Eksistensi “Mangupa” pada Keluarga Nasution

Catatan: Ali Sati Nasution

UPACARA Adat Mangupa di Mandailing  adalah salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga saat sekarang. Seperti yang telah diyakini sejak nenek moyang, upaca mangupa sasarannya adalahu Tondi (membangkitkan semangat) atau rasa syukur atas suatu keberhasilan.

Dalam tradisi “Mangupa” itu  disampaikan pesan-pesan dan petunjuk kepada orang yang Diupa. Menyampaikan nasihat menurut hukum Islam berpahala. Tentu sesuatu yang naib apabila upara mangupa itu masih ada yang menganggap dan memandangnya sesuatu yang negatif. Tradisi mangupa menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Mandailing. Tidak saja dikampung asal, tetapi di perantauan juga mentradisi.

Eksitensi dari dari Holong dan Domu menjadi para-digma atau suatu tolok ukur,sekaligus sumber dari segala sumber masyarakat adat. Tidak hanya orangtua yang dapat menunjukkan rasa Holong kepada putranya yang Diupa pada saat Horja perkawinan.

Namun masyarakat adat Mandailing dari bebera etnis marga dapat melaksanakan upa-upa kepada kerabatnya sesuai yang dihajatkan. Dalam upara Mangupa ini bisa pula terjadi keharuan, kegembiraan atau akumulasi dari keduanya, terutama bagi yang Diupa.

Di satu sisi, upacara ini dilakukan untuk mengem-balikan semangat atau tondi ke dalam jiwa dan raga. Tidak hanya itu, menurut beberapa pakar adat, Upacara Adat Mangupa ini dilakukan untuk menguatkan dan memberi semangat kepada anak atau boru yang sedang sakit, terkejut atau baru saja lolos dari bahaya yang mengancam dirinya.

Dahulu, orang-orang yang sakit dan lemah akan dia-nggap sudah kehilangan tondi atau auranya, diupa-upa menjadi salah satu pembangkit semangat. Karena itulah, tubuh orang ini harus diupa-upa untuk meng-embalikan tondi ke dalam dirinya, utuh seperti sedia-kala.*

Kiriman Ali Sati Nasution, reprensi buku Adat Budaya Mandailing Dalam Tantangan Zaman, karya H.Pandapotan Nasution SH.***