Baca Juga:
LANGKAT l SUMUT 24
Akibat belum adanya jembatan permanen, warga Timbang Lawan kecamatan Bahorok terpaksa melansir hssil panen Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit menggunakan “rakit bambu”.
Informasi yang didapat Senen, 18/11 menyebutkan kesulitan mengeluarkan hasil bumi. Biaya ekstra saat panen tidak bisa ditawar lagi. Kendala tambahan saat musim hujan, Sei Bahorok banjir dikala jadwal panen. Terpaksa menunggu air surut, kebalikannya saat kemarau debit air berkurang kondisi demikian menyulitkan pekerja menyebrang ujar Subang warga dusun 1 desa itu.
Hubungkan 2 desa
Jasa panen dan lansir Rp 250,oo /Kg. Jika harga jual anjlok maka petani akan lesu tanpa gairah urainya.
Menurut warga lain jika dibangun jembatan permanen akan menghubungkan dua desa Timbang Lawan dan Lau Damak dusun Selayang.
Penuturan warga, dihulu lokasi dibangun dua jembatan gantung yakni jembatan Datuk Landak dan jembatan Pulau Pisang yang dibangun DR Sopian Tan secara swadaya namun hanya bisa dilalui sepeda motor.
Andai pemkab Langkat membangun jembatan permanen maka akses ke seberang akan maju pesat dan lahan persawahan juga tidak terancam berkurang malah terpelihara. Masyarakat akan membuka dan menjadikan daerah seberang menjadi “hunian baru”tanpa mengusik areal persawahan.
Harga TBS membaik
Sementara itu, Uteh warga yang sama salah seorang petani kelapa sawit ditemui saat panen dilokasi mengaku nilai jual TBS semakin membaik.
Menjawab wartawan dikatakannya Rp 1.300,oo/Kg dilapangan. Beberapa bulan ini telah semakin meningkat dan membaik ujarnya.
Namun demikian masyarakat masih mendambakan pembangunan jembatan permanen untuk mempermudah dan mengurangi biaya cost panen. Semoga. (mit)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News