Sabtu, 15 Agustus 2026

Fragilisasi Kepemimpinan di Sumut : Antara Degradasi Politik dan Krisis Kepercayaan Publik

Administrator - Selasa, 21 Oktober 2025 15:33 WIB
Fragilisasi Kepemimpinan di Sumut : Antara Degradasi Politik dan Krisis Kepercayaan Publik
Istimewa

Oleh: H. Syahrir Nasution

Baca Juga:

Isu krisis kepemimpinan di Sumatera Utara kian menyeruak ke permukaan. Pengamat sosial-politik Shohibul Anshor Siregar beberapa waktu lalu menyebut Gubernur Sumut Bobby Nasution sebagai "pemimpin terburuk dalam sejarah Pemprovsu". Komentar tersebut sontak memicu gelombang refleksi publik tentang arah dan kualitas kepemimpinan di daerah ini.

Menanggapi hal itu, tokoh Sumut H. Syahrir Nasution menilai bahwa apa yang dikemukakan Shohibul Anshor sesungguhnya mencerminkan fenomena yang lebih serius, yaitu fragilisasi kepemimpinan — rapuhnya sendi-sendi kepemimpinan di tingkat daerah.

> "Ini sudah masuk kategori rapuhnya kepemimpinan, yang merupakan tahap awal menuju ambruknya leadership dari seorang gubernur. Ketika kepercayaan publik runtuh, maka pemerintahan akan kehilangan legitimasi moral dan politik," ujar Syahrir Nasution di Medan, Senin (21/10).

Ia menegaskan, kepemimpinan bukan sekadar soal jabatan, melainkan kemampuan memotivasi dan menginspirasi bawahan. Menurutnya, gaya kepemimpinan yang menonjolkan tekanan dan intimidasi (threat leadership) hanya akan mempercepat proses degradasi politik pemerintahan.

> "Leadership itu bukan tentang bagaimana menakuti atau menekan bawahan, tapi bagaimana seorang pemimpin mampu membuat orang di bawahnya bekerja dengan motivasi, kenyamanan, dan rasa aman," tegas Syahrir.

Lebih jauh, ia menilai gaya kepemimpinan Gubernur Bobby yang dianggap penuh dengan show off tanpa hasil nyata justru menimbulkan degradasi total dalam tata kelola pemerintahan Sumut. Hal itu ditandai dengan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah dan kian pudarnya semangat kolektif dalam birokrasi.

> "Masyarakat Sumut kini sudah sangat paham dengan style of leadership yang dijalankan. Akibatnya, mereka mulai mengambil sikap dan menyiapkan langkah korektif secara sosial dan politik," tambahnya.

Syahrir menutup komentarnya dengan pesan bahwa kepemimpinan yang kuat harus tumbuh dari keteladanan, empati, dan integritas, bukan dari kekuasaan yang menakutkan.

> "Krisis kepemimpinan hanya bisa dipulihkan dengan kejujuran dan kemampuan memotivasi. Karena sejatinya, pemimpin adalah sumber energi moral bagi masyarakatnya.***

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Administrator
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Respon Cepat Sikapi Keluhan Masyarakat Anggota DPRD Medan Fraksi Nasdem Antonius Devolis Tumanggor Sosialisasikan Perda No. 3 Tahun 2025
Kukuhkan 50 Anggota Paskibra, Bupati Simalungun: Laksanakan Tugas dengan Penuh Tanggung Jawab
Bupati Simalungun Hadiri Rapat Paripurna DPRD, Simak Pidato Presiden RI
Wali Kota menyaksikan Pidato Kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI Tahun 2026
Wali Kota diwakili Staf Ahli Bidang menghadiri dan membuka Silaturahmi dan Dialog Kerukunan. Kegiatan yang diselenggarakan FKUB
3 National First-Class Chinese Actors - Berikan Pesan untuk Atlet Difabel Sedunia Lewat 100 CTFP
komentar
beritaTerbaru