Keren! TP PKK Kabupaten Asahan Sabet Juara 1 Lomba Cipta Cemilan Sehat Anak Tingkat Sumut 2026
sumut24.co MEDAN, Kabar membanggakan datang dari TP PKK Kabupaten Asahan. Dalam Jambore Kader TP PKK seSumatera Utara Tahun 2026 yang dige
Kota
Baca Juga:
Mandailing bukan sekadar nama daerah atau sebutan geografis di selatan Tapanuli. Ia adalah identitas, marwah, dan peradaban yang tumbuh dari akar sejarah panjang — jauh sebelum republik ini berdiri dan jauh sebelum kolonialisme menancapkan kuku kekuasaan di tanah Sumatera.
Kata Mandailing sendiri bukan hanya menunjuk wilayah, tetapi mencerminkan eksistensi suku atau clan dengan struktur sosial, adat, dan sistem pemerintahan yang mandiri. Dalam sejarahnya, suku Mandailing memiliki pola pemerintahan yang bercorak kesultanan, yang menjadi pusat nilai-nilai politik, ekonomi, dan budaya masyarakat di wilayah tersebut. Kesultanan Mandailing menjadi simbol kedaulatan lokal — di mana raja bukan sekadar penguasa, tetapi juga penjaga moral dan adat.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa Belanda sudah mengakui keberadaan suku atau puak Mandailing sejak tahun 1925. Bahkan dalam arsip Hindia Belanda dan catatan masa VOC, nama Mandailing telah muncul sebagai entitas sosial yang memiliki sistem pemerintahan sendiri, berbeda dari Batak Toba atau Angkola. Ini membuktikan bahwa Mandailing bukan sub-etnis, melainkan suku dengan akar historis yang jelas dan kedaulatan budayanya tersendiri.
Dalam hikayat lama, disebut bahwa para raja dan datu Mandailing menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan tetangga, termasuk Kesultanan Siak, Padang Lawas, dan bahkan beberapa kerajaan di pesisir barat. Struktur adatnya pun kaya — terdiri dari sistem marga, harajaon, dan dalihan na tolu yang menjaga keseimbangan sosial masyarakatnya.
Namun dalam arus modernisasi dan penyatuan administratif kolonial, identitas kesultanan dan kedaulatan adat Mandailing perlahan dihapus dari peta kekuasaan. Kolonial Belanda lebih memilih menggabungkan Mandailing ke dalam satuan Afdeeling Tapanuli, sehingga jejak kesultanan itu hanya tersisa dalam kisah lisan dan manuskrip lama.
Kini, saat bangsa ini berbicara tentang akar budaya dan pluralisme, penting untuk kembali menggali marwah Mandailing sebagai entitas bersejarah yang memiliki sistem nilai dan pemerintahan sendiri. Mengingat dan meneguhkan kembali sejarah kesultanan Mandailing bukan berarti nostalgia semata, tetapi upaya mengembalikan kesadaran akan jati diri dan martabat budaya.
Sebab bangsa yang kehilangan akar sejarahnya, akan mudah kehilangan arah masa depannya.
Dan Mandailing — dengan segala keunikan budaya, bahasa, adat, dan hikmahnya — telah memberi pelajaran: bahwa kedaulatan sejati lahir dari kesadaran akan jati diri, bukan dari pengakuan kekuasaan luar.
Mandailing adalah suku berdaulat, dengan sejarah yang hidup di nadi setiap marganya.
***
sumut24.co MEDAN, Kabar membanggakan datang dari TP PKK Kabupaten Asahan. Dalam Jambore Kader TP PKK seSumatera Utara Tahun 2026 yang dige
Kota
sumut24.co ASAHAN, Rencana monitoring kerja Komisi B DPRD Asahan ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PTPN IV Regional II Bandar Pasir Mandoge, yan
News
sumut24.co ASAHAN, Wakil Bupati Asahan, Rianto, S.H., M.A.P., secara resmi menutup Turnamen Minisoccer Piala Bupati Asahan Tahun 2026 di St
News
GIBRAN TAMAT? Putusan MA Jadi Bom Politik, Kornas Desak DPR Bongkar Dugaan Manipulasi Syarat Wapres!
News
Polri Diguncang Dua Badai Besar! Penggerebekan Pesantren dan Tiga Jenderal Tersangka Penyadapan Presiden
News
sumut24.co ASAHAN, Rencana monitoring kerja Komisi B DPRD Kabupaten Asahan ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PTPN IV Regional II Bandar Pasir Ma
News
Status PNS Iskandar Muda Diberhentikan, Mengapa Masih Tercatat sebagai Pj Kepala Desa Tabuyung?
News
Madina Kebagian 250 Ribu Bibit Kakao dan Bantuan Sapi, Bupati Saipullah Rawat hingga Panen!
News
Serangan Jantung Bisa Terjadi Saat Subuh, Dokter Ungkap Pemicu yang Perlu Diwaspadai
Info
SUTRADARA DAN AKTOR INTELEKTUAL DUGAAN MAKAR HARUS DITANGKAP, KORNAS DESAK KAPOLRI BONGKAR RANTAI KOMANDO
News