Kasus Jari Putus Digigit, Kuasa Hukum Konita Pertanyakan Penetapan Tersangka oleh Polsek Sidikalang
Kasus Jari Putus Digigit, Kuasa Hukum Konita Pertanyakan Penetapan Tersangka oleh Polsek Sidikalang
kota
Baca Juga:
- Berulang Berganti Kasat dan Kapolsek, Balga Tidak Tersentuh, Tetap Eksis Edarkan Narkoba d Bilah Hilir
- Kuasa Hukum: Antonius Devolis Tumanggor Kooperatif Jalani Pemeriksaan Di Polrestabes Medan
- Kuasa Hukum Bantah Tuduhan Penganiayaan, Sebut Antonius Tumanggor Tidak Lakukan Kontak Fisik dengan Pelapor
Medan - Koordinator Nasional Koalisi Masyarakat Anti Korupsi (KAMAK), Azmi Hadly, kembali menggebrak meja penegakan hukum di Sumatera Utara. Ia mendesak Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) agar tidak menutup mata dan segera membuka penyelidikan atas temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Sumut yang mengungkap indikasi kuat praktik korupsi di tubuh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sumut.
Dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Nomor 69/LHP/XVIII.MDN/12/2024 tanggal 23 Desember 2024, BPK menemukan adanya potensi kerugian negara senilai Rp 1.419.660.958,4. Temuan itu bukan angka kecil, dan menggambarkan buruknya tata kelola anggaran di lembaga penyelenggara pemilu yang seharusnya menjadi benteng integritas demokrasi.
Dua Sumber Kerugian Negara yang Disorot BPK
BPK merinci dugaan korupsi tersebut berasal dari dua pos anggaran utama:
1. Kekurangan volume pekerjaan Pengadaan Formulir Plano
Nilai temuan: Rp 18.228.988,58
Dugaan: adanya penggelembungan harga dan manipulasi volume pekerjaan yang tidak sesuai kontrak.
2. Kelebihan pembayaran Belanja Jasa Konsultansi Audit Dana Kampanye
Nilai temuan: Rp 1.401.431.969,82
Dugaan: pembayaran tidak sesuai ketentuan, indikasi audit fiktif atau mark-up biaya jasa.
Dua temuan ini secara terang benderang memenuhi unsur kerugian negara dan unsur pidana korupsi sesuai UU Tipikor.
Dalam rekomendasinya, BPK meminta KPU Sumut dan PPK KPU kabupaten/kota untuk mengembalikan kerugian negara dalam waktu 60 hari. Namun, menurut Azmi, rekomendasi administratif tidak cukup.
Azmi Hadly: Ada Unsur Pidana, Kejatisu Wajib Bertindak
Azmi menegaskan bahwa temuan BPK bukan sekadar "kesalahan administrasi", tetapi indikasi korupsi yang memiliki konsekuensi hukum pidana.
> "Ketika ada kekurangan volume dan kelebihan pembayaran, itu bukan salah hitung. Itu modus. Ada pihak yang memperkaya diri dan itu pidana. Kejatisu tidak boleh diam," tegas Azmi Hadly.
Ia menilai Kejatisu selama ini lambat dan terlihat ragu untuk memproses kasus yang melibatkan KPU, lembaga yang memegang kendali dalam penyelenggaraan pemilu. Menurutnya, jika penegakan hukum terkesan mandul dalam kasus ini, kecurigaan publik mengenai adanya intervensi politik akan semakin kuat.
> "Ini bukan angka kecil. Rp 1,4 miliar diduga dikorupsi. Kalau Kejatisu tak bergerak, publik bisa menganggap ada tangan-tangan kuat yang melindungi oknum KPU," ujarnya.
Integritas Pemilu Dipertaruhkan
Azmi mengingatkan bahwa KPU adalah lembaga yang menentukan masa depan demokrasi melalui penyelenggaraan pemilu. Namun jika lembaga tersebut justru tersangkut korupsi anggaran, maka integritas pemilu dapat runtuh dari hulu—yakni penyelenggaranya sendiri.
> "Bagaimana masyarakat mau percaya pada hasil Pemilu kalau anggaran formulir dan audit kampanye saja diduga dimainkan? Ini bahaya besar untuk demokrasi," kata Azmi.
Ia menegaskan bahwa perbuatan dugaan korupsi di lembaga pemilu jauh lebih fatal dibanding kasus korupsi biasa, karena menyangkut legitimasi politik dan kepercayaan publik.
Ajakan Audit Investigatif dan Pemeriksaan Pejabat Terkait
KAMAK mendesak agar Kejatisu:
memanggil dan memeriksa seluruh pejabat KPU Sumut,
mengaudit ulang proyek pengadaan terkait,
menelusuri aliran dana,
membuka potensi keterlibatan pihak ketiga dan PPK di kabupaten/kota.
Azmi menduga bahwa modus yang ditemukan BPK hanya "puncak gunung es".
> "BPK hanya menemukan sebatas dokumen. Penegak hukum harus masuk lebih dalam: siapa bermain, siapa menikmati, dan apakah ini bagian dari pola besar korupsi di tubuh KPU," katanya.
Tantangan bagi Kejatisu
Azmi menantang Kejatisu untuk membuktikan bahwa mereka tidak tebang pilih dalam menangani kasus korupsi.
> "Kalau berani, buka penyelidikan secara terbuka. Publik ingin melihat apakah Kejatisu punya nyali, atau justru takut karena yang diperiksa adalah petinggi penyelenggara pemilu," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa KAMAK tidak segan melakukan aksi besar jika Kejatisu terus berdiam diri.
> "Kami akan mengawasi. Kalau Kejatisu tidak bergerak, kita siap turun ke jalan. Uang rakyat harus kembali, pelaku harus dihukum," pungkasnya.red2
Kasus Jari Putus Digigit, Kuasa Hukum Konita Pertanyakan Penetapan Tersangka oleh Polsek Sidikalang
kota
Ketika Ekonomi Kreatif Bertemu Ekonomi Syariah
kota
sumut24.co MEDAN, Antusiasme masyarakat mewarnai pelaksanaan Reses VI Masa Sidang III Tahun 2026 yang digelar Anggota DPRD Kota Medan Fraks
kota
Jelajahi Pesona Simalungun di PRSU 2026, Kenalkan Deretan Destinasi Wisata Andalan
kota
Balerong Silek Tuo Jadi Momentum Kebangkitan Warisan Budaya Minangkabau.
News
sumut24.co Labuhanbatu, Tuti Nofrida Ritonga S,Si,AP, MM melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Puskesmas Tanjung Haloban, Kecamatan Bilah
News
sumut24.co ASAHAN, Bupati Asahan, Taufik Zainal Abidin, S.Sos., M.Si., menghadiri peresmian Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dewan Pimpinan Dae
News
MEDAN Sumut24.co Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Tani Merdeka menggelar Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Tani Merdeka Sumatera I Angkatan IV d
News
sumut24.co Deliserdang, Sebanyak 1.726 peserta memeriahkan Deliserdang Run 2026 yang digelar di Desa Namo Tualang, Kecamatan BiruBiru, Min
News
sumut24.co Deliserdang, Car Free Night Deliserdang Weekend kembali menjadi magnet bagi masyarakat. Jalan Diponegoro, Lubuk Pakam, dipenuhi
News