Sabtu, 10 Januari 2026

Ketahanan Sektor Keuangan Indonesia 2026, IHSG Cetak Rekor dan Perbankan Semakin Solid

Administrator - Jumat, 09 Januari 2026 16:07 WIB
Ketahanan Sektor Keuangan Indonesia 2026, IHSG Cetak Rekor dan Perbankan Semakin Solid
sumut24.co -

Baca Juga:

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia tetap kokoh dalam menghadapi prospek ekonomi tahun 2026. Dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan akhir Desember 2025, OJK menilai bahwa meskipun dinamika global penuh ketidakpastian, fondasi ekonomi domestik memberikan bantalan yang kuat. Hal ini didukung oleh inflasi inti yang terjaga serta aktivitas manufaktur yang terus berada di zona ekspansi.

Kondisi global sendiri menunjukkan tren perlambatan di bawah rata-rata prapandemi akibat meningkatnya risiko fiskal di negara-negara maju. Meski ekonomi Amerika Serikat tumbuh solid sebesar 4,3 persen pada kuartal III-2025, Tiongkok masih berjuang dengan pelemahan konsumsi rumah tangga dan krisis properti. Ketimpangan kebijakan bank sentral dunia, antara pemangkasan suku bunga oleh The Fed dan kenaikan bunga oleh Bank of Japan, turut mewarnai volatilitas pasar keuangan internasional.

Di tengah situasi tersebut, Pasar Modal Indonesia justru menutup tahun 2025 dengan pencapaian gemilang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di level 8.646,94, menguat tajam 22,13 persen secara tahunan (yoy). Sepanjang tahun 2025, IHSG berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah (All-Time High) sebanyak 24 kali, dengan kapitalisasi pasar menyentuh angka fantastis Rp16.005 triliun pada awal Desember.


Likuiditas pasar saham juga mencatatkan rekor baru dengan Rerata Nilai Transaksi Harian (RNTH) mencapai Rp18,07 triliun di tahun 2025. Menariknya, dominasi investor ritel domestik meningkat pesat dari 38 persen menjadi 50 persen. Dari sisi jumlah investor, terjadi lonjakan signifikan sebanyak 5,49 juta orang, sehingga total investor di pasar modal Indonesia kini telah menembus angka 20,36 juta orang.

Sektor perbankan juga menunjukkan kinerja intermediasi yang semakin impresif. Hingga November 2025, kredit perbankan tumbuh 7,74 persen yoy menjadi Rp8.314,48 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh kredit investasi yang melonjak 17,98 persen, merupakan level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Fenomena ini menandakan kepercayaan sektor riil untuk melakukan ekspansi kapasitas usaha jangka panjang di Indonesia.

Ketahanan perbankan didukung oleh permodalan yang sangat kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) di level 26,05 persen. Kualitas kredit pun terpantau sehat dengan rasio NPL gross yang menurun ke angka 2,21 persen. Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh dua digit sebesar 12,03 persen yoy, mencapai Rp9.899,07 triliun, yang mencerminkan likuiditas di sistem perbankan masih sangat memadai.


Industri keuangan non-bank seperti asuransi dan dana pensiun juga menunjukkan stabilitas yang terjaga. Aset industri asuransi tumbuh menjadi Rp1.194,06 triliun, sementara aset dana pensiun melonjak 10,72 persen yoy menjadi Rp1.662,16 triliun. OJK terus memantau pemenuhan ekuitas minimum perusahaan asuransi, di mana 79,86 persen perusahaan telah memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan untuk tahun 2026.


Tren pembiayaan berbasis teknologi atau pinjaman daring (Pindar) mencatatkan pertumbuhan luar biasa sebesar 25,45 persen yoy dengan nominal Rp94,85 triliun. Selain itu, layanan Buy Now Pay Later (BNPL) menjadi primadona baru baik di perbankan maupun perusahaan pembiayaan. Di sektor pembiayaan saja, BNPL tumbuh melesat 68,61 persen yoy, meski OJK tetap memberikan perhatian ketat pada mitigasi risiko kreditnya.

Sebagai bentuk penegakan hukum, OJK bertindak tegas dengan mengenakan sanksi administratif denda senilai lebih dari Rp80 miliar di sektor pasar modal sepanjang 2025. Selain itu, dalam upaya melindungi masyarakat, OJK telah meminta perbankan memblokir sekitar 31.382 rekening yang terindikasi terkait dengan aktivitas judi online, sejalan dengan data dari Kementerian Komunikasi dan Digital.

Memasuki tahun 2026, OJK optimis kinerja sektor keuangan akan tetap solid dengan pertumbuhan kredit dan DPK yang stabil. Dengan pengawasan yang ketat dan transformasi organisasi yang berkelanjutan, stabilitas sektor jasa keuangan diharapkan terus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan geopolitik dan perlambatan ekonomi global. (Rel)


Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
OJK Perkuat Keamanan Siber BPR & BPRS melalui Regulasi Penyelenggaraan Teknologi Informasi Terbaru
OJK Tegaskan Komitmen Transformasi Berkelanjutan
DIBUTUHKAN: KREDIBILITAS EKONOMI RUPIAH, BUKAN SEKADAR MENGHILANGKAN TIGA ANGKA NOL
KEDAULATAN EKONOMI DAN PARADOKS AGRARIA: Antara Bicara dan Tindakan Nyata Pemimpin
Groundbreaking Pembangunan Gedung Kantor OJK Sumut, Rico Waas: Jadi Titik Awal Penguatan Sistem Keuangan di Kota Medan
Inalum Dukung Peningkatan Ekonomi Lokal dan PAD Untuk Pembangunan Daerah
komentar
beritaTerbaru