Tiket Mahal? PRSU akan Segera dievaluasi

MEDAN | SUMUT24
Perhelatan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) di tahun 2016 ini masih terlihat minim inovasi. Wahana permainan dan hiburan juga tak banyak berubah dari tahun-tahun sebelumnya. Kondisinya semakin tak mengenakkan karena uang tiket masuk dinilai tidak merakyat alias mahal. Di sisi lain, uang parkir kenderaan disana juga terlalu mahal.
Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) mengungkapkan akan segera mengambil langkah tegas dengan melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan PRSU. Sekda Provsu Hasban Ritonga menegaskan, pihaknya akan secepatnya memanggil pihak PRSU untuk membahas hal ini.
“Nanti secara khusus akan kita undang pihak PRSU. Kalau terlalu membebani masyarakat dengan mahalnya tiket masuk dan parkir, kita akan segera evaluasi,” kata Hasban.
Hasban sendiri sepakat kalau PRSU harus melakukan improvisasi dan inovasi yang lebih menarik ke depannya. Tetapi, dikatakan Hasban, kelangsungan PRSU sebagai ajang promosi dan hiburan masih relevan dan dibutuhkan masyarakat.
“Memang perlu evaluasi supaya bagaimana bisa memberikan kontribusi lebih besar. Pihak PRSU juga harus memikirkan bagaimana membuat pengunjung puas setelah keluar dari arena PRSU. Sebenarnya memang diperlukan pihak ketiga, semua event itu harus ada EO nya. Karena EO itu kadang ada pengalaman luar negerinya. Jadi bisa merumuskan atau menghitung konkritnya bagaimana, standar permainan anak-anak misalnya,” tandas Hasban lagi.¬† Dari amatan pada akhir pekan kemarin, Sabtu (26/3) malam, memang terlihat tak banyak perubahan signifikan yang ditampilkan stan-stan dari kabupaten/kota. Beberapa stan yang dikunjungi terlihat hanya memajang pakaian adat daerah masing-masing. Selain itu mereka juga hanya menampilkan alat kesenian budaya dari daerah mereka sendiri. Tak terlihat hal yang baru yang terpamerkan disana, selain kopi dan keripik yang menjadi andalan untuk dijual.Padahal, PRSU kali ini bisa menjadi kesempatan emas bagi kabupaten dan kota untuk memamerkan kreatifitas dari daerah. Hal itu bisa saja berupa produk UKM, mengingat MEA sudah berada di pelupuk mata. “Produk yang dipamerkan di stan-stan kabupaten kota masih seperti itu-itu saja. Nggak ada yang menarik. Paling yang ada baju adat daerah, makanan keripik dan kopi,” kata Nurul, salah seorang pengunjung.Untuk sekedar membeli makanan dan minuman, ibu satu anak ini malah mengaku lebih tertarik masuk ke outlet dan gerai ritel modern yang memang ada di tiap sudut arena PRSU.
Dari sisi hiburan juga belum terlihat hal yang menonjol, karena masih mengandalkan kehadiran artis-artis ibukota untuk menyedot pengunjung. Walau di beberapa titik lokasi ada beberapa panggung untuk penampilan band lokal, namun hal itu masih belum cukup memuaskan.
Kondisi miris malah terlihat di lokasi wahana permainan anak. Disana tersedia kuda pusing, kereta keliling, dan beberapa permainan anak yang kondisinya tak jauh berbeda dengan apa yang ada di arena  pasar malam. Wahana permainan ini pun ditarif Rp8 ribu untuk satu kali bermain. Bahkan arena tong setan yang ada disana tidak dilengkapi atap sehingga kondisinya sangat membahayakan.
Satu-satunya wahana yang sedikit menggelitik adalah rumah hantu, yang lebih banyak diserbu kaum muda. “Ya biasa aja bang,” ujar seorang pemuda bernama Zul, yang baru keluar dari wahana tersebut bersama pacarnya. PRSU pun terkesan masih mempertahankan kereta api keliling areal PRSU, yang kondisinya sudah tua dan usang. “Masih lebih bagus lagi odong-odong yang keliling kampung-kampung bang, daripada kereta api keliling PRSU ini. Tiket naiknya lima ribu per orang bang untuk sekali keliling,” jelas Eko, yang mengaku sengaja datang dari Sei Rempah bersama keluarganya.
Eko yang seakan menyiratkan penyesalannya mengaku heran karena di PRSU malah ada yang jual kerak telur, yang menurutnya bukan makanan khas di Sumut. “Ada pula yang jual kerak telur disini. Makanan khas Sumut malah gak nampak, entah makanan khas dari Nias atau daerah lain yang nggak ada di Medan,” ungkap Eko lagi.
Di sisi lain, baik Nurul maupun Eko sepakat membenarkan kalau tiket masuk ke PRSU sebesar Rp20 ribu kemahalan. Apalagi ditambah dengan biaya parkir kenderaan yang juga dianggap mereka juga mahal. Meski begitu, kedua pengunjung ini tak mempermasalahkan tiket masuk yang mahal itu jika seandainya PRSU benar-benar menyajikan hal-hal yang memuaskan.
“Kalau mau beli baju, kan lebih bagus ke Petisah daripada disini. Jadi kita datang ke PRSU kan mau melihat apa yang beda. Harus benar-benar lah disajikan hiburan menarik dari budaya lokal, jadi tiket mahal pun gak apa-apa. Kemasannya harus lebih baik. Kalau menurut saya, yang menarik itu cuma replika robot-robotan yang ada didekat pintu masuk saja. Untuk foto-foto anak,” tandas Nurul lagi. (ism)