Kebijakan Afirmasi TNI untuk Suku Dayak Harus Jadi Gerakan Emansipatif, Bukan Belas Kasihan
Kebijakan Afirmasi TNI untuk Suku Dayak Harus Jadi Gerakan Emansipatif, Bukan Belas Kasihan
News
Baca Juga:
Tetapi siapa sebenarnya yang sedang dinikahkan?
Pertanyaan itu menemukan jawabannya dalam Manten Gethek, salah satu bagian utama Bisik Serayu Festival 2026 di Desa Kaliori, Kabupaten Banyumas. Gethek, manusia, dan sungai dipertemukan dalam sebuah pertunjukan ritual yang mencoba membayangkan kembali hubungan manusia dengan Serayu.
Rianto, penggagas festival sekaligus penari dan koreografer Lengger Lanang Banyumas, menyebut Manten Gethek sebagai pertunjukan berbasis air (water-based performance) yang memvisualisasikan "pernikahan suci" antara manusia dan Sungai Serayu.
"Pertunjukan itu bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah laku spiritual dan kosmologi Banyumasan," ungkapnya.
*Dari Kaliori ke Tokyo*
Ada lingkaran yang menarik dalam perjalanan Rianto. Ia lahir di Kaliori, tumbuh dalam lingkungan kesenian Banyumas, lalu membawa Lengger Lanang hingga ke Jepang. Bersama istrinya, penari Jepang Miray Kawashima, ia mendirikan Dewandaru Dance Company di Tokyo.
Tahun ini, Dewandaru kembali tampil di Kaliori, berdampingan dengan sang pendirinya sendiri, dalam sebuah festival yang menjadikan Serayu sebagai ruang perjumpaan. Selain dari Jepang, hadir pula Florence Boyer, penari, koreografer dan peneliti seni asal Prancis; Thamizhavanan Narayanasamy dari Malaysia; serta kelompok Yamato No Tamashii dari Jepang.
Namun Serayu yang menjadi panggung itu bukan sungai yang baru ditemukan oleh festival.
*Sungai sebagai ruang hidup*
Serayu berhulu di kawasan Pegunungan Dieng, Wonosobo, mengalir melewati Banjarnegara, Purbalingga dan Banyumas, kemudian menuju Cilacap dan bermuara di Samudra Hindia. Sepanjang alirannya, sungai ini menjadi bagian dari kehidupan pertanian, permukiman dan mobilitas masyarakat. Ia bukan hanya bentang alam, melainkan ruang hidup.
Jejak hubungan itu juga muncul dalam kebudayaan Banyumas. Pada awal abad XIX, Serat Centhini mencatat pertunjukan tayuban dan ronggèng dalam episode perjalanan Cebolang di Wirasaba.
Beberapa dekade kemudian, sebuah catatan dalam jurnal kolonial tahun 1886 menyebut Karsijah sebagai ronggèng yang sekitar 30 tahun sebelumnya sangat terkenal di Purbalingga. Dalam kehidupan desa pada awal abad XX, gamelan dan terbang juga menjadi bagian dari pesta perkawinan dan sunatan.
Kesenian pada masa itu tidak selalu membutuhkan panggung. Ia tumbuh di tengah kehidupan sehari-hari.
*Ketika air menghasilkan bunyi*
Salah satu jejak yang paling dekat dengan gagasan itu adalah Kunclungan di Desa Plana. Dahulu, setelah bekerja di sawah, warga turun ke Serayu untuk mandi dan beristirahat. Dari aktivitas sederhana itu muncul permainan bunyi: tangan yang ditepukkan dan digerakkan di permukaan air menghasilkan irama.
Sungai, dalam pengalaman seperti itu, bukan sekadar sumber air. Ia adalah tempat orang bertemu, bermain dan menciptakan bunyi. Batas antara kehidupan sehari-hari dan kesenian menjadi tipis.
Bisik Serayu seperti mencoba membuka kembali ruang semacam itu. Pada 2024, Kunclungan dibawa kembali ke dalam festival. Tahun berikutnya, sungai menjadi ruang ruwatan, labuhan dan pengingatan terhadap Blabur Banyumas, banjir besar akibat meluapnya Serayu pada 1861. Tahun ini, hubungan itu dirumuskan melalui Manten Gethek.
Festival ini pun tidak sekadar menghadirkan kesenian lokal. Sanggar-sanggar Banyumas, komunitas, ketoprak, sastra, seniman nasional dan seniman dari luar negeri hadir dalam satu ruang. Ada Ketoprak Kaliori, Serat Centini, Komunitas Anak Sawah, hingga kolaborasi Dewandaru Dance Company dari Jepang dengan Rianto dan Agung Gunawan dalam Kulu-kulu dan Lengger Lanang.
Rianto merumuskan festival tahun ini melalui tiga pilar: "Bisik Air (Svara Tirta), Pijak Bumi (Prajna Pertiwi), dan Temu Rasa (Manunggaling Warga)."
*Dari tradisi menjadi perjumpaan*
Perspektif itu mendapat resonansi dari Siti Mukaromah, anggota DPR RI yang hadir dalam festival. Ia menyebut Bisik Serayu memuat esensi falsafah Banyumas yang bertumpu pada "Gunung Slamet, Sungai Serayu, dan karakter blakasuta".
"Gununge mulang kukuh, Serayune mulang mili, serta Blakasuta mulang jujur," kata Siti. Gunung mengajarkan keteguhan, Serayu mengajarkan keluwesan untuk terus mengalir, sementara blakasuta mengajarkan mengajarkan keberanian untuk berkata jujur.
Nisa Roiyasa, pegiat budaya dan dosen Fakultas Ilmu Budaya Unsoed, hadir bersama relawan Rumah Cibun, komunitas pelestari tradisi maca Babad Pasir Luhur di Grumbul Cibun, Desa Sunyalangu. Ia menyebut Bisik Serayu sebagai wujud ekspresi estetik rasa cinta pada alam, khususnya Sungai Serayu yang telah lama menopang kehidupan masyarakat.
Menurut Nisa, Banyumas memiliki dua ekosistem kebudayaan besar, Gunung Slamet dan Sungai Serayu. "Saya berharap ke depan kedua ekosistem ini bisa berkolaborasi," katanya, "sehingga kita dapat menyusun cerita yang lebih utuh tentang peradaban Banyumas kuno."
*Membaca Ulang Tradisi*
Harapan itu membuat Manten Gethek memperoleh makna yang lebih luas. Kita tidak perlu menganggapnya sebagai ritual kuno yang sejak dahulu dilakukan persis dalam bentuk sekarang. Yang dilakukan festival adalah membaca kembali simbol-simbol lama hubungan manusia dengan sungai, kemudian memberinya bentuk baru.
Gethek yang dahulu digunakan manusia untuk menyeberangi sungai kini menjadi bagian dari prosesi yang justru membawa manusia mendekat ke sungai. Sepasang figur yang didandani seperti pengantin mempertegas simbol "manten", sementara air menjadi ruang tempat hubungan itu dipertunjukkan.
Perjalanan Rianto juga seperti mengulang gerak yang sama. Dari Kaliori, Lengger membawanya ke dunia. Dari Jepang dan panggung internasional, ia kembali ke Kaliori dengan membawa pengalaman, jejaring dan bentuk-bentuk kolaborasi baru. Tradisi lokal tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang beku, tetapi terus bergerak.
Serayu sendiri tentu jauh lebih tua daripada Bisik Serayu. Sungai itu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat jauh sebelum ada festival, panggung modern atau istilah revitalisasi kebudayaan.
Yang dicoba dilakukan Bisik Serayu barangkali bukan mengembalikan masa lalu. Ia mencoba mengingatkan bahwa sungai pernah menjadi bagian dari kehidupan yang begitu dekat dengan manusia—tempat bekerja, beristirahat, bermain, berdoa, bercerita dan menciptakan kesenian.
Di Kaliori, hubungan itu kembali diucapkan melalui tubuh, bunyi, gethek, ritual dan sebuah perkawinan simbolik.
Kali ini, Serayu menjadi pengantin.
Kebijakan Afirmasi TNI untuk Suku Dayak Harus Jadi Gerakan Emansipatif, Bukan Belas Kasihan
News
M Safrizal Almalik Bertemu Gus Kikin di Tebuireng, Sampaikan Selamat atas Amanah sebagai Ketum PBNU
News
Gunung Sinabung Naik Status Siaga, Bobby Nasution Perintahkan Evakuasi Warga di Zona Bahaya
kota
sumut24.co ASAHAN, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Asahan resmi menggelar Deklarasi Pilkades Damai dalam rangka Pemilihan Kepala Desa Serenta
News
Erupsi Gunung Sinabung Gagalkan Lawatan 51 Guru dan Staf Malaysia ke Medan, LOI TPISKKB Ditunda
News
Pascaerupsi Sinabung, Kapolda Sumut Pastikan Personel Siaga di Posko Bencana
kota
Polisi Gerebek Rumah Penyimpanan Narkoba di Medan Perjuangan
kota
Penumpang Pesawat Bawa 1 Kg Sabu dari Aceh ke Jakarta Ditangkap di Kualanamu
kota
Ketika Sungai Serayu Menjadi Pengantin
kota
sumut24.co ASAHAN, Peralihan aset milik Pemerintah Kabupaten Asahan, semula Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) yang kini beralih fungsi menj
News