Kamis, 25 Juni 2026

Socfindo Sosialisasi Pengendalian Hama Kumbang Tanduk

Administrator - Selasa, 03 Januari 2023 06:55 WIB
Socfindo Sosialisasi Pengendalian Hama Kumbang Tanduk

BATUBARA l SUMUT24.co Peduli terhadap petani sawit desa, PT Socfindo Tanah Gambus buat sosialisasi pengendalian hama Oryctes Rhinoceros atau yang sering disebut kumbang badak atau kumbang tanduk. Kegiatan dilaksanakan menegemen PT Socfindo Tanah Gambus, di Desa Pasir Permit, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batubara, Sumatra Utara. Sebagai narasumber dipimpin Asisten Devisi I, Hadi Prabowo dan Asisten Devisi V Eko Nainggolan. “Kita kemarin melakukan sering – sering ilmu untuk pengendalian hama Oryctes Rhinoceros atau yang sering disebut kumbang badak atau kumbang tanduk bagi masyarakat petani sawit Desa Pasir Permit,”ujar Hadi Prabowo didampingi Eko Nainggolan kepada Sumut24.co, Selasa (3/1/23). Materi itu diambil, karena dilihat Desa Pasir Permit saat ini sedang banyak program replanting atau peremajaan sawit rakyat (PSR). Mulai dari depan pintu masuk desa sudah kelihatan ada program PSR. Oryctes rhinoceros merupakan salah satu hama pada tanaman kebun kelapa sawit yang belum menghasilkan (TBM). Hama ini menyerang tanaman kelapa sawit yang baru ditanam sangat rentan sampai tanaman tua. Pada areal replanting, serangan hama dapat mengakibatkan tertundanya masa produksi kelapa sawit sampai kematian tanaman. “Sebenarnya kenapa hama ini dikenal dengan istilah kumbang badak, karena culanya kayak badak atau lagi disebut wawung,”sebut Hadi. Sementara itu, Eko Nainggolan menjelaskan, hama kumbang tanduk sangat mengancam keberhasilan pertumbuhan sawit. Daun pucuk yang di makan hama ini terlihat terpotong dan rusak, batangnya bolong ada juga yang gundul. Kalau serangan hama baru masuk di tanaman muda banyak daun nya mati, ketika ditarik atau dicopot terlihat seperti serabut berserat dan sudah bisa di pastikan itu serangan Oryctes . “Contohnya serangan hama Oryctes rhinoceros pada tanaman sawit belum menghasilkan dan sudah menghasilkan. Serangan hama ini biasanya ditanam muda yang daunnya terlihat kering kecoklatan dan ketika di copot dan disebelah pangkalnya seperti di bor bolong. Biasanya pada tanaman yang baru tanam di bawah enam bulan tidak jarang menyebabkan kematian,”paparnya. Selain itu Eko juga memperjelas sirklus kehidupan kumbang, mulai dari telur, larva yang biasa dikenal dengan nama gendon. “Ada di beberapa tempat gendon ini dimakan. Jadi kumbang ini dia bisa 3-4 kali bertelur semasa hidupnya dan bisa hidup lebih dari enam bulan,”ungkapnya. Untuk pengendalian nya di kebun, pertama dilakukan penghancuran lokasi tempat bertelur. Kalau di kebun kita lihat tanaman peremajaan itu setelah ditumbang dilakukan pencacahan. “Kalau di desa usahakan jangan sampai ada tumpukan batang kelapa sawit, tunggul tanaman lain, sebab itu bisa menjadi tempat berkembang biaknya hama Oryctes,”jelas Eko. Kemudian, penyebab tanaman mati akibat ganoderma. Tanaman yang sudah mati ditumbuhi jamur harus dihancurkan supaya tidak ada tempat berkembang hama Oryctes berkembang biak. “Kami berharap sosialisasi ini bisa bermanfaat menambah pengetahuan bagi masyarakat petani sawit dan kehadiran kami sebagai mitra bertujuan baik,”tutup Eko.(Jo)

Baca Juga:
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
Tags
beritaTerkait
PT.Japfa aksi Peduli Penanganan Sampah Bersama Masyarakat Di Danau Toba.
Penyidik Polres Batubara Diduga Alergi Wartawan Ditanya Soal Junaini Ditetapkan Tersangka, Halomoan Gultom : Gak Ada Hak Bapak Tanyakan Itu
Kadis Kesehatan drg Irma Suryani MKM mencanangkan Kesatuan Gerak PKK KB
Kejatisu Pastikan Soal Dugaan Korupsi PUPR Sumut Tuntas,   Mulai Kepemimpinan Bambang Pardede & Marlindo Harahap jadi sorotan
Ketua Pewarta Berikan Baju Kebesaran ke Kasi Humas dan Kanit Paminal Polrestabes Medan
Jumat Barokah dan Sambut HUT ke-7 Pewarta.co, Ketua Pewarta Bagi-bagi Sembako ke Pengemudi Betor dan Jukir
komentar
beritaTerbaru