Hendri Yanto Sitorus Kembali Nakhodai Golkar Labura, Target Kursi DPRD
LABURA SUMUT24.co Hendri Yanto Sitorus kembali terpilih sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten
Politik
Baca Juga:
Oleh: H. Syahrir Nasution, Pemerhati Sosial dan Ekonomi
"Bayar, bayar, bayar untuk menjadi Gubernur Bank Indonesia."
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan emosi, melainkan jeritan nurani melihat semakin kaburnya batas antara integritas dan transaksi dalam proses penentuan pejabat strategis negeri ini.
Disinyalir, dalam rangka fit and proper test calon Gubernur Bank Indonesia di Komisi XI DPR RI, harus ada "uang pemanis" — atau dalam istilah yang lebih satir saya sebut "sweet fulus" — agar seorang kandidat bisa "goal" menduduki kursi empuk Gubernur BI. Ironisnya, praktik tersebut bahkan dikemas dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR), seolah-olah uang pelicin itu adalah sumbangan sosial.
Padahal, CSR adalah ranah dunia korporasi — bukan lembaga negara.
Ketika Bank Indonesia, lembaga yang sejatinya menjadi penjaga moral moneter dan kestabilan ekonomi nasional, ikut dipersepsikan bermain di wilayah "CSR politis", maka publik patut bertanya:
Apakah BI masih menjadi lembaga independen, atau sudah berubah menjadi "perusahaan" yang membayar untuk mendapatkan kepercayaan politik?
Ujian Integritas
Fit and proper test seharusnya menjadi ruang pengujian moral, visi kebijakan, dan kapasitas profesional calon pejabat publik. Namun, jika ruang itu telah bergeser menjadi arena transaksi, maka yang terpilih bukanlah yang terbaik, melainkan yang terkaya.
Di sinilah kemunduran etik bangsa bermula — ketika jabatan strategis ditentukan bukan oleh kualitas, melainkan oleh amplop yang paling tebal.
Bahaya Sistemik
Bayangkan dampaknya jika dugaan ini benar terjadi. Seorang Gubernur BI yang "membayar" untuk duduk tentu akan mencari cara untuk "mengembalikan modalnya". Keputusan moneter, kebijakan suku bunga, hingga arah stabilisasi nilai rupiah bisa terkontaminasi oleh kepentingan kelompok tertentu, bukan kepentingan rakyat banyak.
Maka, "sweet fulus" hari ini bisa menjadi "bitter economy" besok.
Saatnya DPR dan BI Buka Diri
Kita tak ingin tudingan ini sekadar lewat tanpa tanggapan. Komisi XI DPR RI dan Bank Indonesia wajib membuka diri, menunjukkan transparansi proses seleksi, dan memastikan bahwa tak ada satu rupiah pun uang pelicin yang berputar di balik fit and proper test.
Jika tidak, kepercayaan publik terhadap BI — sebagai simbol stabilitas keuangan negara — akan runtuh.
Bangsa ini sudah terlalu lama membiarkan politik uang merusak sendi-sendi pemerintahan. Jangan biarkan penyakit itu menjalar ke lembaga yang seharusnya menjadi benteng moral ekonomi nasional.
Karena jika untuk menjadi Gubernur Bank Indonesia saja harus "bayar", maka yang sejatinya memimpin bukanlah penjaga rupiah, melainkan penjaga amplop.***
LABURA SUMUT24.co Hendri Yanto Sitorus kembali terpilih sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten
Politik
sumut24.co MedanKonsulat Jenderal India di Medan bekerja sama dengan Friends Club menggelar kegiatan pemutaran film India di Panti Jompo K
kota
sumut24.co MedanGubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution melakukan kunjungan silaturahmi ke jajaran Kejaksaan Tinggi (Kejati)
Umum
sumut24.co MedanGubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution mengajak Kepolisian Daerah (Polda) Sumut memperkuat sinergi dalam pem
Umum
sumut24.co MedanWali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif positif jajaran MPC Pemuda Pancasila
kota
sumut24.co SurabayaOtoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar kegiatan Digital Financial Literacy (DFL) 2026 di Universitas Airlangga (UNAIR),
Ekbis
sumut24.co Medan, Demi pencitraan kepada Bupati Deliserdang. Oknum Kepala SDN 105358 Desa Sekip, Kecamatan Lubukpakam berinisial W, dengan
kota
Polsek Medan Sunggal Amankan 2 Maling Viral di Gereja Pardede
News
Sarang Narkoba Desa Serbajadi Digerebek, 6 Barak Dibumihanguskan
News
Polrestabes Medan Tangkap 2 Wanita Pengguna Pod Getar
News