Kamis, 03 September 2026

Kanker Paru Jarang Datang Lewat Sesak Napas, Waspadai Gejala Sepele Ini

Administrator - Rabu, 02 September 2026 09:07 WIB
Kanker Paru Jarang Datang Lewat Sesak Napas, Waspadai Gejala Sepele Ini
dr. Mardianto, Sp.PD, K-EMD, FINASIM, Hospital Director Columbia Asia Hospital Aksara.Foto.ist
sumut24.co - Medan

Baca Juga:

Batuk yang tak kunjung reda sering kali dianggap sebagai keluhan ringan biasa. Padahal, jika batuk berlangsung lebih dari tiga minggu, tidak membaik usai diobati, atau disertai keluhan lain, kondisi ini membutuhkan perhatian dan pemeriksaan medis yang tepat.

Dokter spesialis paru mengingatkan masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan hingga mengalami sesak napas. Batuk yang menetap bisa menandakan pelbagai masalah kesehatan, mulai dari asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), asam lambung (GERD), alergi, efek samping obat, hingga infeksi. Pada sebagian kasus, batuk juga menjadi gejala awal dari penyakit yang lebih serius seperti kanker paru.

"Tidak semua batuk kronis berarti kanker paru. Namun, batuk yang menetap lebih dari tiga minggu atau tidak membaik setelah pengobatan perlu dievaluasi lebih lanjut. Jangan menunggu sampai timbul gejala berat, karena deteksi dini adalah kunci keberhasilan penanganan," ujar dr. Supiono, Sp.P(K), Dokter Spesialis Paru di Columbia Asia Hospital Aksara.


Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kanker paru merupakan penyebab utama kasus sekaligus kematian akibat kanker di tingkat global. Sepanjang tahun 2022 saja, tercatat ada sekitar 2,5 juta kasus baru dan 1,8 juta kematian akibat penyakit ini. WHO menyayangkan banyak diagnosis terlambat terjadi karena gejala awalnya cenderung ringan dan mirip gangguan pernapasan biasa.

Di Indonesia, dampaknya tidak kalah mengkhawatirkan. Data IARC/GLOBOCAN 2022 menempatkan kanker paru sebagai jenis kanker dengan angka kejadian dan kematian tertinggi pada laki-laki. Angka kejadiannya mencapai 21,3 per 100.000 penduduk laki-laki, sedangkan angka kematiannya mencapai 19,0 per 100.000 penduduk.

Faktor Risiko dan Gejala Utama yang Perlu Diwaspadai

Rokok masih menjadi pemicu utama, namun bukan satu-satunya. Ada beberapa faktor risiko lingkungan dan pekerjaan yang patut diwaspadai, seperti paparan asap rokok pasif, polusi udara, serta paparan bahan kimia industri di tempat kerja (seperti asbestos, silika, dan gas buang diesel).

Mengingat faktor risikonya yang beragam, masyarakat diimbau untuk tidak terus-menerus mengonsumsi obat batuk bebas tanpa arahan dokter.

Beberapa gejala yang perlu menjadi perhatian dan memerlukan penanganan medis segera antara lain:

- Batuk yang intensitasnya semakin berat atau memburuk.

- Batuk bercampur darah.

- Nyeri dada dan sesak napas.

- Penurunan berat badan drastis tanpa sebab jelas.

- Kelelahan kronis dan infeksi paru yang terus berulang.

- Langkah Pencegahan dan Diagnosis Tepat

Secara medis, batuk pada orang dewasa yang berlangsung delapan minggu atau lebih dikategorikan sebagai batuk kronis. Sementara batuk yang berlangsung tiga hingga delapan minggu masuk kategori subakut dan tetap memerlukan evaluasi medis.

"Pemeriksaan klinis diperlukan untuk mencari penyebab yang tepat, bukan untuk menyimpulkan diagnosis hanya dari satu gejala semata," tegas dr. Mardianto, Sp.PD, K-EMD, FINASIM, Hospital Director Columbia Asia Hospital Aksara.

Masyarakat—terutama perokok aktif, mantan perokok, orang yang sering terpapar polusi atau asap rokok, serta pekerja berisiko tinggi—diimbau tidak ragu berkonsultasi. Upaya menjaga kesehatan paru dapat dimulai dari langkah nyata seperti berhenti merokok, menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai standar kerja, serta menjaga kualitas udara di lingkungan sekitar.

Mengenali sinyal bahaya dari batuk sejak awal akan membantu seseorang mendapatkan penanganan medis yang pas sebelum kondisi berkembang menjadi lebih buruk. Rel

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Waspada 'Kesemutan Digital', Columbia Asia Hospital Aksara Soroti Risiko Gangguan Saraf pada Pekerja Muda
Tekan Risiko Stroke pada Wanita, Columbia Asia Hospital Aksara Gencarkan Skrining Dini
Sambut Hari Hipertensi Sedunia, Columbia Asia Hospital Aksara Dorong Skrining Dini untuk Wanita Usia Produktif
komentar
beritaTerbaru