Bravo Satresnarkoba Polres Labuhanbatu atas tangkapan 4 Kg Garam China di Bus ALS
Bravo Satresnarkoba Polres Labuhanbatu atas tangkapan 4 Kg Garam China di Bus ALS
News
Baca Juga:Proses shooting film di luar negeri bukanlah hal yang mudah.
- Tanpa Izin dan Tanpa Tempat Penyimpanan, Pengelolaan Limbah Medis di Puskesmas Asahan Terancam Pidana, Diminta Penegak Hukum Turun Tangan
- PLN Datangkan Empat Tower Emergency Dan Personel Lintas Wilayah Untuk Percepat Pemulihan Sistem Kelistrikan Sumut
- Polsek Simpang Empat Berhasil Ungkap Kasus Narkotika di Dekat Sekolah, Satu Pelaku Diamankan
Foto 1. Korea Selatan menjadi
2
tujuan hidup baru bagi para tokoh-tokoh di film Sampai Jumpa, Selamat Tinggal.
2) Tak hanya shooting di Seoul
Demi melanjutkan hidup, para tokoh di film ini diceritakan datang ke Korea dan bekerja sebagai
TKI. Sayangnya, karena berstatus pekerja ilegal, mereka harus siap berpindah-pindah kota,
bahkan negara. Untuk itu, shooting film ini dilakukan di tiga kota di Korea, yaitu Seoul, Dangjin,
dan Seosan. Kontras dengan Seoul yang penuh gedung-gedung modern, Dangjin dan Seosan
yang berjarak sekitar 90 KM dari Seoul merupakan kota industri dan pelabuhan yang lebih
sederhana. Penonton akan diajak melihat sisi lain Korea Selatan yang jauh lebih hening dan
sederhana, terasa pas sebagai tempat pelarian tokoh-tokoh di film ini.
Foto 2. Kota Dangjin yang dekat dengan pelabuhan dan berbatasan dengan pantai selatan Teluk Asan.
3) Membangun chemistry dengan tango dance
Meski keempat aktor dan aktris di film ini – Putri Marino, Jerome Kurnia, Jourdy Pranata, dan
Lutesha – sudah beberapa kali terlibat project bersama, namun Sutradara dan Produser
mengarahkan para aktor untuk membangun chemistry kembali dengan menari tango. Tarian
khas Latin ini dikenal intens dan sensual, serta mengandalkan interaksi kedua penari untuk
saling mengarahkan gerakan. Proses ini membantu para tokoh untuk melatih diri mereka agar
lebih in-character, dan saling mengekspresikan emosi-emosi kompleks yang ada dalam cerita.
3
Foto 3. Seluruh cast dan filmmaker membangun chemistry mereka melalui tarian tango,
yang intens dan penuh interaksi, untuk lebih mendalami karakter.
4) Les privat Bahasa Korea untuk para cast
Lutesha, yang memerankan Vanya dalam film, adalah cast yang paling sering menggunakan
bahasa Korea. Tim bahkan memanggil seorang guru bahasa Korea untuk mengajarkan para
cast, dan Lutesha ternyata menjadi yang paling cepat dan fasih dalam menguasai bahasa
tersebut dibandingkan dengan empat cast lainnya. Kemampuannya dalam beradaptasi dengan
bahasa Korea memperkaya peran Vanya, menjadikannya lebih natural dan mendalam dalam
berinteraksi dengan karakter lain di dalam cerita.red
Bravo Satresnarkoba Polres Labuhanbatu atas tangkapan 4 Kg Garam China di Bus ALS
News
Agus Dwi Handaya Kembali Pimpin IKAFEBUSU Periode 20262030Medansumut24.co Agus Dwi Handaya kembali dipercaya menjadi Ketua Umum Ikatan A
News
Dr. Kaswinata Terpilih sebagai Ketua IAEI Sumut Periode 20262031Medansumut24.co Dr. Kaswinata, SE., Ak., CA., MSP., terpilih sebagai Ket
News
Negara Menjemput Warganya di Semenyih
News
Ahli Pers Nurhalim Tanjung AI Harus Jadi Asisten, Bukan Pengganti Wartawan
kota
Jembatan Tak Kunjung Dibangun, Warga Keluhkan Akses Bukit LawangTangkahan Rusak dan Ancam Demo ke PU
News
Kades Sei Musam Akui Terbatas Tangani Jalan dan Jembatan Rusak Kami Sudah Berupaya
News
Kesepakatan Menjadi Salah Satu Tahapan Penting Dalam Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
News
Teater, Pembangunan, dan Sikap Kritis
News
Mahasiswa Unimed Raih Juara III LKTN Nasional 2026, Soroti Pergeseran Nilai Pernikahan Semarga Mandailing di Era Digital
News