Bupati Solok Tekankan Penguatan Koordinasi dan Pelayanan Publik
Bupati Solok Tekankan Penguatan Koordinasi dan Pelayanan Publik
News
Baca Juga:
Labura – Isu tak sedap tengah beredar di Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Sumatera Utara. Ratusan pegawai honorer yang dinyatakan lulus sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu, mengaku diminta uang sebesar Rp7 juta sebagai syarat pengurusan administrasi dan Surat Keputusan (SK) penempatan.
Informasi itu mencuat setelah sejumlah tenaga medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aek Kanopan mengungkapkan adanya permintaan uang yang diduga dilakukan saat mereka dikumpulkan dalam sebuah ruangan rumah sakit.
"Kami diminta Rp7 juta untuk pengurusan administrasi. Tapi kami masih membahas apakah sanggup atau tidak, karena uang sebanyak itu sangat membebani kami. Tidak wajar," ungkap salah seorang tenaga medis, yang enggan disebutkan namanya, Jumat (3/10).
Keluhan senada juga disampaikan peserta PPPK lainnya. "Padahal kami sudah puluhan tahun bekerja di RSUD Aek Kanopan ini. Begitu lulus PPPK paruh waktu, malah diminta Rp7 juta," cetusnya.
Jumlah PPPK paruh waktu di lingkungan RSUD Aek Kanopan disebut mencapai sekitar 200 orang. Namun sebagian besar menolak permintaan tersebut. "Kalau Rp2 juta mungkin masih dipertimbangkan. Gaji kami saja hanya sekitar Rp1 jutaan per bulan," keluh salah seorang pegawai.
Sumber menyebutkan, permintaan uang itu disampaikan oleh seorang pria berseragam ASN yang menginstruksikan agar para PPPK paruh waktu menyatakan kesanggupan membayar.
Isu ini juga disorot anggota DPRD Labura, Zaharuddin Tambunan, melalui akun Facebook pribadinya. Ia menegaskan, praktik pungli seperti itu harus ditolak.
"Mulai tercium ada laporan dengan lulus PPPK atau paruh waktu. Ada yang minta Rp5 juta – Rp15 juta. Kalau ada yang menjual nama pejabat, kepala dinas, atau DPRD, itu bohong besar," tulis Zaharuddin.
Ia juga mengajak masyarakat mengumpulkan bukti kuat jika ada praktik pungli. "Kalau terpaksa harus memberi, silakan videokan atau rekam. Kalau alat bukti sudah cukup, satu laporan bisa saya ganti Rp5 juta – Rp10 juta," ujarnya.
Para tenaga medis berharap Bupati Labura Hendri Yanto dapat turun tangan menindak tegas dugaan praktik pungli tersebut. "Kami sudah puluhan tahun mengabdi di RSUD Aek Kanopan. Sungguh tega jika ada oknum yang meminta uang tidak jelas arah dan regulasinya. Apakah memang harus bayar, atau bagaimana, kami mohon penjelasan Bapak Bupati," kata salah seorang tenaga medis dengan nada kecewa.
Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui siapa pihak yang mengumpulkan para pegawai PPPK paruh waktu tersebut. Direktur RSUD Aek Kanopan, dr. Juri Freza, juga belum berhasil dikonfirmasi terkait masalah ini.tim
Bupati Solok Tekankan Penguatan Koordinasi dan Pelayanan Publik
News
Kapolda Sumut Ajak AlWashliyah Bersinergi Cegah Narkoba dan Intoleransi
News
Kapolda Sumut Rangkul Keuskupan Agung Medan, Ajak Perangi Narkoba dan Kejahatan Sosial
News
Pemko Solok Memperkuat Transformasi Digital Melalui Kerja Sama Strategis Dengan Pemerintah Kota Pekanbaru.
News
Polda Sumut Ungkap Dugaan Manipulasi Takaran BBM di Sergai, Manajer dan Supervisor SPBU Jadi Tersangka
News
Kapolresta Deli Serdang Pimpin Gelar Pasukan Ops Patuh Toba 2026 Di Mako Polresta Deli Serdang
News
Helm hingga Knalpot Tak Standar, Ini 9 Target Operasi Patuh Toba 2026 di Tapanuli Selatan
News
Apel Operasi Patuh Toba 2026 Digelar, Polres Padangsidimpuan Siapkan Personel Gabungan
News
Operasi Patuh Toba 2026 Polres Paluta Dimulai, Pengendara Bandel Jadi Sasaran
News
GEMPARSumut Bongkar Dugaan Kejanggalan Hibah SPPG Rp5,3 Miliar di Deli Serdang, Kejatisu Didesak Turun Tangan
News