Usia Emas PRSU Menjadi Fondasi Baru Menuju Pusat Promosi Perdagangan dan Investasi Nasional
sumut24.co MedanPekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke50 resmi ditutup setelah berlangsung selama 31 hari, sejak 3 Juli hingga 2 Agustus 202
Umum
Baca Juga:
- Berulang Berganti Kasat dan Kapolsek, Balga Tidak Tersentuh, Tetap Eksis Edarkan Narkoba d Bilah Hilir
- Kuasa Hukum: Antonius Devolis Tumanggor Kooperatif Jalani Pemeriksaan Di Polrestabes Medan
- Kuasa Hukum Bantah Tuduhan Penganiayaan, Sebut Antonius Tumanggor Tidak Lakukan Kontak Fisik dengan Pelapor
Sudah banyak kalangan yang membahas dan berupaya mencari solusi atas masalah over-kapasitas di lembaga pemasyarakatan. Karena bagaimana pun, ini bisa membuat malu bangsa kita di mata internasional: Yaitu citra negara dalam memperlakukan rakyatnya sendiri.
Salah satu yang mengemuka adalah upaya menegakkan keadilan restoratif (Restorative Justice). Diharapkan, dengan adanya hukuman alternatif selain pemenjaraan, dapat menekan membludaknya populasi di lembaga pemasyarakatan. Saat ini warga binaan yang ada di Lapas dan Rutan se-Indonesia berjumlah 271.385 orang. Angka ini melampaui kapasitas semestinya yang hanya 140.000 saja. Sementara 53% penghuninya atau sebanyak 135.823 orang, adalah mereka yang tersangkut tindak pidana narkotika.
Padahal disisi lain, pidana narkotika khususnya bagi pecandu, memiliki peluang besar untuk penegakan restorative justice. Apalagi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika menunjukkan bahwa pecandu narkotika dipandang sebagai individu yang sakit dan perlu dipulihkan. Karena itu mereka wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial , bukan semata-mata penjahat yang harus dihukum penjara.
Restorative justice sangat selaras dengan konsep rehabilitasi, karena tujuannya adalah memulihkan kondisi pelaku (yang seringkali juga merupakan korban dari ketergantungannya sendiri), lalu membina dengan semangat mengintegrasikan kembali ke masyarakat.
Di era Presiden Prabowo Subianto ini, sebenarnya sudah mulai ada peningkatan atas isu Restorative Justice ini. Jaksa Agung RI, dalam beberapa kesempatan awal 2025, menegaskan kembali bahwa penerapan keadilan restoratif tetap menjadi salah satu prioritas penanganan perkara ringan. Apalagi Kejagung telah memiliki pedoman tentang hal ini, yakni Pedoman Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 mengenai Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif, serta Pedoman Jaksa Agung Nomor 18 Tahun 2021 khusus untuk kasus narkotika.
Begitu juga di Polri, institusi ini memiliki payung hukum yang kuat untuk menerapkan RJ. Yaitu Perpol Nomor 8 Tahun 2021 tentang Penanganan Tindak Pidana Berdasarkan Keadilan Restoratif. Ini memberikan landasan operasional yang jelas di tingkat penyidikan. Mekanisme SPDP (Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan) kini dituntut lebih selektif untuk perkara-perkara yang bisa diselesaikan di luar pengadilan. Selain itu, Polri juga terus memperluas Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) yang menjadi pintu awal proses restoratif, khususnya untuk perkara domestik dan anak berhadapan dengan hukum.
Meski demikian, perjalanan keadilan restoratif bukan tanpa tantangan. Harus diakui bahwa paradigma dan kultur penegak hukum kita selama ini yang masih cenderung retributif, yaitu fokus pada kesalahan dan hukuman. Bekum lagi masalah keterbatasan SDM, dimana kegamangan tentang tafsir Restorative justice kerap menjadi hambatan. Tidak jarang, aparat di lapangan merasa gamang untuk membedakan antara keadilan restoratif dan impunitas. Ditambah lagi saat ini kerap terjadi tekanan publik yang menuntut hukuman berat untuk perkara yang sebenarnya masuk kategori ringan.
Bagaimanapun, kita harus tetap otimis bahwa suatu saat restorative justice akan bisa diwujudkan dengan konsisten dan berkualitas. Adanya dukungan regulasi dan upaya meningkatkan kesadaran aparat penegak hukum merupakan modal besar. Sehingga, restorative justice dapat sepenuhnya berkontribusi dalam mengatasi persoalan overcapacity di lapas dan mewujudkan sistem peradilan pidana yang lebih adil, manusiawi, dan efektif di Indonesia.
sumut24.co MedanPekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke50 resmi ditutup setelah berlangsung selama 31 hari, sejak 3 Juli hingga 2 Agustus 202
Umum
sumut24.co MedanSuasana di kawasan jalan Sumatera, Medan Belawan mendadak riuh dan penuh semangat. Untuk pertama kalinya, kegiatan Car Fre
kota
Tinjau Pasar dan Terminal Aksara, Bupati Minta Rencana Pengembangan Dikaji Matang
kota
Gubernur Andra Soni Logo Baru Bank Banten Lambangkan Kepercayaan, Semangat dan Harapan
kota
Paviliun Deli Serdang Raih Terbaik I PRSU ke50
kota
sumut24.co Delisetdang, Paviliun Pemerintah Kabupaten Deliserdang meraih penghargaan Paviliun Terbaik I Pilihan Penyelenggara pada Pekan Ra
News
sumut24.co Deliserdang, Bupati Deliserdang, dr H Asri Ludin Tambunan, bersama Wakil Bupati Lom Lom Suwondo SS, meninjau Pasar Tradisional A
News
sumut24.co ASAHAN, Sorotan tajam kembali mengarah pada tata kelola keuangan Dewan Pengurus Korps Pegawai Republik Indonesia (DPK KORPRI) Ka
News
sumut24.co ASAHAN, Suara pekikan Merdeka! Merdeka! Merdeka! menggema keras di sepanjang jalan menuju kawasan Wisata Mangrove, Desa Silo B
News
Jaringan Narkoba Terungkap di THM Helen&039s Night MartPolrestabes Medan Sita Sejumlah Narkoba dan Ringkus Pengedar
kota