MEDAN –
Dunia pendidikan tinggi kembali mendapat sorotan. Pengamat sosial dan akademisi, Syahrir Nasution, mengingatkan bahwa
kampus bukanlah arena politik praktis, melainkan benteng nalar yang harus dijaga kehormatannya. Pesan itu disampaikan Syahrir menanggapi fenomena yang belakangan dinilai mengaburkan fungsi utama perguruan tinggi.
Baca Juga:
"Masyarakat sudah lama mengenal lagu Dunia Panggung Sandiwara yang dinyanyikan legenda rock Indonesia, Achmad Albar," ujar H Syahrir Nasution, Jumat (14/11/2025). "Lagu itu enak didengar, syairnya menyentuh hati, dan kita menikmatinya. Namun akan sangat berbeda bila yang menjadi panggung sandiwara itu adalah dunia pendidikan."
Menurut Syahrir, ketika kampus berubah menjadi arena permainan politik, publik bukan hanya tidak "syoor", tetapi justru merasa khawatir. Sebab, kata dia, dunia kampus semestinya menjadi ruang yang steril dari kepentingan kekuasaan—ruang untuk berpikir objektif, menegakkan etika, dan membangun karakter bangsa.
"Jika ada perilaku, keputusan, atau aktivitas di kampus yang mulai menyerupai panggung sandiwara, itu tidak boleh diabaikan. Ini menjadi perhatian kita bersama," tegasnya.
Syahrir menambahkan, perguruan tinggi memiliki fungsi strategis sebagai benteng terakhir akal sehat. Kampus harus menjadi pusat lahirnya intelektual yang kritis, bukan tempat mengemas narasi demi kepentingan kelompok tertentu.
Ia meminta seluruh pemangku kepentingan—rektorat, dosen, mahasiswa hingga pemerintah—untuk memastikan kampus tetap berjalan sesuai marwahnya. "Dunia pendidikan harus jujur pada dirinya sendiri. Jangan biarkan nilai-nilai akademik dikorbankan," pungkas Syahrir.
Seruan ini menjadi pengingat bahwa menjaga integritas kampus bukan hanya tugas civitas akademika, tetapi tanggung jawab moral seluruh masyarakat yang menginginkan pendidikan tinggi tetap menjadi cahaya bagi masa depan bangsa.rel
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News