Bangun Pagi, Toyota Innova Hilang! Tim Resmob Polres Padangsidimpuan Ungkap Modus Aksi Pencurian
Bangun Pagi, Toyota Innova Hilang! Tim Resmob Polres Padangsidimpuan Ungkap Modus Aksi Pencurian
kota
Baca Juga:
Jakarta|sumur24.co
5 Maret 2026 – Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam pelestarian budaya, Indonesia Kaya kembali menyuguhkan Kuliner Indonesia Kaya yang konsisten mendokumentasikan ragam kuliner khas Nusantara dalam format audio visual sejak 2017. Dalam episode terbaru yang tayang tahun ini, Kuliner Indonesia Kaya mengangkat tiga kota dengan sejarah kuliner kuat, yaitu Ternate, Palembang, dan Banten, yang masing-masing menyimpan kekayaan rasa sekaligus jejak panjang perjalanan budaya di Indonesia. Melalui webseries yang dapat disaksikan di kanal YouTube IndonesiaKaya ini, Kuliner Indonesia Kaya mengajak penonton menelusuri bagaimana rasa menjadi bagian dari perjalanan budaya Nusantara, yang terbentuk dari pertemuan berbagai peradaban, jalur perdagangan, serta proses akulturasi yang membentuk identitas masyarakat dari masa ke masa"Melalui Kuliner Indonesia Kaya, kami ingin terus menghadirkan dokumentasi yang tidak hanya menampilkan kelezatan sebuah hidangan, tetapi juga menggali cerita di baliknya. Setiap daerah memiliki cara unik dalam mengolah bahan, merawat tradisi, dan mewariskan pengetahuan memasak dari generasi ke generasi. Di situlah letak kekuatan kuliner Nusantara, bukan sekadar pada rasanya, tetapi pada nilai sejarah, akulturasi, dan filosofi hidup yang menyertainya. Tahun ini kami mengajak pecinta kuliner berkunjung ke Ternate, Palembang, dan Banten melalui episode terbaru webseries Kuliner Indonesia Kaya. Ketiga daerah ini memiliki peran penting dalam perjalanan budaya Indonesia dan melalui tayangan ini masyarakat diharapkan dapat melihat kuliner sebagai bagian dari identitas dan warisan yang perlu terus dikenalkan serta diapresiasi oleh generasi sekarang maupun mendatang," ujar Renitasari Adrian, Program Director Indonesia Kaya.
Episode pertama yang tayang pada Kamis, 26 Februari 2026 membawa penonton ke Ternate, salah satu titik penting dalam Jalur Rempah. Di pulau ini, kuliner tumbuh dari keseimbangan antara masyarakat dan alam sekitarnya. Salah satu tradisi yang diangkat adalah Rimo-rimo, metode memasak yang diwariskan secara turun-temurun dan dilakukan tanpa menggunakan alat dapur, melainkan memanfaatkan bambu sebagai wadah alami.
Kris Syamsudin, Founder Cengkeh Afo dan Gamalama Spices, menjelaskan bahwa Rimo-rimo berakar dari kebutuhan masyarakat Ternate untuk bertahan hidup ketika berada di hutan. "Rimo-rimo adalah tradisi memasak masyarakat Ternate yang lahir dari situasi survival. Dahulu orang-orang harus bisa memasak tanpa panci, sehingga bambu dimanfaatkan sebagai media memasak. Bahan-bahannya pun cukup umum, mulai dari daging, ayam, sayur lilin, hingga umbi-umbian. Tradisi ini bukan hanya soal makanan, tetapi tentang cara hidup dan pengetahuan leluhur yang kami harap bisa terus dipertahankan," ujarnya.
Selain Rimo-rimo, episode ini juga menghadirkan Gohu Ikan yang mengandalkan kesegaran laut dengan proses pengolahan yang minimal. Kata gohu sendiri berarti mengunyah sesuatu dalam keadaan mentah, sehingga ikan yang disajikan pun tidak melalui proses pemasakan. Dalam pembuatannya, Gohu Ikan menggunakan daging ikan tuna atau cakalang yang dipotong kecil, kemudian dilumuri garam dan perasan lemon cui, serta dicampur dengan daun kemangi untuk menghadirkan cita rasa segar dan khas. Hidangan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Ternate memanfaatkan hasil laut secara sederhana, sekaligus menunjukkan hubungan yang harmonis antara manusia dan lingkungannya.
Perjalanan berlanjut ke Palembang dalam episode kedua yang tayang pada 5 Maret 2026. Sebagai salah satu kota tertua di Indonesia, Palembang menyimpan memori panjang yang mengalir bersama Sungai Musi. Melalui Pindang Ikan, penonton diajak melihat bagaimana masyarakat memanfaatkan kekayaan sungai, tidak hanya ikan patin, tetapi juga gabus, hingga baung. Cita rasa asam pedas yang segar menjadi ciri khas yang merepresentasikan kedekatan masyarakat dengan alam sekitarnya.
Selain itu, hadir pula Kue Delapan Jam yang melambangkan kesabaran dan keseimbangan melalui proses pematangan selama delapan jam hingga menghasilkan tekstur lembut dan warna cokelat keemasan. Bersanding dengannya, Kue Maksuba yang berlapis dan legit menjadi bagian penting dalam tradisi pernikahan dan perayaan besar seperti Lebaran di masyarakat Palembang. Proses pembuatannya yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan menjadikannya simbol kecermatan serta kematangan, sekaligus cerminan nilai yang dilekatkan pada perempuan Palembang. Kue ini juga kerap dikirimkan oleh pasangan yang baru menikah kepada orang tua sebagai ungkapan cinta dan bakti. Ragam hidangan ini memperlihatkan bagaimana kuliner menjadi cara masyarakat Palembang merawat nilai dan ingatan kolektif kotanya.
Episode ketiga yang akan tayang pada Kamis, 12 Maret 2026 menghadirkan Banten dengan jejak Kesultanannya. Sate Bandeng yang konon menjadi hidangan favorit Sultan Maulana Hasanuddin lahir dari kreativitas juru masak keraton untuk menyajikan bandeng tanpa duri sebagai bentuk penghormatan kepada tamu kerajaan. Selain itu, Rabeg turut memperkaya khazanah kuliner Banten. Hidangan berbahan daging kambing atau sapi ini dipercaya telah ada sejak masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin. Berdasarkan cerita turun temurun, Rabeg terinspirasi dari pengalaman sang Sultan saat menunaikan ibadah haji dan singgah di Kota Rabig di tepi Laut Merah, di mana ia menyantap olahan daging kambing yang kemudian diadaptasi sepulangnya ke Banten. Versi lain menyebutkan bahwa Rabeg dibawa oleh para pedagang Arab yang menetap dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.
"Sejak 2017 kami berupaya mendokumentasikan kekayaan kuliner Nusantara secara konsisten melalui Kuliner Indonesia Kaya, bukan semata menghadirkan visual yang menggugah selera, tetapi juga merekam pengetahuan, filosofi, dan perjalanan budaya yang menyertainya. Dengan durasi yang ringkas namun padat di setiap episodenya, kami berharap tayangan ini dapat menjadi jembatan bagi generasi sekarang untuk lebih mengenal, memahami, dan menghargai warisan gastronomi Indonesia. Karena pada akhirnya, di balik setiap rasa tersimpan identitas, sejarah, dan cerita panjang yang membentuk karakter sebuah daerah sekaligus bangsa," tutup Renitasari Adrian.
Bangun Pagi, Toyota Innova Hilang! Tim Resmob Polres Padangsidimpuan Ungkap Modus Aksi Pencurian
kota
Belum Masuk Daftar Huntap, Empat Keluarga Korban Longsor Tapsel Harap Perhatian Pemerintah
kota
Wabup Atika Tinjau CT Scan 64 Slice dan Cath Lab RSUD Panyabungan, Layanan Kesehatan Madina Makin Modern
kota
Wabup Padang Lawas Sambut Tim Kemenkes, RSUD Sibuhuan Bersiap Hadirkan Layanan Cuci Darah
kota
SPS Prihatin Perjanjian Perdagangan RI&ndashAS Berpotensi Hilangkan Kedaulatan Digital dan Media Nasional
kota
Safari Ramadan di Halongonan Timur, Bupati Padang Lawas Utara Resmikan Jalan dan Salurkan Bantuan untuk Warga
kota
Aktivitas Tambang Emas Ilegal di Kotanopan Disorot, Pemuda Mandailing Minta TNI&ndashPolri Bersatu Bertindak
kota
Ramadan Penuh Kebersamaan, Polres Padangsidimpuan Shalat Tarawih Berjamaah dengan Masyarakat
kota
Jelang Idul Fitri 2026, Satreskrim Polres Padangsidimpuan Turun ke Pasar Cek Harga Sembako
kota
Jelang Berbuka Puasa, Sat Binmas Polres Padangsidimpuan Bagi 70 Paket Takjil kepada Masyarakat
kota