Petugas Keamanan PTPN IV Regional 2 Terkena Anak Panah saat Gagalkan Pencurian TBS Kelapa Sawit di Kebun Adolina
Petugas Keamanan PTPN IV Regional 2 Terkena Anak Panah saat Gagalkan Pencurian TBS Kelapa Sawit di Kebun Adolina
kota
Baca Juga:
MEDAN | sumut24.co — Klaim Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) soal keberhasilan menekan inflasi lewat intervensi pasokan cabai merah, kini justru menjadi bahan perbincangan hangat di publik. Fakta di lapangan menunjukkan, harga cabai merah masih membara jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), memunculkan pertanyaan besar: apakah intervensi itu nyata efektif, atau sekadar pencitraan?
Founder Ethics of Care, Farid Wajdi, menilai narasi penurunan harga cabai hingga Rp35 ribu per kilogram yang disampaikan oleh pihak BUMD justru menyesatkan logika publik.
> "Apakah kebijakan intervensi tersebut benar efektif, atau hanya langkah seremonial yang dibungkus narasi keberhasilan?" ujar Farid kepada wartawan, Minggu (26/10/2025).
Farid menyebut, inti persoalan terletak pada skala intervensi. Distribusi 500 kilogram cabai merah di satu pasar besar, katanya, nyaris tak berarti bila dibandingkan kebutuhan harian yang mencapai beberapa ton.
> "Dampaknya hanya sesaat — menurunkan harga lokal dalam waktu singkat tanpa pengaruh nyata terhadap stabilitas harga di pasar lain," tegas mantan Anggota Komisi Yudisial RI itu.
Menurutnya, kebijakan seperti ini hanya "kosmetika ekonomi": memoles tampilan agar terlihat stabil, tanpa menyentuh akar masalah seperti rantai pasok yang panjang, biaya logistik tinggi, dan lemahnya tata niaga pangan di Sumatera Utara.
> "Publik juga berhak mengkritisi pola komunikasi yang tampak lebih sibuk membangun citra ketimbang membenahi sistem. Narasi harga turun tanpa data komprehensif hanya melahirkan apa yang disebut para ekonom sebagai inflasi naratif — stabilitas semu yang dibangun lewat wacana, bukan realitas," sindir Farid.
Ia menambahkan, bila hanya satu-dua pasar yang dijadikan contoh keberhasilan lalu dipublikasikan secara besar-besaran, maka publik sedang disuguhi manipulasi persepsi, bukan penyelesaian masalah ekonomi.
> "Kondisi ini menegaskan pentingnya audit dan verifikasi independen terhadap setiap laporan harga dan kebijakan pangan," ujarnya.
Farid pun mendesak agar Badan Pusat Statistik (BPS) dan Ombudsman Daerah dilibatkan dalam mengaudit data harga cabai dan distribusi pangan. Menurutnya, BPS memiliki otoritas ilmiah dalam memverifikasi tren harga, sementara Ombudsman wajib memastikan akuntabilitas informasi publik agar tidak menyesatkan masyarakat.
> "Tanpa verifikasi semacam itu, laporan yang beredar mudah berubah menjadi propaganda, bukan refleksi kebenaran," pungkasnya.
---
Harga di Lapangan Masih Panas
Bertolak belakang dengan klaim BUMD, pantauan wartawan Sabtu (25/10) dan Minggu (26/10) menunjukkan harga cabai merah di berbagai pasar tradisional Medan masih bertengger tinggi:
Pasar Simpang Limun: Rp62.000–Rp75.000/kg
Pasar Sukaramai: Rp70.000/kg
Pasar Petisah: Rp60.000–Rp65.000/kg
Padahal, Direktur Utama PT Dhirga Surya, Ari Wibowo, sebelumnya menyebut harga cabai sudah turun ke kisaran Rp35.000/kg setelah operasi pasar yang dilakukan bersama PD AIJ dan PT PPSU di 21 titik distribusi di Kota Medan.
> "Hari ini kita intervensi harga cabai merah. Saat ini harganya Rp35 ribu per kilogram," kata Ari di Pasar Petisah, Sabtu (25/10).
Namun di lapangan, realitas berkata lain — harga tetap tinggi dan pasokan cabai lokal justru menurun.
---
Cabai dari Jawa Banyak yang Busuk
Sebelumnya, kebijakan Pemprovsu yang membeli 50 ton cabai merah dari Jember, Jawa Timur juga menuai kritik tajam. Pasalnya, hampir setengah dari total cabai yang tiba di Medan diduga dalam kondisi rusak dan tak layak konsumsi.
Direktur PD Aneka Industri dan Jasa (AIJ), Swangro Lumbanbatu, mengakui pembelian besar-besaran itu merupakan instruksi langsung Gubernur Sumut Bobby Nasution sebagai upaya menekan inflasi.
> "Instruksi Gubernur agar harga cabai stabil. Sebab pada awal Oktober 2025, harga sempat menembus Rp100 ribu per kilogram," ujarnya.
Namun langkah tersebut dinilai tidak tepat sasaran karena lemahnya sistem logistik dan rantai dingin yang menyebabkan sebagian besar pasokan rusak sebelum sampai ke pasar.
---
Transparansi Harga, Bukan Sekadar Operasi Seremonial
Farid Wajdi menegaskan, publik tidak menuntut harga cabai selalu murah, melainkan menuntut kejujuran dalam informasi dan tanggung jawab dalam kebijakan.
> "Yang dibutuhkan sekarang bukan operasi pasar yang sporadis, tapi reformasi tata niaga pangan yang berkeadilan, transparan, dan berpihak kepada masyarakat," ujarnya.
Ia mengingatkan, tanpa sistem pemantauan harga berbasis data terbuka, kebijakan pangan akan terus berada di ruang gelap yang rawan dimanipulasi.
> "Klaim 'harga turun' tanpa bukti kuat hanyalah fatamorgana birokrasi — terlihat menenangkan, tapi rapuh saat disentuh kenyataan di pasar," tutup Farid.
Petugas Keamanan PTPN IV Regional 2 Terkena Anak Panah saat Gagalkan Pencurian TBS Kelapa Sawit di Kebun Adolina
kota
sumut24.co ASAHAN, Kawasan Hutan Tanam Rakyat (HTR) seluas lebih dari 1.200 hektar yang dikelola Koperasi Tani (Koptan) Mandiri di wilayah
News
BATALYON PARAKO 463 PASGAT SUKSES MENGGELAR LIGA TOPSKOR ZONA MEDAN DAN ZONA SIMALUNGUN SEASON 2026
kota
SOKSI Padangsidimpuan Perkuat Sinergi dengan Kejari, Bahas Advokasi Hukum & Perlindungan Hak Masyarakat
kota
Paviliun Kabupaten Batubara di PRSU Andalkan Produk Anti Inflasi
kota
Stand Bapenda Sumut "Anti CelingakCelinguk"! Sutan Tolang Lubis Garansi "Tanya Apa Saja, Langsung Dijawab
kota
Dukung PHTC Gubernur, Dinas Pendidikan Tampilkan Hasil Karya dan Kokurikuler Siswa SMA/SMK
kota
Diduga Rugikan Negara Miliaran Rupiah, AMPERAKSU Desak Penindakan Tegas Jaringan Rokok Ilegal HELIUM
kota
Perkuat Program PAAREDI di Nagori Percontohan, TP PKK Kabupaten Simalungun Gelar Rakor
kota
Dukung Lahirnya Perempuan Muda Berprestasi, Bupati Simalungun dan Ketua TP PKK Hadiri Grand Final Putri Otonomi Indonesia 2026
kota