Kesiapsiagaan Ditingkatkan, Polresta Deli Serdang Gelar Sispam Mako
Kesiapsiagaan Ditingkatkan, Polresta Deli Serdang Gelar Sispam Mako
kota
Bandung | Sumut24.co — Polemik pernyataan pengamat politik Saiful Mujani yang dinilai mengarah pada ajakan menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto memicu beragam respons di ruang publik. Isu ini berkembang cepat dan menjadi perbincangan hangat di tengah dinamika politik nasional pasca pemilu.
Baca Juga:
Sejumlah pihak menilai pernyataan tersebut berpotensi kontroversial apabila dimaknai sebagai dorongan di luar mekanisme demokrasi yang sah. Karena itu, publik diimbau untuk menyikapinya secara rasional dan tidak terjebak pada narasi yang dapat memperkeruh suasana.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Umum DPP Forum Alumni Badan Eksekutif Mahasiswa - Senat Mahasiswa Indonesia Bidang Hukum & Antar Lembaga, Tody Ardiansyah Prabu, menyampaikan pandangan yang netral namun kritis. Ia menegaskan bahwa setiap pernyataan publik, terlebih dari tokoh intelektual, harus ditempatkan dalam kerangka demokrasi yang sehat, konstitusional, dan legitimate.
"Dalam demokrasi, kritik terhadap pemerintah adalah hal yang wajar. Namun harus disampaikan secara proporsional dan tidak menimbulkan interpretasi yang dapat memicu instabilitas politik," ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya membedakan kritik konstruktif dengan narasi yang berpotensi mendelegitimasi hasil demokrasi. Menurutnya, kehati-hatian dalam menyampaikan opini sangat diperlukan agar tidak menimbulkan kegaduhan yang tidak produktif di tengah masyarakat yang majemuk.
Di sisi lain, FABEM–SM Indonesia mengapresiasi sikap pemerintah yang tetap fokus bekerja di tengah polemik yang berkembang. Presiden Prabowo disebut lebih memprioritaskan agenda strategis dan pelayanan kepada masyarakat.
Tody menilai langkah tersebut penting untuk menjaga stabilitas nasional, terutama di tengah tantangan ekonomi, sosial, dan dinamika geopolitik global yang terus berkembang.
Lebih lanjut, FABEM–SM mendorong agar ruang diskusi publik tetap terbuka, namun diiringi kedewasaan dalam berpendapat. Peran akademisi, aktivis, dan tokoh publik dinilai krusial dalam menjaga kualitas demokrasi.
Selama ini, FABEM–SM dikenal aktif mendorong literasi politik di kalangan mahasiswa dan alumni BEM di seluruh Indonesia melalui berbagai forum diskusi, kajian kebijakan, dan advokasi.
FABEM–SM menilai polemik ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat budaya demokrasi yang sehat. Perbedaan pandangan, menurut mereka, tidak perlu dihindari, namun harus dikelola secara bijak dan bertanggung jawab.
"Yang terpenting adalah tetap mengedepankan dialog dan rasionalitas. Menjaga keseimbangan antara kebebasan berpendapat, stabilitas nasional, dan kesejahteraan rakyat merupakan kunci dalam merawat demokrasi Indonesia," pungkasnya.red
Kesiapsiagaan Ditingkatkan, Polresta Deli Serdang Gelar Sispam Mako
kota
Deli Serdang Tata Kawasan Pedagang, UMKM Central Resmi Dibangun
kota
Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi KI Sumut, 76 Peserta Lolos ke Tahap Tes Potensi
kota
sumut24.co Labuhanbatu, Diduga dipaksa membuang air panas dari cerobong blowwdon secara manual, 3 orang karyawan PMKS PT Cisadane Sawit Ray
News
sumut24.co ASAHAN, Pemerintah Kabupaten Asahan kembali menyalurkan bantuan sosial pangan bagi masyarakat kurang mampu. Penyerahan secara si
News
SDIT TPI Gelar Jalan Sehat dan GEMAS Peringati 76 Tahun Taman Pendidikan Islam
kota
Wakil Bupati Solok, H. Candra, menghadiri Bimbingan Teknis dan Silaturahmi (Aswakada 2026
News
Menang di Pengadilan Tapi Belum Dibayar, Pensiunan PDAM Tirtanadi Minta Tolong ke Bobby Nasution
kota
Polda Sumut Gelar Ibadah dan Doa Bersama Sambut May Day 2026, Wujudkan Pengamanan Humanis
kota
Apresiasi Praja IPDN, Wamendagri Bima Latih Kepemimpinan Atasi Dinamika Pemerintahan
kota