BPJS Ketenagakerjaan dan BSI Perkuat Kemitraan dengan Koperasi Keluarga Pers Indonesia
BPJS Ketenagakerjaan dan BSI Perkuat Kemitraan dengan Koperasi Keluarga Pers Indonesia
kota
Baca Juga:
- Eksistensi Musik Slowrock di Era Modern, Politeknik MBP Medan Sukses Gelar Slow Rock Musik Fest 2026
- Tim Kampus Tanggap Bencana Universitas Aufa Royhan Salurkan Air Bersih dan Logistik ke Dua Wilayah Terdampak di Tapsel
- Gebyar Milad KKD ke-9 MAS Proyek Univa Medan Resmi Dibuka, 750 Peserta Meriahkan Ajang Dakwah Pelajar
Medan — Akademisi tidak boleh hanya menjadi penonton dari kejauhan, melainkan harus hadir dengan keberanian, integritas, dan ketegasan moral dalam setiap langkahnya. Hal itu disampaikan oleh pemerhati pendidikan, Syahrir Nst, yang menyoroti pentingnya posisi akademisi sebagai benteng moral bangsa, terutama di tengah dinamika sosial-politik yang penuh kepentingan.
Menurut Syahrir, seorang akademisi sejati harus menanamkan satu semboyan sejak melangkah dari rumah menuju kampus: keberanian dan integritas. Nilai itu, katanya, bukan sekadar slogan, tetapi harus melekat dalam jiwa sebagai fondasi membangun moral dan karakter bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Setiap langkah akademisi murni harus beranjak dari komitmen memperkuat kebaikan anak bangsa ke depan, tanpa kepentingan politik, baik yang datang dari diri sendiri maupun dari luar dunia pendidikan," tegas Syahrir.
Ia menilai bahwa tekanan penguasa ataupun motivasi politik yang menunggangi dunia kampus merupakan ancaman serius bagi independensi akademisi maupun rektor perguruan tinggi. Karena itu, ia menekankan bahwa rektor maupun akademisi harus tetap berada pada posisi independen dan berorientasi pada pengabdian, bukan pada perebutan atau penjagaan jabatan.
"Akademisi dan rektor harus menjadi benteng moral serta panutan, baik di dalam maupun di luar kampus. Namun itu bukan berarti mereka harus menciptakan jarak dengan masyarakat. Mereka justru harus hadir, melihat, mendengar, dan berbicara ketika terjadi ketimpangan dan kecerobohan dalam koridor hukum," ujar Syahrir.
Ia mengingatkan bahwa seorang akademisi tidak boleh hanya menikmati kenyamanan jabatan tanpa keberanian bersikap terhadap penyimpangan.
"Jangan mau makan enak tapi tangan tidak mau kotor. Dan jangan sampai akademisi tersubordinasi oleh penguasa yang dzolim. Dalam bahasa halusnya, takut miskin tapi tak pernah kaya — ini aneh jika tumbuh dalam diri akademisi," tegasnya.
Syahrir menutup pernyataannya dengan menegaskan kembali bahwa dunia pendidikan membutuhkan sosok akademisi yang berani, jujur, independen, dan tidak tunduk pada tekanan eksternal apa pun demi menjaga marwah perguruan tinggi dan masa depan bangsa.rel
BPJS Ketenagakerjaan dan BSI Perkuat Kemitraan dengan Koperasi Keluarga Pers Indonesia
kota
Percepat Pembangunan Huntap, Bobby Nasution Dorong Validasi Data Spesifik
kota
Apresiasi Masukan BI dan Ekonom,Bobby Nasution Dorong Terobosan Ekonomi Sumut Berbasis Potensi Lokal
kota
Sengketa Lahan SMAN 5 Pematangsiantar, Bobby Nasution dan Sekolah Sepakati Relokasi Jadi Solusi
kota
Bobby Nasution Minta Kajian Mendalam Pencabutan Izin Hutan, Soroti Dampak Sosial dan Potensi Konflik
kota
Menteri Haji dan Umrah Lantik Pj Sekdaprov Sumut Jadi Koordinator PPIH Embarkasi Medan
kota
Sambut HKG 2026, PKK Sumut Berbagi Kasih dengan Anak Panti di Binjai
kota
Diskominfo Sumut Gandeng LPS Perkuat Literasi Keuangan, Tekan Pinjol dan Judol
kota
Bobby Nasution Ajak Gekrafs Sumut Perkuat Kolaborasi, Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas
News
Momentum HKG PKK ke54, Kahiyang Ayu Ajak Masyarakat Lebih Peduli Kesehatan
kota