafasan akut, sampai-sampai menyebabkan kematian.

Pemerintah Indonesia menerapkan beberapa langkah seperti menganjurkan warganya untuk tetap berada di rumah hingga pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar atau disingkat PSBB, meskipun memang kebijakan tersebut menunjukkan adanya pembatasan kebebasan sipil

masyarakat untuk berkumpul (Liputan6, 2020) serta adanya kemunduran dalam kinerja masyarakat dalam sektor ekonomi yang pada akhirnya berujung pada jatuhnya perekonomian pada skala nasional (Hadiwardoyo, 2020; Ansori, 2020; Ahmad, 2020), sehingga terdapat anjuran dari Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 dari BNPB yaitu Doni Monardo yang menyarankan bagi para warga dengan usia dibawah 45 tahun kebawah untuk diperbolehkan beraktivitas dengan tujuan untuk menggerakkan kembaliperekonomian (Riana & Amirullah, 2020).

Di bulan Februari awal Pemerintah mengemukakan bahwa di Indonesia terdapat 2 kasus postif terjangkit penyakit virus corona, mendadak berita ini hadir maka yang terjadi adalah sulitnya mencari berbagai barang seperti antiseptic, masker, dan handsanitizer dikalangan masyarat, kalaupun ada harganya melambung sangat tinggi diatas harga normal. Belum lagi adanya istilah panic buying yaitu rasa panik dan kekhawatiran dengan membeli beragam kebutuhan sehari-hari dengan berlebihan di toko-toko setempat. Perbuatan ini sangat kurang baik kalau dilakukan terus menerus sampai-sampai akan membuat orang lain kesulitan mendapatkan dan membeli barang tersebut. Beragam cara yang dilakukan oleh pemerintah saat ini untuk menghentikan mata rantai meluasnya corona virus tersebut seperti lockdown, social distancing, karatntina wilayah, akan tetapi hal tersebut belum dapat dilaksanakan dengan maksimal.

B. PEMBAHASAN

Stigma sosial Di antara wabah penyakit COVID-19 ini, muncul satu keadaan sosial yang bisa saja mengakibatkan keadaan menjadi parah, yaitu stigma sosial atau asosiasi negatif seseorang terhadap orang lain atau sekelompok orang yang mengalami gejala atau menyandang penyakit tertentu. Sebagai penyakit baru, sebagian besar masyarakat belum mengetahui soal pandemi COVID-19. Terlebih manusia merasa resah pada sesuatu yang sebenarnya mereka sendiri belum mengetahui faktanya dan lebih mudah menyangkutpautkan rasa takut kepada “kelompok yang lain”. Hal ini yang akan menjadi pangkal munculnya stigma sosial dan memisahkan diri terhadap etnis tertentu serta orang yang disangka memiliki hubungan dengan virus ini. Rasa cemas, bingung dan takut yang kita rasakan dapat dimengerti, tapi tidak berarti kita bebas berprasangka buruk kepada orang yang menderita penyakit, petugas yang merawat, keluarga, maupun mereka yang tidak terjangkit corona tapi mempunyai gejala penyakit yang hampir mirip dengan COVID-19.

Jika terus-menerus diterapkan di masyarakat, stigma sosial bisa membuat orang-orang merahasiakan penyakitnya agar tidak diasingkan, menahan penderita mencari bantuan kesehatan secepat mungkin, dan membuat penderita tidak melakukan perilaku hidup yang sehat.

Di dunia kesehatan, stigma adalah korelasi negatif antara seseorang atau sekelompok orang dengan orang lain terhadap sebuah penyakit ataupun gejala tertentu. Kita ambil contoh adalah penyakit yang tengah merebak yaitu penyakit covid-19, masyarakat mempunyai stigma negatif soal penyakit ini. Semua orang waspada dengan orang yang terkena panyakit tersebut sehingga orang-orang disekelilingnya lebih memutuskan menghindar dan tidak mau berinteraksi langsung dengan penderita walaupun telah dinyatakan positif sembuh. Ada kesepakatan bahwa pengkajian stigma mengambil dua jalur oposisi dan terisolasi: 1) Pendekatan mikro-sosial, dibuktikan oleh kegiatan psikologis (sosial), menyelidiki stigma di tingkat individu dan antar individu. 2) Pendekatan makro-sosial, diberi simbol dengan karya sosiologis, berkaitan dengan analisis tingkat kelompok (sosial/budaya) dan struktural.

Stigma mampu membuat: 1) Mendorong orang untuk menutupi penyakit untuk menghindari diskriminasi, 2) Menahan diri untuk mencari seorang perawatan kesehatan sesegera mungkin, dan 3) Menahan diri mereka untuk melakukan perilaku hidup sehat. Stigma dari beberapa penyakit dan kelainan merupakan rumor utama dalam kesehatan masyarakat (Septiawan, Mulyani and Susanti, 2018). Beberapa orang yang menderita penyakit tertentu sering menerima stigma yang mendorong rasa rendah diri. Penderita kista, TBC, diabetes, dan lain-lain dianggap mempunyai stigma negatif di masyarakat. Sampai-sampai orang di sekelilingnya lebih memilih untuk menjauh dan tidak ingin berinteraksi langsung dengan mereka walaupun mereka sudah dinyatakan sembuh sekalipun.

Peran TI Kemajuan Teknologi Informasi (TI) yang cepat membuat pergeseran media komunikasi dan interaksi menjadi bentuk yang baru berbentuk media sosial online lintas platforms. Wabah COVID-19 Permasalahan dan pemikiran di Indonesia lewat media sosial dan online, setiap orang dengan mudahnya menerima, membagikan data atau berita dari satu media sosial ke media sosial lainnya sehingga menjadi viral dimana-mana. Berita terpaut COVID-19 sudah menguasai trending sepanjang hari terutama sejak status pandemi mendunia. Dari sarana online dan elektronik tersebar berita terkait penolakan warga terhadap penguburan jenazah penderita COVID-19. Bahkan bukan cuma pasien/penderita dan keluarga saja yang mendapatkan stigma, namun para tenaga medis yang merawat pasien COVID-19 juga menerima stigma dari masyarakat. Bahkan ada beberapa perawat yang sampai diancam, akan diusir dari rumah kontrak mereka karena dikhawatirkan akan membawa virus COVID-19.

Stigma negatif kepada seorang yang menderita Covid19 ataupun keluarganya muncul akibat pandemi global pada awal tahun 2020. COVID19 merupakan penyakit yang sangat mudah menular dan penyakit ini juga dapat mengakibatkan kematian. Banyak pasien yang sulit untuk mengutarakan riwayat sakitnya dikarenakan stigma terhadap pasien COVID-19 dan situasi sosial masyarakat. Untuk saat ini virus COVID-19 belum ada obatnya. Informasi yang tersebar mempunyai tujuan untuk mendidik masyarakat, tapi ada sebagian orang yang kurang mampu membedakan antara informasi positif dan negatif. Secara psikologis, informasi negatif lebih gampang di cerna sehingga membuat orang yang membaca atau melihat percaya hal itu menjadi sebuah kebenaran. Hal ini berkaitan dengan kurangnya kemampuan masyarakat dalam mengelola dan mencerna informasi yang berkaitan dengan kesehatan, sebab data yang tidak seimbang beredar di masyarakat.

Upaya penanganan Usaha yang perlu dilakukan untuk membantu tercapainya hasil penanganan Covid-19 adalah semestinya dengan cara meningkatkan kepercayaan pada layanan dan sarana kesehatan yang ada, meningkatkan rasa empati pada orang-orang yang terdampak, menafsirkan sendiri tentang penyakit itu, dan menjalankan cara-cara efisien dan efektif, sehingga orang dapat mendukung merawat diri dan orang yang disayangi tetap pada zona aman (WHO, 2020).

Berdasarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) ada beberapa upaya yang bisa kita lakukan untuk membantah stigma sosial tentang Covid-19, yaitu: 1) menyebarkan fakta dan informasi benar dan akurat berlandaskan data rujukan dari lembaga resmi yang berwenang (misal, WHO; Kemenkes RI) soalan penyakit ini. 2) Hapuskan mitos tentang Covid-19 Pilih kata-kata dengan baik, karena cara kita berinteraksi dapat memengaruhi sikap orang lain.

Ada beberapa upaya yang disarankan oleh WHO sebaiknya dilaksanakan untuk menurunkan kepanikan orang-orang terhadap Covid-19, yaitu: 1) usahakan kurangi menonton,mendengarkan, atau membaca berita yang membuat panik dan tertekan. 2) Mencari informasi hanya dari yang terpercaya untuk menentukan langkah-langkah praktis dalam menyiapkan rencana melindungi diri sendiri dan orang-orang terkasih dari dampak Covid-19. 3) Carilah informasi terbaru hanya pada waktu tertentu misalnya pada siang hari dan cukup dilakukan hanya sekali atau duakali dalam sehari. Dengan mendengarkan atau membaca berita yang mendadak dan terus menerus tentang penyakit yang dapat membuat kita lebih merasa panik. 4) mendapatkan fakta,

bukan informasi yang tidak benar. Dengan kita mengetahui fakta yang benar dan lengkap, maka hal ini dapat membantu mengurangi rasa takut yang tidak realistis. 5) mengumpulkan informasi

secara bertahap, dari situs website yang dipercaya seperti WHO dan otoritas kesehatan setempat (Kemenkes RI) untuk menolong Anda membedakan fakta atau rumor. 6) Dukung upaya menguatkan berita yang positif dan penuh harapan, dan gambaran positif dari orang yang telah mengalami Covid-19. 7) Hargai dan dukunglah kerja keras para petugas sebagai garda kesehatan terdepan dalam menolong orang yang terdampak Covid-19.

C. KESIMPULAN Di antara wabah penyakit COVID-19 ini, muncul satu keadaan sosial yang bisa saja mengakibatkan keadaan menjadi parah, yaitu stigma sosial atau asosiasi negatif seseorang terhadap orang lain atau sekelompok orang yang mengalami gejala atau menyandang penyakit tertentu. Sebagai penyakit baru, sebagian besar masyarakat belum mengetahui soal pandemi COVID-19. Dengan semakin berkembangnya dunia TI membuat setiap orang mampu nyebarkan berita yang baik dan tidak secara bebas. Berita yang di sampaikan tidak hanya berita yang benar fakta nya (hoax) yang akan menimbulkan kepanikan pada siapa saja yang membaca atau mendengarbeita tersebut.

Berdasarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) ada beberapa upaya yang bisa kita lakukan untuk membantah stigma sosial tentang Covid-19, yaitu: 1) menyebarkan fakta dan informasi benar dan akurat berlandaskan data rujukan dari lembaga resmi yang berwenang (misal, WHO;

Kemenkes RI) soalan penyakit ini. 2) Hapuskan mitos tentang Covid-19 Pilih kata-kata dengan baik, karena cara kita berinteraksi dapat memengaruhi sikap orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

file:///C:/Users/User/Downloads/47-Article%20Text-117-1-10-20200614%20(2).pdf https://poseidon01.ssrn.com/delivery.php?ID=9500720660000300000290060031030770000490 820290210280280861261250811030870971060141130521030350390210010461070641151260 020030960490830930130001041001110100130900851230090190141110051010920230880961 20120023081070023067099083011003088083086086126090067006&EXT=pdf file:///C:/Users/User/Downloads/6012-12247-2-PB.pdf http://eprints.binadarma.ac.id/4163/1/Abdillah2020%20KitaMenulis%20%5BStigma%20Terhad ap%20Orang%20Positif%20COVID-19%5D.pdf https://www.kompasiana.com/1806026139/5e8f267c097f3646d32d7af2/dampakpendemi- covid-19-terhadap-perubahan-kehidupan-sosial-masyarakat. https://sukabumiupdate.com/detail/bale-warga/opini/68110-Dampak-Penyebaran- Virus-Covid-19-Terhadap-Kehidupan-Sosial.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
KRI Bima Suci Tiba di Belawan, Rico Waas Siap Kenalkan Potensi Medan ke Mata Dunia
Aktivitas Gunung Sorikmarapi Meningkat, Ini Himbauan Bupati Madina Saipullah Nasution Saat Turun Langsung Pantau Pos Pengamatan
Menguatkan nilai kemanusiaan, Sat Narkoba Polresta Deli Serdang Berikan Santunan kepada Anak Yatim Piatu
Ketua RANZ Medan Bantah Pemko Lamban Tangani Sampah, Ibrahim : Program PSEL Sudah Berjalan
Mallorca Paksa Real Madrid Menelan Kekalahan di Markas Sendiri
Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan Hadiri Halal bi Halal Keluarga Besar Yayasan Gerakan Sumatera Utara Bergiat dan IKA MSP FISIP USU
komentar
beritaTerbaru