Taekwondo Sumut Turunkan Enam Atlit Terbaik Berlaga di Asia Taekwondo Indonesia Open Championships
MedanSetelah berhasil meraih wild card, tim Taekwondo Sumut menurunkan enam atlit terbaiknya berlaga di Asia Taekwondo Indonesia Open Champ
Sport
Baca Juga:
(No One Can Escape History)
Oleh: H Syahrir Nasution
Di tengah arus globalisasi dan gelombang digitalisasi yang makin tak terbendung, kehidupan manusia kini berada dalam pusaran informasi yang nyaris tak terbatas. Media sosial, kecerdasan buatan, dan perangkat digital lainnya telah mengambil alih banyak ruang dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, di balik kemajuan ini, terdapat sisi gelap yang kian mencemaskan—terutama dalam hal kesadaran sejarah.
Generasi muda saat ini, khususnya generasi Z, tumbuh dalam lingkungan serba instan. Mereka lebih percaya pada apa yang viral di media sosial daripada menggali kebenaran melalui catatan sejarah yang otentik. Informasi yang mereka terima bukanlah hasil kontemplasi panjang atau studi mendalam, melainkan hasil dari algoritma yang dikendalikan oleh kepentingan bisnis atau bahkan politik.
Salah satu akibat paling fatal dari fenomena ini adalah makin terpinggirkannya sejarah dalam ruang pendidikan formal maupun dalam kesadaran kolektif masyarakat. Bahkan, dalam beberapa wacana kebijakan pendidikan, pelajaran sejarah mulai dikesampingkan, dianggap tidak relevan dengan tuntutan zaman. Ini adalah kekeliruan besar. Sebab, bagaimana mungkin kita bisa melangkah ke masa depan tanpa memahami akar masa lalu?
Sejarah bukan hanya kumpulan tanggal dan peristiwa. Sejarah adalah cermin, guru, dan penuntun arah. Para pendiri bangsa ini—Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Ki Hajar Dewantara, hingga Willem Iskander—bukanlah tokoh yang muncul begitu saja. Mereka ditempa oleh situasi sejarah yang berat, dijajah ratusan tahun, namun mampu bangkit karena memiliki kesadaran sejarah yang kuat. Mereka membaca, menganalisis, dan memahami kondisi bangsa, lalu melawan dengan pemikiran, tindakan, dan semangat kebangsaan yang menyala-nyala.
Sebagai contoh, Willem Iskander adalah sosok yang patut dikenang. Ia bukan hanya pahlawan, tapi juga pendobrak sistem pendidikan kolonial. Dalam buku Willem Iskander: Pahlawan dan Pendobrak, kita dapat melihat betapa pentingnya peran sejarah dalam membentuk pemikiran progresif di masa penjajahan. Iskander memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak pribumi, sebuah gagasan radikal pada zamannya, yang lahir dari kesadarannya akan pentingnya membangun bangsa dari pengetahuan dan identitas diri.
Namun kini, nilai-nilai seperti itu mulai terkikis. Generasi muda lebih sibuk dengan konten singkat yang viral daripada membaca sejarah bangsa mereka sendiri. Akibatnya, banyak yang tidak mengenal tokoh-tokoh perjuangan, tidak paham konteks kemerdekaan, bahkan tidak tahu arti penting dari sumpah pemuda, reformasi, atau perjuangan di masa penjajahan. Ini adalah kehilangan besar yang dapat membuat bangsa ini kehilangan arah.
Jika bangsa ini ingin tetap berdiri teguh di tengah badai globalisasi, maka pendidikan sejarah harus dikembalikan ke posisi strategis. Sejarah bukan barang lama yang usang. Ia adalah fondasi peradaban. Sejarah adalah peringatan bahwa setiap langkah kita hari ini akan menjadi jejak yang dipelajari generasi berikutnya. Oleh karena itu, melupakan sejarah sama saja dengan menggali kubur bagi identitas bangsa sendiri.
Mari kita renungkan: mengapa negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan Jerman begitu menekankan pendidikan sejarah? Karena mereka tahu, kekuatan bangsa tidak hanya berasal dari teknologi dan ekonomi, tetapi juga dari narasi besar yang membentuk kesadaran kolektif bangsanya.
Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan: tidak ada seorang pun yang dapat lari dari sejarah. Kita semua adalah bagian dari mata rantai panjang peristiwa dan perjuangan. Maka, jangan biarkan sejarah terkubur dalam sunyi. Bangkitkan kembali kesadaran sejarah dalam pikiran generasi muda, dan wariskan semangat kebangsaan yang kuat kepada anak cucu kita. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarahnya.***
MedanSetelah berhasil meraih wild card, tim Taekwondo Sumut menurunkan enam atlit terbaiknya berlaga di Asia Taekwondo Indonesia Open Champ
Sport
sumut24.co TANJUNGBALAI Wali Kota Tanjungbalai Mahyaruddin Salim mengikuti Rapat Kerja (Raker), Rapat Dengar Pendapat (RDP), dan Rapat
News
sumut24.co MEDAN, Universitas Sumatera Utara (USU) menjadi tuan rumah The 5th IndonesiaMalaysiaThailand Growth Triangle University Networ
kota
sumut24.co Tapanuli Selatan, Pemerintah terus mendorong percepatan penyelesaian Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru seb
News
sumut24.co MEDAN, Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) hingga akhir Juli 2026 menunjukkan kinerja yang me
kota
Wamen Haji dan Umrah RI Dr. H. Dahnil Anzar Simanjuntak Buka Perdana Pengajian Akbar Jemaah Haji Indonesia di Masjid ArRifa&039i TPI Medan
kota
sumut24.co KARO, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara menegaskan komitmennya memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam me
News
sumut24.co MEDAN, Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, bersama DPRD Provinsi Sumatera Utara resmi menyepakati Rancangan P
kota
sumut24.co MEDAN, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara mengajak seluruh masyarakat untuk mengibarkan Bendera Merah Putih secara ser
kota
Dinilai Berjasa Tingkatkan Kerja Sama Bilateral Saat Menjabat Dubes, Hasrul Azwar Terima Royal Medal dari Raja Maroko
kota