Kamis, 13 Agustus 2026

TAPSEL: “TAK PERNAH SELESAI” HARUS BERUBAH MENJADI “TETAP PASTI SELESAI”

Administrator - Kamis, 13 Agustus 2026 22:57 WIB
TAPSEL: “TAK PERNAH SELESAI” HARUS BERUBAH MENJADI “TETAP PASTI SELESAI”

Oleh: H Syahrir Nasution

Baca Juga:

Bencana yang melanda Tapanuli Selatan (Tapsel) tidak semestinya hanya dibaca sebagai sebuah peristiwa alam. Ia harus menjadi momentum untuk melakukan koreksi besar terhadap cara kita memahami ruang, mengelola lingkungan, membangun infrastruktur, sekaligus menyiapkan masa depan daerah.

Karena itu, pernyataan Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, yang tidak menginginkan hasil penelitian para akademisi berhenti sebagai dokumen, patut diapresiasi.

Itu bukan sekadar kalimat seorang kepala daerah.

Itu adalah pesan penting bahwa ilmu pengetahuan harus turun dari ruang-ruang seminar menuju meja kebijakan, dari laporan penelitian menjadi program kerja, dan dari rekomendasi menjadi tindakan nyata.

Para akademisi dari UI, ITB, UGM, USU, UNAS dan berbagai perguruan tinggi maupun lembaga lainnya telah memberikan perspektif ilmiah. Tantangannya sekarang bukan lagi sekadar apa yang ditemukan, melainkan apa yang akan dilakukan berdasarkan temuan tersebut.

Di titik inilah Tapsel membutuhkan sebuah paradigma baru.

TAPSEL tidak boleh lagi dimaknai sebagai "Tak Pernah Selesai". Tapsel harus kita dorong menjadi: "Tetap Pasti Selesai".

Dari Penelitian Menuju Kebijakan

Bencana banjir dan berbagai dampaknya harus menjadi titik balik.

Jangan sampai setelah air surut, lumpur dibersihkan, bantuan disalurkan, rumah diperbaiki dan aktivitas masyarakat kembali berjalan, persoalan dianggap selesai.

Sebab bencana mungkin telah berlalu, tetapi kerentanan belum tentu hilang.

Jika penyebab dan faktor risikonya tidak ditangani, maka masyarakat hanya sedang menunggu bencana berikutnya.

Karena itu, hasil penelitian harus diterjemahkan menjadi peta jalan pembangunan Tapsel.

Peta jalan tersebut setidaknya harus menjawab beberapa pertanyaan mendasar:

Bagaimana kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS)?

Wilayah mana yang memiliki tingkat kerawanan paling tinggi?

Bagaimana perubahan tata guna lahan memengaruhi daya dukung lingkungan?

Infrastruktur seperti apa yang sesuai dengan karakteristik geografis dan hidrologis Tapsel?

Di mana kawasan yang harus dipulihkan?

Di mana pembangunan harus dibatasi?

Dan yang paling penting, siapa melakukan apa, kapan, dengan anggaran berapa, serta bagaimana hasilnya diukur?

Tanpa jawaban konkret terhadap pertanyaan-pertanyaan itu, penelitian berpotensi kembali menjadi tumpukan dokumen di lemari pemerintahan.

Gus Irawan dan Momentum Membalik Cara Berpikir

Sebagai eksekutif pemerintahan sekaligus pamong praja, sikap Gus Irawan yang mendorong agar kajian akademik menghasilkan tindakan nyata merupakan langkah yang bijaksana.

Kepala daerah tidak cukup hanya menjadi administrator pembangunan.

Ia harus menjadi pengarah perubahan.

Dalam konteks Tapsel pascabencana, kepala daerah memiliki posisi strategis untuk mempertemukan tiga kekuatan besar: ilmu pengetahuan, kebijakan pemerintah, dan partisipasi masyarakat.

Akademisi memiliki pengetahuan.

Pemerintah memiliki kewenangan dan instrumen anggaran.

Masyarakat memiliki pengalaman langsung atas perubahan lingkungan yang terjadi di wilayahnya.

Ketiganya harus disatukan.

Sebab tidak mungkin persoalan sebesar pemulihan DAS, penataan ruang dan mitigasi bencana diselesaikan hanya oleh pemerintah. Begitu pula tidak cukup diselesaikan hanya dengan penelitian akademik.

Yang dibutuhkan adalah orkestrasi kebijakan berbasis ilmu pengetahuan.

Tapsel Harus Memiliki "Blueprint" Pascabencana

Tapsel membutuhkan sebuah dokumen yang lebih dari sekadar kajian.

Sebuah Blueprint Tapsel Tangguh.

Blueprint ini harus menjadi dokumen hidup yang mengikat arah pembangunan daerah dalam jangka pendek, menengah dan panjang.

Di dalamnya harus ada prioritas pemulihan DAS, rehabilitasi kawasan kritis, pengendalian tata ruang, pembangunan infrastruktur berbasis risiko bencana, sistem peringatan dini, penguatan desa-desa rawan bencana, hingga mekanisme pengawasan terhadap aktivitas ekonomi yang berpotensi memperbesar kerentanan ekologis.

Setiap rekomendasi harus memiliki indikator keberhasilan.

Jika rekomendasinya rehabilitasi DAS, harus jelas berapa luas yang dipulihkan.

Jika rekomendasinya penataan ruang, harus jelas kawasan mana yang dikoreksi.

Jika rekomendasinya pembangunan infrastruktur, harus jelas standar teknis apa yang digunakan.

Dengan demikian, keberhasilan tidak lagi diukur dari berapa banyak proyek yang dibangun, tetapi seberapa besar risiko bencana berhasil dikurangi dan seberapa kuat masyarakat terlindungi.

Jangan Sekadar Memperbaiki yang Rusak

Ada satu jebakan besar dalam pembangunan pascabencana: pemerintah cenderung terburu-buru mengembalikan keadaan seperti sebelum bencana.

Padahal, kondisi sebelum bencana belum tentu merupakan kondisi yang ideal.

Kalau jembatan rusak, jangan sekadar dibangun kembali dengan desain lama.

Kalau jalan putus, jangan hanya dikembalikan seperti semula.

Kalau bantaran sungai rusak, jangan hanya diperkuat tanpa melihat sistem DAS secara keseluruhan.

Prinsipnya harus berubah:

Bukan membangun kembali seperti semula, tetapi membangun kembali dengan lebih aman, lebih tangguh dan lebih sesuai dengan karakter alam.

Inilah esensi pembangunan pascabencana yang sesungguhnya.

Saatnya Membuat Benchmarking Tapsel

Gagasan Gus Irawan agar hasil penelitian menjadi pijakan kebijakan sebenarnya dapat dikembangkan lebih jauh.

Tapsel dapat menjadikan dirinya sebagai benchmarking pembangunan daerah berbasis mitigasi bencana dan pemulihan ekosistem.

Artinya, setiap kebijakan pembangunan harus diuji dengan pertanyaan sederhana:

Apakah kebijakan ini membuat Tapsel lebih tangguh atau justru lebih rentan?

Pertanyaan tersebut harus menjadi semacam filter bagi seluruh kebijakan daerah.

Dengan pendekatan itu, pembangunan jalan, jembatan, permukiman, kawasan ekonomi, pertanian, perkebunan, hingga pengembangan wilayah harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan risiko bencana.

Dari Bencana Menuju Kebangkitan

Bencana memang meninggalkan luka.

Tetapi dari luka itu seharusnya lahir kesadaran baru.

Tapsel tidak boleh terus-menerus berada dalam siklus yang sama: bencana – tanggap darurat – rehabilitasi – pembangunan – lalu bencana kembali.

Siklus itu harus diputus.

Caranya dengan menjadikan pengalaman bencana sebagai bahan evaluasi permanen dalam pembangunan.

Dan di sinilah gagasan sederhana tetapi kuat itu menemukan maknanya:

TAPSEL: TAK PERNAH SELESAI, harus kita ubah menjadi TAPSEL: TETAP PASTI SELESAI.

Selesai bukan berarti semua persoalan lenyap.

Selesai berarti ada arah yang jelas.

Ada target.

Ada tahapan.

Ada indikator.

Ada pengawasan.

Ada keberanian mengoreksi kebijakan.

Dan yang paling penting, ada komitmen untuk memastikan masyarakat Tapsel tidak terus-menerus menjadi korban dari kesalahan yang sama.

Gus Irawan telah membuka pintu dengan mengatakan bahwa penelitian jangan berhenti menjadi dokumen.

Sekarang tinggal bagaimana pintu itu dibuka lebih lebar.

Para ilmuwan menyampaikan temuannya. Pemerintah menerjemahkannya menjadi kebijakan. Masyarakat mengawasinya. Dan seluruh elemen daerah bergerak bersama.

Jika itu dapat diwujudkan, maka bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan.

Ia juga dapat menjadi titik awal lahirnya Tapsel yang lebih tangguh, lebih tertata, lebih ilmiah dalam mengambil keputusan, dan lebih berani menatap masa depan.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan bukanlah seberapa indah dokumen yang dihasilkan.

Ukuran keberhasilannya adalah seberapa jauh dokumen itu mampu mengubah kehidupan rakyat.

Dan untuk Tapsel, waktunya adalah sekarang.***

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Bupati Gus Irawan Dorong Kajian Batang Toru Jadi Kebijakan Nyata Pascabencana
Sekolah Rakyat di Tapsel Mulai Tahun Ajaran Perdana, 270 Siswa dari Keluarga Kurang Mampu Diterima
Bupati Tapsel Lantik 10 Pejabat Eselon II, Sejumlah Jabatan Strategis yang Kosong Kini Terisi
Di Tengah Tugas Berantas Narkoba, Satresnarkoba Tapsel Tebar Kepedulian
Tak Kebagian Warisan, Adik Diduga Habisi Abang di Kebun Tapsel
Bocah 6 Tahun Tewas di Galian Sumur Tapsel, Polisi Tangkap Kerabat Korban
komentar
beritaTerbaru