Rabu, 13 Mei 2026

Lima Minggu Buruh Tidak Digaji, DPRD Medan Segera Panggil Podomoro

Administrator - Kamis, 02 Februari 2017 09:55 WIB
Lima Minggu Buruh Tidak Digaji, DPRD Medan Segera Panggil Podomoro

Medan|SUMUT24 Belum tuntas masalah temuan Komisi D DPRD Medan, Senin (31/1) adanya bangunan drainase yang memakan badan jalan atau diluar ketentuan dan aturan yang ditetapkan Pemko Medan di mega proyek Podomoro Dei City.

Baca Juga:

Menyusul pula aksi ratusan buruh mega proyek Podomoro City Deli Medan tidak masuk lokasi pembangunan gedung, Selasa (1/2) karena sudah lima minggu tidak dibayar gajinya oleh PT Totalindo Eka Persada yakni penanggungjawab proyek bangunan Podomoro City Deli Medan.

Ketua Komisi D Sahat Simbolon menyatakan, pihaknya akan segera melakukan pemanggilan kepada pihak Podomoro City, Dinas PU Medan, pihak Telkom serta Perusahaan Gas Nasional (PGN) secepatnya untuk menguak kasus drainase.

Sementara Ketua DPRD Medan, Henry Jhon Hutagalung, meminta Dinas Tenaga Kerja untuk melakukan sidak ke lokasi proyek terkait masalah ratusah buruh yang sudah lima minggu tidak digaji.

“Wah, baru tahu saya. Gak boleh seperti ini, penundaan gaji bisa meluas ke masalah baru termasuk kriminalitas. Disnaker harus cepat turun ke lapangan,” kata Hanry Jhon, Rabu (1/2).

a juga menyayangkan pihak pengelola Podomoro dalam hal ini PT Totalindo Eka Persada mempergunakan tenaga kerja luar Medan, mengingat banyak tenaga kerja di Medan memiliki ketrampilan yang sama.

“Saya baru tahu 80 persen pekerja di sana dari luar Medan. Di Medan kan banyak orang yang mampu. Tapi ini bukan pelanggaran, jadi DPRD tak bisa berbuat banyak,” sambungnya.

Sementara itu Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Medan, Hannalore Simanjuntak menyebutkan pihaknya tak dapat turun ke lapangan apabila tak ada surat laporan dari para pekerja Podomoro.

“Kirim surat ke kami (Disnaker). Kebetulan saya baru dilantik, belum begitu paham mekanisme. Tapi kami intinya kami pasti bantu kalau ada laporan,” jelas Hannalore.

Dililit Hutang dan Diusir Dari Kontrakan

Tak seperti biasa, ratusan buruh mega proyek Podomoro City Deli Medan belum juga memasuki lokasi pembangunan gedung, Selasa (1/2).

PT Totalindo Eka Persada yakni penanggungjawab proyek bangunan Podomoro City Deli Medan, sudah 5 (lima) minggu tidak membayar gaji pekerja/tukang.

Para buruh terlihat duduk di warung kopi sekitar proyek Podomoro. Buruh kayu bernama Ian menyebutkan sudah tak menerima gaji sejak lima minggu yang lalu.

“Tadi jam 08.00 WIB sudah ke proyek tapi balik lagi karena sampai sekarang gaji gak diberikan,” jelas Ian di Warung Kopi sekitar Sungai Deli.

Beberapa buruh juga terlihat keluar dari proyek bangunan. Mereka keluar dengan menenteng helm yang mayoritas berwarna biru dan kuning. Tak sedikit pula yang menenteng bekal di kantong plastik.

“Ini kan mereka keluar semua. Janjinya hari ini gajian. Tapi gak ada kejelasan sampai hari ini,” sambungnya. Hal yang sama juga disebutkan buruh asal Malang, Santo. Bahkan untuk makan ia telah menghutang ke warung.

Para buruh Podomoro bekerja dengan upah harian dengan harga bervariasi, yakni Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu.

Satu diantara pekerja asal Medan Sulaiman (32) mengaku tak takut dipecat asalkan gajinya dibayar oleh PT Totalindo Eka Persada yakni penanggungjawab proyek bangunan Podomoro City Deli Medan.

Sulaiman menceritakan gajinya dan ratusan buruh lainnya, belum dibayar sejak lima minggu yang lalu.

“Gak takut saya dipecat. Hak saya ini. Perusahaan besar kok gaji buruhnya macet,” jelas Sulaiman di kompleks tempat tinggal buruh Podomoro Jalan Sei Deli, Medan, Rabu (1/2).

Ia menyebutkan dari pada menjadi tukang bangunan di Podomoro lebih bagus menjadi tukang bangunan rumahan. Menjadi tukang Podomoro mempertaruhkan nyawa. Tak hanya itu, banyak peraturan yang ditetapkan pengelola kepada para buruh.

“Kehidupan kita melarat, padahal taruhan kita nyawa. Peraturan di sini ketat. Kalau kita merokok denda Rp 500 ribu, gak pakai helm denda Rp 500 ribu, buang sampah denda Rp 500 ribu. Tapi soal gaji malah gak ketat,” sambungnya.

Keterlambatan membayar gaji tak hanya terjadi pada kali ini saja. Sulaiman mengungkapkan bahwa baru- baru ini ia beserta anak dan istrinya diusir dari rumah karena tak sanggup membayar kontrakan.

“Kemarin, anak dan istri saya diusir dari kontrakan di Jalan Puri Medan. Gak ada duit kami bayar kontrakan,” jelasnya .

Pihak PT Totalindo Eka Persada tidak dapat dikonfirmasi, pihak keamanan tak memberikan izin masuk ke kantor Totalindo dan menyarankan untuk ke kantor pemasaran yang terletak di Jalan Putri Hijau. Namun hasilnya tetap sama, tidak bisa dikonfirmasi.(R02)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Dukung Sakkamadeha Kembangkan Tenun Ulos Sebagai Kekuatan Ekonomi Kreatif Berkelanjutan
Cahaya Listrik PLN Membawa Bahagia Dan Akhiri Penantian Panjang Warga Dusun Untemungkur
Wakil Wali Kota Tanjungbalai Dorong Percepatan Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih
Wakil Wali Kota Tanjungbalai Siap Dukung Program FKUB untuk Perkuat Kerukunan Umat
Wali Kota menghadiri acara Wisuda Lansia, yang digelar di Ruang Data Balai Kota
Walikota menghadiri Sispam kota Pematangsiantar yang di gelar oleh Polres
komentar
beritaTerbaru