Dilantik Jadi Kepala BGN, Sudaryono Punya Kekayaan hingga Rp31,39 Miliar
Dilantik Jadi Kepala BGN, Sudaryono Punya Kekayaan hingga Rp31,39 Miliar
kota
MEDAN I SUMUT24.co Memang siapapun mau mencalon atau dicalonkan dalam Pilkada dan sebagainya adalah sah-sah saja. Namun majunya Anak, Menantu dan Besan Presiden Joko Widodo dalam perhelatan Pilkada 2020 menjadi perhatian masyarakat luas. Dan hal tersebut merupakan pertentangan nilai demokrasi yang dikembangkan dengan praktik politik dinasti sehingga tinggal masyarakat yang menentukannya, Ucap Pemerhati Sosial dan Politik Shohibul Anshor Siregar kepada SUMUT24, Minggu (12/1). Menurutnya, Masalah ini telah menjadi perbincangan nasional. Bahkan, kalau saya tak salah menyimak, Megawati dalam pidato resminya kemaren telah memberi perhatian khusus atas masalah ini.
Baca Juga:
Ada tiga hal pokok yang amat serius tentang hal ini. Pertama, kesediaan rakyat Indonesia menerima dan mendukung penerapan politik dinasti. Banyak orang menilai adanya pertentangan nilai demokrasi yang dikembangkan dengan praktik politik dinasti. Sehingga tak sedikit pula orang yang cenderung mulai berani berpendapat bahwa jika Jokowi sedikit bersabar dan ingin memiliki legacy demokrasi yang luhur, biarlah anak dan menantu yang ingin menjadi kepala daerah itu menunggu sampai waktunya kelak tiba.
Kedua, saluran pengorbitan politik kepartaian yang mereka rencanakan secara langsung mencederai tradisi internal yang dibangun tentang kekaderan dan promosinya. Berbeda jika mereka menempuh jalur perseorangan, resistensi partai tidak akan begitu besar.
Lebihlanjut Direktur Nbasis tersebut dan Ketiga, soal peluang menang adalah sesuatu yang tidak otomatis mudah dihitung meski anak dan menantu Jokowi didukung oleh aliansi partai-partai besar. Tokoh-tokoh lokal yang berani bersaing secara psikologis kemungkinan besar akan beroleh dukungan yang potensil meluas. Banyak contoh untuk ini. Dalam pilkada Jawa Timur kemaren misalnya, cucu Bung Karno saja kandas di tangan Khofifah Indar Parawansa.
Jika Jokowi akan tetap berkeras hati memajukan anak dan menantunya, taruhannya sangat besar. Menang atau kalah tetap akan menjadi sorotan rakyat.
Ditambahkan Dosen Fisipol UMSU tersebut, Tentu saja saya tak pernah ama sekali menganggap seseorang kehilangan hak politik untuk merebut jabatan kepala daerah karena berstatus anak atau menantu Presiden. Namun pikiran umum yang mengemuka saat ini adalah bahwa “mungkinkah demokrasi luhur berjalan dengan praktik politik dinasti iniâ€, dan saya ada pada posisi yang juga mempertanyakan itu.(W03)
Dilantik Jadi Kepala BGN, Sudaryono Punya Kekayaan hingga Rp31,39 Miliar
kota
Bank Sumut Gandeng Tiga LPKSO Luncurkan KUR PMI, Perluas Akses Pembiayaan bagi Calon Pekerja Migran Indonesia
kota
Ketum PB Pendawa Indonesia Terima Silaturahmi DPD FKN Sumut dan SAS Center, Dukung Dua Agenda Akbar di Medan
kota
Buka Muswil III SAPMA PP Sumut, Ijeck Tegaskan Kader Harus Jauhi Narkoba, Firmansyah Kembali Terpilih
News
Sutrisno Pangaribuan Nilai Bobby Nasution Melecehkan DPRD Sumut karena Tinggalkan Rapat Paripurna
kota
Polsek Medan Area Tangkap Sekuriti Rampas HP Wanita Lansia saat Duduk di Kursi Roda
kota
3 Korban Tewas Ledakan Grand Polonia Teridentifikasi
kota
sumut24.co MedanWanita Karo Indonesia (WKI) berkolaborasi dengan Kaukus Perempuan Parlemen RI menggelar Seminar Dialog Interaktif di Kanto
Umum
Monthly Upgrade Academy Perkuat Pemahaman Sejarah dan Nilai Luhur UNPAB sebagai Fondasi Kemajuan Institusi
kota
sumut24.co TANJUNGBALAI , Wakil Wali Kota Tanjungbalai, Muhammad Fadly Abdina, menyerahkan hadiah kepada lima wajib pajak asal Kota Tanjung
News