Kamis, 12 Februari 2026

Sejarah Identitas Kesultanan Mandailing : Akar Suku Bangsa Yang Berdaulat

Administrator - Selasa, 04 November 2025 12:09 WIB
Sejarah Identitas Kesultanan Mandailing : Akar Suku Bangsa Yang Berdaulat
Istimewa


Oleh: H Syahrir Nasution

Baca Juga:

Mandailing bukan sekadar nama daerah atau sebutan geografis di selatan Tapanuli. Ia adalah identitas, marwah, dan peradaban yang tumbuh dari akar sejarah panjang — jauh sebelum republik ini berdiri dan jauh sebelum kolonialisme menancapkan kuku kekuasaan di tanah Sumatera.

Kata Mandailing sendiri bukan hanya menunjuk wilayah, tetapi mencerminkan eksistensi suku atau clan dengan struktur sosial, adat, dan sistem pemerintahan yang mandiri. Dalam sejarahnya, suku Mandailing memiliki pola pemerintahan yang bercorak kesultanan, yang menjadi pusat nilai-nilai politik, ekonomi, dan budaya masyarakat di wilayah tersebut. Kesultanan Mandailing menjadi simbol kedaulatan lokal — di mana raja bukan sekadar penguasa, tetapi juga penjaga moral dan adat.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa Belanda sudah mengakui keberadaan suku atau puak Mandailing sejak tahun 1925. Bahkan dalam arsip Hindia Belanda dan catatan masa VOC, nama Mandailing telah muncul sebagai entitas sosial yang memiliki sistem pemerintahan sendiri, berbeda dari Batak Toba atau Angkola. Ini membuktikan bahwa Mandailing bukan sub-etnis, melainkan suku dengan akar historis yang jelas dan kedaulatan budayanya tersendiri.

Dalam hikayat lama, disebut bahwa para raja dan datu Mandailing menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan tetangga, termasuk Kesultanan Siak, Padang Lawas, dan bahkan beberapa kerajaan di pesisir barat. Struktur adatnya pun kaya — terdiri dari sistem marga, harajaon, dan dalihan na tolu yang menjaga keseimbangan sosial masyarakatnya.

Namun dalam arus modernisasi dan penyatuan administratif kolonial, identitas kesultanan dan kedaulatan adat Mandailing perlahan dihapus dari peta kekuasaan. Kolonial Belanda lebih memilih menggabungkan Mandailing ke dalam satuan Afdeeling Tapanuli, sehingga jejak kesultanan itu hanya tersisa dalam kisah lisan dan manuskrip lama.

Kini, saat bangsa ini berbicara tentang akar budaya dan pluralisme, penting untuk kembali menggali marwah Mandailing sebagai entitas bersejarah yang memiliki sistem nilai dan pemerintahan sendiri. Mengingat dan meneguhkan kembali sejarah kesultanan Mandailing bukan berarti nostalgia semata, tetapi upaya mengembalikan kesadaran akan jati diri dan martabat budaya.

Sebab bangsa yang kehilangan akar sejarahnya, akan mudah kehilangan arah masa depannya.
Dan Mandailing — dengan segala keunikan budaya, bahasa, adat, dan hikmahnya — telah memberi pelajaran: bahwa kedaulatan sejati lahir dari kesadaran akan jati diri, bukan dari pengakuan kekuasaan luar.

Mandailing adalah suku berdaulat, dengan sejarah yang hidup di nadi setiap marganya.
***

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Polsek Tanjung Morawa Gelar Bakti Sosial Bantu Korban Kebakaran di Desa Penara Kebun
Lagi, Rumah Sekaligus Usaha Ponsel Warga di Tanjung Beringin Terbakar dan Nyaris Ludes
Suami di Padang Lawas Utara Nekat Bakar Istri hingga Luka Berat, AKBP Yon Edi Winara : Tersangka dikenakan Ancaman 10 Tahun Penjara
Ruko Dua Lantai di Tanjung Beringin Terbakar, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta
Ruko Dua Lantai di Tanjung Beringin Terbakar, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta
Pabrik Sandal Swallow di Jalan KL Yos Sudarso Medan Terbakar
komentar
beritaTerbaru