Jelajahi Pesona Simalungun di PRSU 2026, Kenalkan Deretan Destinasi Wisata Andalan
Jelajahi Pesona Simalungun di PRSU 2026, Kenalkan Deretan Destinasi Wisata Andalan
kota
Baca Juga:
Oleh: Chappy Hakim, Mantan KSAU, Pendidi Pusat Studi Air Power Indonesia
KEKALAHAN telak Tim Nasional Indonesia dari Australia dalam ajang internasional bukan hanya soal skor atau strategi, tetapi lebih dalam dari itu: ini adalah cermin dari mentalitas kebangsaan kita. Cermin yang memperlihatkan bagaimana kita, sebagai bangsa, sering tergoda oleh jalan pintas, alih-alih menempuh proses panjang dan melelahkan yang sejatinya justru membentuk fondasi yang kokoh dalam perjalanan menuju tangga kejuaraan.
Dalam beberapa tahun terakhir, euforia sepak bola nasional membuncah. Keberhasilan PSSI mendatangkan pelatih ternama dari Korea Selatan serta menggaet pemain profesional naturalisasi dari Eropa dan diaspora menjadi bahan perbincangan hangat sekaligus kebanggaan nasional. Stadion penuh, media riuh, dan masyarakat bersorak. Seolah kita tengah berada di ambang kejayaan, diambang Juara Dunia.
Namun, saat kekalahan besar itu datang, terutama dari tim seperti Australia —yang justru bertumbuh dari pembinaan akar rumput dan sistem liga yang stabil— kita dipaksa membuka mata. Bahwa kemenangan tidak bisa dimanipulasi. Bahwa untuk menjadi "juara sejati", tidak ada jalan pintas. Hukum alam pembangunan manusia dan bangsa tidak bisa dilangkahi begitu saja. Tidak ada potong kompas.
Mari kita sadari bahwa Sepak bola bukan sekadar olahraga. Ia adalah cerminan budaya kerja, sistem pendidikan karakter, kejujuran, kerendahan hati dan komitmen jangka panjang terhadap pembinaan generasi muda. Di sinilah kita kerap lupa. Kita terlalu fokus pada hasil instan: podium, piala, dan tepuk tangan. Kita lupa bahwa sepak bola sejatinya adalah bagian dari nation and character building. Di lapangan hijau, anak-anak dipaksa belajar untuk mampu kerja sama, disiplin, sportivitas, daya juang, kejujuran, kerendahan hati, sifat ksatria serta rasa cinta tanah air—nilai-nilai fundamental dalam pembentukan karakter bangsa.
Ketika kita memilih mengimpor pemain asing dan memberi mereka status WNI dalam hitungan bulan, apa yang sesungguhnya kita ajarkan kepada anak-anak bangsa yang selama ini berlatih dengan tekun di pelosok negeri? Ketika proses seleksi dilewati oleh kebijakan instan, di mana tempat bagi mereka yang mengandalkan kerja keras dan dedikasi bertahun-tahun? Bukankah ini menanamkan pesan keliru: bahwa menjadi juara tidak perlu kerja keras, cukup dengan koneksi, dana besar, dan keputusan politik?
Sebagai seorang pendidik, saya merasa prihatin. Fanatisme yang tidak dibarengi dengan kedewasaan berpikir telah menjadikan sepak bola sebagai panggung pencitraan, bukan pembinaan. Anak-anak muda yang mencintai sepak bola kini lebih sering terpaksa hanya menjadi penonton, bukan pelaku. Mereka menatap layar, melihat timnas mereka diisi oleh "barang impor", dan secara tak sadar kehilangan ruang untuk bermimpi. Mereka menjadi generasi yang hanya diberi tontonan belaka, bukan peluang.
Padahal, sejatinya pembinaan usia dini dalam sepak bola, dibarengi dengan sistem liga yang berkelanjutan dan sehat, adalah satu-satunya jalan untuk mencetak tim nasional yang solid dan berkarakter. Bukan dengan sulap. Bukan dengan sihir. Ini adalah proses yang memerlukan waktu, konsistensi, kesabaran dan integritas dari semua pihak, termasuk para pemimpin olahraga dan pemegang kebijakan.
Kekalahan memalukan dari Australia mestinya menjadi wake-up call bagi kita semua. Mari kita berhenti mencari jalan pintas. Mari kita kembali menanam benih-benih pembinaan dari akar rumput. Mulailah dari sekolah, komunitas, SSB (Sekolah Sepak Bola), dan kompetisi antar daerah. Biarkan proses yang berjalan secara alami membentuk timnas kita. Tim yang lahir dari kerja keras dan keringat anak negeri, dibesarkan oleh pelatih-pelatih lokal yang berintegritas, dan didukung oleh sistem liga yang profesional dan berkesinambungan.
Sekali lagi menjadi juara bukanlah tujuan akhir, melainkan hasil sampingan dari proses panjang pembentukan karakter. Di sinilah tugas kita sebagai pendidik: ikut mengingatkan bahwa pembangunan bangsa, termasuk melalui sepak bola, adalah tentang menanam, merawat, dan memanen dengan sabar. Sepak bola adalah olahraga yang penuh dengan nilai nilai dalam pembinaan karakter personal, keberanian, membangun jiwa ksatria, membentuk jiwa besar, mewujudkan sikap kejujuran.
Olah Raga, sekali lagi, maaf bukanlah tentang potong kompas.rel
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Jelajahi Pesona Simalungun di PRSU 2026, Kenalkan Deretan Destinasi Wisata Andalan
kota
Balerong Silek Tuo Jadi Momentum Kebangkitan Warisan Budaya Minangkabau.
News
sumut24.co Labuhanbatu, Tuti Nofrida Ritonga S,Si,AP, MM melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Puskesmas Tanjung Haloban, Kecamatan Bilah
News
sumut24.co ASAHAN, Bupati Asahan, Taufik Zainal Abidin, S.Sos., M.Si., menghadiri peresmian Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dewan Pimpinan Dae
News
MEDAN Sumut24.co Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Tani Merdeka menggelar Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Tani Merdeka Sumatera I Angkatan IV d
News
sumut24.co Deliserdang, Sebanyak 1.726 peserta memeriahkan Deliserdang Run 2026 yang digelar di Desa Namo Tualang, Kecamatan BiruBiru, Min
News
sumut24.co Deliserdang, Car Free Night Deliserdang Weekend kembali menjadi magnet bagi masyarakat. Jalan Diponegoro, Lubuk Pakam, dipenuhi
News
Sudaryono Dijadwalkan Lantik Pengurus Baru DPW Tani Merdeka Sumut, DPN Terbitkan SK Periode 2026&ndash2031
News
Teguh Revolusi Kuba Masih Relevan untuk Terus Digaungkan
kota
Edwar Jamil Raih Nilai Tertinggi Seleksi Bakal Calon Wali Nagari Alahan Panjang, Lima Kandidat Resmi Melaju ke Tahap Pilwana
kota