Selasa, 08 September 2026

Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Indonesia Terjaga Kuat di Tengah Gejolak Global dan Tekanan Inflasi

Administrator - Selasa, 08 September 2026 12:12 WIB
Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Indonesia Terjaga Kuat di Tengah Gejolak Global dan Tekanan Inflasi
sumut24.co - Jakarta

Baca Juga:

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional berada dalam kondisi stabil dan resilient sepanjang Agustus 2026. Ketahanan ini dicapai di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik global—termasuk konflik yang berlarut di kawasan Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz—serta tekanan inflasi akibat gangguan rantai pasok energi dan dampak El Nino global. Di tingkat domestik, perekonomian Indonesia mencatatkan pertumbuhan yang tetap kuat sebesar 5,29 persen (yoy) pada triwulan II-2026, ditopang oleh kinerja investasi, belanja pemerintah, serta konsumsi rumah tangga yang solid.


Pasar modal Indonesia menunjukkan tren pemulihan yang positif sepanjang bulan Agustus 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 4,64 persen (mtm) hingga ditutup pada level 6.525,48. Aktivitas investor asing mencatatkan aliran modal masuk bersih (net buy) sebesar Rp1,19 triliun di pasar saham dan net buy sebesar Rp15,35 triliun pada Surat Berharga Negara (SBN). Selain itu, OJK bersama SRO meluncurkan instrumen Exchange Traded Fund (ETF) Emas sebagai langkah konkret pendalaman pasar finansial nasional.


Di sektor perbankan, fungsi intermediasi menunjukkan laju pertumbuhan yang semakin solid. Penyaluran kredit perbankan per Juli 2026 melonjak 13,58 persen (yoy) menjadi Rp9.135 triliun, di mana pendorong utama berasal dari Kredit Investasi yang melesat hingga 25,13 persen (yoy). Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) terakselerasi sebesar 11,21 persen (yoy) hingga mencapai Rp10.336 triliun. Kualitas kredit tetap terjaga aman dengan rasio NPL gross sebesar 2,10 persen dan NPL net sebesar 0,81 persen, ditopang permodalan kokoh dengan CAR sebesar 23,84 persen.


Kinerja sektor Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) juga tercatat terjaga. Total aset industri asuransi per Juli 2026 mencapai Rp1.172,90 triliun, didorong oleh pendapatan premi asuransi komersial sebesar Rp199,80 triliun. Permodalan industri asuransi tergolong sangat sehat dengan Risk Based Capital (RBC) asuransi jiwa berada di tingkat 455,23 persen dan asuransi umum sebesar 322,01 persen (di atas batas minimum 120 persen). Sementara itu, total aset industri dana pensiun tumbuh 6,70 persen (yoy) mencapai Rp1.699,99 triliun.


Sektor Lembaga Pembiayaan, Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya (PVML) terus menunjukkan tren ekspansif. Piutang Perusahaan Pembiayaan tumbuh 2,01 persen (yoy) menjadi Rp513,05 triliun dengan tingkat risiko NPF gross terkendali di 3,03 persen. Lebih lanjut, industri Fintech Peer-to-Peer (P2P) Lending atau pinjaman daring mencatatkan outstanding pembiayaan yang tumbuh pesat sebesar 24,76 persen (yoy) hingga menembus Rp105,63 triliun, dengan rasio kredit macet (TWP90) berada pada posisi 4,32 persen.


Pada sektor Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK) dan Aset Kripto, OJK terus memperluas pengujian inovasi melalui fasilitas Regulatory Sandbox. Hingga Agustus 2026, sebanyak 7 peserta sandbox dinyatakan lulus uji coba untuk model bisnis tokenisasi aset hingga penerbitan stablecoin Rupiah. Untuk perdagangan aset kripto, jumlah akun konsumen terdaftar meningkat mencapai 22,93 juta akun pada Juli 2026, di mana OJK telah secara resmi menerbitkan izin usaha kepada PT Indonesia Digital Exchange (DEX) sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD).


Pengembangan industri keuangan syariah di Indonesia turut menunjukkan kinerja dan pertumbuhan yang stabil. Pembiayaan perbankan syariah tumbuh kuat sebesar 11,82 persen (yoy) mencapai Rp744,51 triliun, serta nilai outstanding Sukuk Korporasi tumbuh 7,02 persen secara ytd. Di sektor asuransi syariah, OJK memproyeksikan pada akhir tahun 2026 akan terbentuk sebanyak 38 Perusahaan Asuransi dan Reasuransi Syariah full-fledged melalui proses spin-off maupun pengalihan portofolio bisnis.


Di bidang literasi dan inklusi keuangan, OJK bersama BPS dan LPS mengumumkan pencapaian penting dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026. Indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia berhasil menyentuh angka 69,57 persen, sementara indeks inklusi keuangan melonjak ke level 93,61 persen. Capaian ini secara resmi telah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 untuk target tahun 2029.

OJK bersama Satgas PASTI terus memperketat pengawasan dan pelindungan konsumen dari bahaya aktivitas keuangan ilegal. Sepanjang tahun 2026 hingga 31 Agustus, Satgas PASTI berhasil menghentikan 1.222 entitas ilegal, yang terdiri dari 951 pinjaman online ilegal, 242 investasi bodong, dan 27 usaha gadai ilegal. Selain itu, operasional Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) terbukti efektif memblokir 659.419 rekening mencurigakan dan berhasil mengembalikan dana korban penipuan senilai Rp206 miliar.


Guna memastikan stabilitas sistem keuangan jangka panjang, OJK secara konsisten memperkuat penegakan hukum dan efektivitas regulasi di seluruh sektor. Langkah strategis yang diambil meliputi penataan Konglomerasi Keuangan melalui kewajiban pembentukan Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan (PIKK), rancangan POJK Demutualisasi Bursa Efek, penegakan disiplin market conduct, serta persiapan pengalihan kewenangan pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS). Rel

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Sumber
:
SHARE:
Tags
OJK
beritaTerkait
OJK Pencanangkan Bulan Dana Pensiun 2026 untuk Membangun Ketahanan Finansial Masyarakat Sejak Dini
OJK Perkuat Akses Keuangan Pelajar, Sumut dan Pematangsiantar Raih KEJAR Award 2026
Satgas PASTI Terima 25 Ribu Pengaduan Keuangan Ilegal, IASC Blokir Dana Scam Rp724 Miliar
OJK DAN PEMKAB KARO PERKUAT BUDAYA MENABUNG BAGI PELAJAR
Industri Keuangan Syariah Terus Tumbuh Positif, Aset Tembus Rekor Rp3.131 Triliun
OJK PERKUAT PERAN DI SUMATERA UTARA MELALUI PENGUATAN KEPEMIMPINAN DAN KAPASITAS KELEMBAGAAN
komentar
beritaTerbaru