Program 100 Hari Kerja, Terkelin-Cory Akan Tertibkan Café Remang-remang

TANAHKARO | SUMUT24

Kasus penderita HIV/AIDS di Kabupaten Karo merupakan yang terbesar di Sumatera Utara. Saat ini sudah hampir 400 orang mengidap penyakit ini di seluruh Tanah Karo termasuk di desa-desa. Untuk itu, upaya penanggulangan atau penekanan penyebaran HIV/AIDS, Bupati Karo Terkelin Brahmana SH bersama Wakilnya Cory Sebayang akan melakukan penertiban café remang-remang yang semakin marak bermunculan.

“Pencegahan pertumbuhan epidemic HIV/AIDS harus dilakukan dari hulu sampai ke hilir agar tidak berkembang ke arah yang lebih buruk,” ujar Bupati Karo Terkelin Brahmana SH didampingi wakilnya Cory Sebayang di ruang kerjanya kepada wartawan saat melakukan konferensi pers program 100 hari ke depan, Selasa (26/4).

Menurutnya, SKPD terkait juga dapat melakukan gebrakan untuk menekan penyebaran virus tersebut. Tanpa ada kerjasama yang baik antara kepala daerah dengan SKPD dan stakeholder,program untuk membangun daerah akan sia-sia. Meski begitu, dalam penertiban café remang-remang harus melalui prosedur.

“Yang gak ada ijin ya harus ditutup, sementara yang ada ijinnya, akan dievaluasi ijinnya itu. Misalnya, café tersebut buka dari jam berapa dan tutup jam berapa. Serta apa yang dijual di dalam café tersebut,” ujar Bupati.

Penekanan penularan HIV/AIDS harus ada upaya komprehensif yaitu kemauan manusianya juga. Dan yang paling penting adalah pembinaan moral. Karena masyarakat mengaspirasikan juga agar pemerintah menertibkan dan membina keberadaan café remang-remang.

“Selain café remang-remang, kita juga akan cek ijin tempat oukup-oukup. Jika tidak ada ijinnya maka akan segera ditutup, yang memiliki ijin akan dicek apakah ijinnya sesuai dengan keberadaannya. Dan jika melanggar dari ijin tersebut akan ditutup juga,” tegas Bupati diamini Wabupnya.

Terkait itu, salah seorang warga Kabanjahe J. Sembiring (55) mengatakan Bupati dan Wakil Bupati terpilih yang sudah dilantik harus meningkatkan rasa empati dan melakukan cegah dini terhadap penyakit tersebut.
“Penanggulangan penyakit ini harus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan banyak pihak termasuk Dinas Kesehatan,” katanya.

Bahkan sambungnya lagi, besarnya jumlah penderita penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Karo perlahan lahan merubah kata kata, makna kata dan akhirnya menjadi kebiasaan baru di Kabupaten Karo. Jika seorang penderita HIV AIDS meninggal dunia, maka kebiasaan adat dalam kematiannya pun dibuat berbeda. Terlihat sekali bedanya dalam acara adat. Yang menghadiripun seolah olah terpaksa datang, lalu acara dibuat sesingkat mungkin, dan tempat beracarapun dibuatpun sedemikian rupa sehingga agak jauh dari lokasi peti jenazah.

“Nampak acara dibuat (seolah terpaksa) hanya menjalankan adat. Namun tetap ada kreativitas orang Karo dalam menyebutkan jenis penyakit yang menyebabkan kematian yang meninggal ”penyakit sigundari” arti harfiah dari “penyakit sigundari” adalah penyakit masa kini atau penyakit yang sekarang. Maksudnya penyakit sigundari adalah tidak lain dan tidak bukan HIV AIDS. Di seluruh wilayah Kabupaten Karo, sekarang sudah jelas dan sudah mengetahui makna “penyakit sigundari” adalah penyakit HIV AIDS,”jelas Sembiring.

Untuk itu diharapkan kepada pemerintah daerah dalam hal ini, Bupati dan Wakil Bupati agar secepatnya menertibkan café remang-remang dan oukup-oukup yang tak berijin. Karena di tempat tersebut merupakan awal terjangkitnya virus yang mematikan tersebut. (joh)