Kamis, 22 Oktober 2026

SKB 3 Menteri, Jawaban Masalah Intoleransi di Dunia Pendidikan

Administrator - Kamis, 04 Februari 2021 12:08 WIB
SKB 3 Menteri, Jawaban Masalah Intoleransi di Dunia Pendidikan

 

Baca Juga:

MEDAN | SUMUT24

Pengamat Pendidikan Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, keputusan SKB 3 Menteri yang pada akhirnya mampu menjawab sikap intoleransi dari banyak pihak. Khususnya di dunia pendidikan.

Saya menilai kebijakan ini sangat produktif dalam menunjang aktifitas belajar mengajar. Karena sebelumnya memang ada sejumlah larangan dan kewajiban. Baik larangan menggunakan jilbab atau keharusan dalam memakai jilbab, untuk keyakinan atau agama yang berbeda, kata Gunawan Benjamin di Medan, Kamis (4/2) terkait dengan SKB 3 Menteri, Sekolah Negeri Tak Boleh Wajib Seragam Khusus Agama.

Pada seorang saya juga seorang tenaga pengajar (dosen). Dan Alhamdulillah saya mengajar di banyak kampus yang beragam latar belakang agamanya. Mulai dari kelas belajar yang didominasi mahasiswa / I beragama islam, budha dan Kristen. Saya meihat ada kebebasan yang disitu dalam berpakaian, khususnya dalam menggunakan atribut agama tertentu.

Dan saya tidak menemukan adanya semacam gangguan selama proses belajar mengajarnya. Semuanya saling bertoleransi. Yang penting semua murid mengikuti aturan yang disepakati bersama antara kampus dan mahasiswa. Pada umumnya lebih banyak pembantuan tidak boleh menggunakan celana atau rok pendek, atau baju yang harus berkerah. Yang semuanya itu adalah etika bersosial yang dipatuhi bersama.

Yang penting setiap manusia harus ditanamkan pentingnya beragama dengan cara yang benar. Karena kenyamanan dalam proses belajar mengajar itu sangat menunjang siswa dalam menyerap pelajaran. Dan saat belajar mengajar, semuanya harus terlepas dari sikap-sikap tidak terpuji seperti masalah SARA yang bisa mengikuti kejadian bullying pada siswa.

Karena di dalam satu kampus berideologi Islam, tetap ada mahasiswa yang beragama lain kuliah di sana. Demikian juga untuk kampus lainnya yang berideologi lain, tetap ada mahasiswa yang beragama lain belajar didalamnya. Ideologi nilai yang dikembangkan di dalam suatu kampus itu tetap berjalan pada hidup. Tetapi ilmu pengetahuan yang mengajar tidak ada yang tidak, dengan perbedaan ideologi atau agama tersebut.

Tidak meratanya kualitas pendidikan menjadi pemicu bagi masyarakat untuk mengejar cita-citanya. Misal, suatu kampus yang berideologi Kristen di Medan, punya keunggulan dalam ilmu kedokteran. Menjadi incaran masyarakat belatar belakang agama apapun untuk menitipkan anaknya belajar di sana.

Tujuannya bukan untuk mengubah keimanan seseorang saat masuk ke kampus tersebut. Tetapi harus mencari ilmu pengetahuan. Saya juga punya pengalaman lain saat beberapa mahasiswa non muslim belajar ekonomi di kampus yang berideologi Islam. Jadi inilah Indonesia, kemajemukan itu selalu ada. Jadi toleransi itu penting agar negara ini benar-benar mampu merealisasikan amanah UU untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, katanya. (C04)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Perkuat Sinergi dengan Ormas, Kepala Kantor Imigrasi Belawan Hadiri Silaturahmi DPW Pendawa Sumut 2025–2030
Operasi Sarang Narkoba Polres Padangsidimpuan! Kabur dengan Jebol Dinding Seng, Pria di Padangsidimpuan Akhirnya Ditangkap Polisi
Kapolres Tapsel Apresiasi 450 Prajurit Yonif 123/Rajawali Usai Tuntaskan Misi di Papua
Kapolsek Sipirok Turun Temui Warga Baringin, Serap Aspirasi dan Bahas Keamanan Lingkungan
Begal hingga Premanisme Dibidik, Timsus Serigala Sakti Bergerak Malam Hari di Padang Lawas
HUT Golkar ke-62: Dari Ziarah Pahlawan, Irsan Efendi Nasution Ingatkan Golkar soal Tanggung Jawab kepada Rakyat
komentar
beritaTerbaru