Ketika Anak Pengungsi Rohingya Bersekolah

0
968

Langsa I SUMUT24
Sebanyak enam anak pengungsi Rohingya asal Myanmar, kini sudah mulai mengikuti proses belajar-mengajar di SD Negeri 13 Gampong (desa) Matang Seulimeng, Kecamatan Langsa Barat, Selasa (29/3).

Keenam anak itu yakni Samah Bibi (7), Yasurahman (7), Somir Khan (8) dan Sadeka (8). Keempatnya belajar di kelas I, sedangkan, Julekha (10) dan Yasir Arafat (10) belajar di kelas II. Sementara kelengkapan pakaian sekolah dan lainnya mereka diberikan oleh Save The Children.

Wakil Satuan Petugas (Wasatgas) Penanggulangan Pengungsi Rohingya  Kota Langsa, Suriyatno  AP MSP, kepada SUMUT24, mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pendidikan setempat, atas kerjasamanya, sehingga keenam anak Rohingya itu bisa mendapatkan pendidikan formal di sekolah dimaksud.

Diungkapkan, meskipun selama 10 bulan tinggal di barak pengungsian Gampong Lhok Bani, ada diberikan bekal belajar.Namun, terlihat wajah keceriaan keenam anak Rohingya pertama mulai masuk sekolah  sangat berbeda ketika menggunakan seragam sekolah untuk belajar di sekolah formal.

Sekitar pukul 07.30 WIB, mereka sampai di sekolah itu yang diantar oleh tim dari Save The Children langsung disambut baik dan gembira oleh guru dan ratusan murid SD dimaksud.

Apalagi, anak-anak Rohingya  ini tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan teman-teman barunya dengan bermodalkan bahasa Indonesia yang masih belum begitu lancar dan itu dilihat saat jam istirahat mereka langsung bermain bersama murid sekolah lainnya.

Keenam anak ini akan bersekolah selama tiga hari dalam seminggu dan selebihnya akan dilanjutkan di sekolah barak yang ada. Sedangkan, untuk nilai yang diisi dalam rapor dan ijazah nanti akan di musyawarahkan lagi dengan pihak-pihak terkait.

Namun, yang penting saat ini untuk sementara mereka bisa bersekolah di sekolah formal, karena dengan bersekolah membuat psikologinya menjadi senang disebabkan bisa bermain dan belajar dengan teman-teman lain yang selama ini tidak dijumpai di barak pengungsian.

Diharapkan, kepada pihak-pihak terkait untuk terus membantu proses belajar anak-anak pengungsi ini, karena bagi anak Rohingya seusianya dibutuhkan pendidikan sebagaimana mestinya dan akhirnya nanti bisa menambah wawasan baginya.

Lebih lanjut Suriyatno mengatakan, pengungsi Rohingya di barak Lhok Bani berjumlah 30 orang. Diantaranya, 12 orang berusia antara 0-12 tahun dan  lima orang anak usia  13-18 tahun. Namun, baru enam yang sudah masuk  sekolah formal, sedangkan, untuk anak dibawah umur 7 tahun akan tetap dilanjutkan dengan pendidikan anak usia dini (PAUD) di barak dan seminggu sekali ada kegiatan bersama dengan sekolah PAUD sekitar barak pengungsian.

Sementara,  remaja putri usia 13-18 tahun dan orang tua akan dilatih tata boga bersama usaha kecil menengah (UKM) keripik Gampong Seulalah, Kecamatan Langsa Lama.

Untuk pengungsi di barak Timbang Langsa berjumlah 41 orang. Diantaranya, 13 anak pria berusia 13-18 tahun. Mereka nantinya akan diberikan pelatihan keterampilan, seperti, pertukangan kayu, gerabah, kerajinan tangan, peternakan dan pertanian bersama PKBM Langsa.( Han)