Selasa, 30 Juni 2026

Nelayan Ikan Teri Ngadu ke Djarot

Administrator - Senin, 19 Februari 2018 16:17 WIB
Nelayan Ikan Teri Ngadu ke Djarot

MEDAN I SUMUT24

Baca Juga:

Perwakilan Himpunan Nelayan Teri Indonesia (HNTERI) Kota Medan bersama sejumlah himpunan nelayan di Sumut, menyampaikan keluh kesah soal pukat tarik kepada Djarot Saiful Hidayat.

Kepada Djarot, nelayan mengadu. Mereka pun meminta agar Djarot menyampikan kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (Bu Susi) membatalkan larangan penggunaan alat tangkap pukat tarik.

Menurut nelayan, tudingan Bu Susi bahwa penggunaan pukat tarik merusak ekosistem itu tidak benar.

“Kami tidak pernah menyisir sampai di dasar laut. Sebab kalau sampai dasar, lumpur akan terikut sehingga ikan teri tidak bisa diolah,” ucap Suardi Siagian, perwakilan HNTERI Kota Medan kepada wartawan usai silaturahmi di Medan, Senin (19/2).

Sebab, kata nelayan, ketika melakukan penangkapan ikan teri, pukat tariknya melayang di permukaan laut. Jika Bu Susi tetap melarang penggunaan alat tangkap ikan pukat tarik, mereka tidak dapat menangkap ikan teri.

“Dan, ikan teri nasi yang selama ini sudah terkenal dari Kota Medan, bakal hilang dari pasar. Perairan laut Sumatera Utara tidak ada terumbu karang. Di sini lumpur semua. Saya asli nelayan,” timpal Burhan Simanjuntak, salah seorang nelayan.

Hal senada juga disampaikan Khairul Rasyid, Ketua Asosiasi Nelayan Kota Tanjungbalai. Dia menyampaikan bahwa mereka sempat senang ketika Presiden Jokowi pernah bilang, cantrang dan sejenisnya sudah bisa beroperasi. Nelayan bisa mencari ikan di Laut Selat Malaka dan Pantai Barat. “Kami sudah sempat senang,” ujar Khairul.

Tapi belakangan, ternyata kebijakan itu hanya boleh dilakukan bagi nelayan di Pulau Jawa dan Madura. Mereka pun berharap pemerintah memberikan solusi agar jangan sampai terjadi bentrok antar nelayan. Jangan ada lagi pembakaran.

Menanggapi keluhan nelayan, Djarot Syaiful Hidayat berjanji akan bertemu dengan Menteri Kelautan Susi Pujiastuti. Kita akan menyampaikan aspirasi para nelayan di Sumatera Utara agar alat tangkap disesuaikan.

“Yang gak boleh alat tangkap merusak ekosistem, tidak merusak terumbu karang. Seperti menggunakan bom ikan, itu tidak boleh,” terangnya.

Kepada nelayan, Djarot berpesan para nelayan jangan terfokus menangkap ikan saja tapi melakukan budidaya. Laut Indonesia kaya. “Jadi menangkap ikan oke, budidaya juga oke. Budidaya merupakan alternatif untuk memenuhi kebutuhan ikan di pasar,” pesannya.

Terakhir, Djarot mengajak para nelayan bagaimana agar ikan dari Sumatera Utara bisa masuk ke pasar internasional, seperti: Malaysia, India, Pakistan dan lainnya. (W03)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Siapkan Generasi Muda Kuasai Konten Digital di Era AI, Dispersip Kabupaten Solok Gandeng Supri Ardi dan Uda Rio
Tim URC Jatanras Polda Sumut Tembak Lima Tersangka Pelaku Curanmor Antar Provinsi
Personel Polres Tapsel Tabrak Mobil Warga karena Cemburu Dipatsus
Ketua PSI Asahan Ucapkan Selamat HUT Bhayangkara ke-80, Jadilah Pelayan Utama yang Semakin Presisi
Rekam Jejak Narendra Modi: Transformator India Menuju Era Baru
Bupati Dukung Rakerda dan Family Gathering JMSI Sumut dan Pelantikan JMSI Sergai/Tebingtinggi
komentar
beritaTerbaru