Atika Azmi Utammi Nasution Pimpin HKTI Madina, Dorong Petani Naik Kelas dan Perkuat Ketahanan Pangan
Atika Azmi Utammi Nasution Pimpin HKTI Madina, Dorong Petani Naik Kelas dan Perkuat Ketahanan Pangan
News
RUSIA | SUMUT24
Baca Juga:
- Atika Azmi Utammi Nasution Pimpin HKTI Madina, Dorong Petani Naik Kelas dan Perkuat Ketahanan Pangan
- Kejuaraan Tenis Meja Antar Pelajar Padangsidimpuan 2026 Digelar, PTMSI Dorong Lahirnya Bibit Atlet Muda
- Dugaan Pungli Rekrutmen Pendamping Desa Asahan : Elite Parpol Terlibat, APH Tindak Tegas Pelaku
Setelah tersingkir dari Piala Dunia 2018, Tim Nasional Jepang melepas beberapa pemain penting mereka, yakni Keisuke Honda, Makoto Hasebe, Takashi Inui dan Gotoku Sakai. Keempatnya memutuskan pensiun dari Tim Nasional.
Bagi Jepang, Rusia 2018 adalah perjalanan yang serupa roller coaster. Dari awalnya tidak memasang ekspektasi tinggi hingga akhirnya memunculkan salah satu thriller paling menegangkan di Piala Dunia 2018.
Jepang memecat pelatih mereka, Vahid Halilhodzic, hanya dua bulan sebelum turnamen. Langkah ini terbilang berisiko mengingat dengan mepetnya waktu persiapan, The Samurai Blue boleh jadi bakal kesulitan menemukan pakem yang pas.
Pengganti Halilhodzic adalah Akira Nishino. Beruntung buat Jepang, Nishino adalah mantan direktur teknik JFA (federasi sepak bola Jepang) sehingga ia tidak buta-buta amat dengan kekuatan yang dimiliki timnya.
Kendati begitu, Nishino hanya punya satu uji tanding sebelum akhirnya memilih 23 pemain yang akan dibawanya ke Rusia. Ia pun harus berpusing-pusing menentukan formasi yang pas untuk skuatnya.
Pada masa uji coba, Nishino sempat bergantian memainkan Takashi Inui dan Shinji Kagawa bergantiian sebagai starter. Namun, di putaran final, keduanya justru sering dimainkan bersamaan di starting XI.
Dalam tiga pertandingan fase grup, Jepang tidak sekadar dikenal sebagai tim yang pendukungnya selalu bersih-bersih tribune sebelum pulang, tetapi juga tim Asia dengan penampilan paling baik.
Pemain-pemain Jepang tidak sekadar ulet, tetapi punya teknik operan bagus dan punya kecerdasan dalam membaca permainan. Oleh karena itu, mereka bisa menang 2-1 atas Kolombia (well, dengan sedikit ‘bantuan’ kartu merah Carlos Sanchez) dan bermain imbang 2-2 dengan Senegal.
Di babak 16 besar, Jepang membuat orang-orang tercengang. Bertanding melawan Belgia, yang punya skuat bertabur bintang, Hasebe dan teman-temannya justru berani melakukan tekanan sedari awal.
Trio Hasebe-Kagawa-Gaku Shibasaki secara konstan melakukan pressing kepada para gelandang Belgia di lini tengah. Begitu mendapatkan bola, mereka akan langsung mengirimkan bola direct ke depan, entah lewat umpan terobosan atau umpan panjang.
Dengan cara seperti itu, Jepang sempat unggul 2-0 atas Belgia. Namun, The Red Devils merespons dengan cepat. Masuknya Marouane Fellaini dan Nacer Chadli terbukti bisa mengubah keadaan.
Lewat sundulannya, Fellaini mengubah kedudukan menjadi 2-2. Sementara itu, Chadli menyelesaikan sebuah serangan balik apik tepat sebelum babak kedua berakhir dan mengantarkan Belgia menang 3-2.
Para pemain Jepang tertunduk lesu. Kagawa merebahkan badannya, tidak percaya keunggulan dua gol itu lenyap begitu saja. Sementara itu, Gen Shoji bertengkurap seraya memukul-mukul tangan ke lapangan —ia sama tak percayanya. Hasebe, sang kapten, masih bisa memasang raut tenang. Dia masih bisa menjawab pertanyaan di pinggir lapangan dengan tenang dan tertata. Hasebe kecewa, tapi tidak sedikit pun emosinya terlihat bergolak pada wawancara itu.
Pernyataan soal hasil pertandingan itu tidak menjadi yang terakhir darinya. Rabu (4/7/2018), Hasebe mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Gelandang berusia 34 tahun tersebut memutuskan pensiun dari Timnas dan merasa bahwa tempatnya sudah harus digantikan pemain lain.
“Bermain untuk Tim Nasional berbeda dengan klub. Setiap pemain tidak tahu siapa yang akan dipilih dan dimainkan. Jadi, saya paham kalau saya agak sedikit egois ketika mengumumkan ini,†kata pemain yang menjadi kapten Jepang dalam tiga edisi Piala Dunia berbeda itu di Japan Today.
Langkah Hasebe juga diikuti oleh Honda (32 tahun). Alasannya sama: Memberi jalan pada generasi yang lebih muda. “Mereka akan menorehkan sejarah baru untuk Jepang,†ucap Honda di BBC.
Honda memang lebih sering jadi pemain pengganti di Piala Dunia 2018. Kendati begitu, ia tetaplah ‘Sang Kaisar’. Tiap kali dimasukkan, pemain Pachuca tersebut selalu bisa memberikan perbedaan.
“Saya senang karena kami punya banyak pemain muda bagus. Sekarang adalah giliran mereka untuk menulis cerita baru,†ucap Honda.
Hasebe dan Honda tidak sendiri. Inui (30), yang menjadi salah satu penampil terbaik Jepang di Piala Dunia 2018, dan Sakai (27) juga memutuskan pensiun dari Timnas. Namun, alasan keduanya berbeda: Ingin fokus di level klub. (Red)
Atika Azmi Utammi Nasution Pimpin HKTI Madina, Dorong Petani Naik Kelas dan Perkuat Ketahanan Pangan
News
Kejuaraan Tenis Meja Antar Pelajar Padangsidimpuan 2026 Digelar, PTMSI Dorong Lahirnya Bibit Atlet Muda
News
sumut24.co ASAHAN, Kabar mencengangkan mengguncang publik Kabupaten Asahan. Dugaan praktik pungutan liar (pungli) dalam proses perekrutan P
News
Dr. Agus Purwanto Mencuat sebagai Kandidat Ketua Umum MD KAHMI Binjai Periode 2026&ndash2031
News
sumut24.co ASAHAN, Alokasi Dana Desa yang seharusnya menjadi penggerak pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Asahan, justru
News
RSUD Hamparan Perak Dibangun, Akses Kesehatan Warga Makin Dekat
News
IMTGT Kembali &lsquoMenyala&rsquo, RE Nainggolan Apresiasi Kepemimpinan Bobby Nasution
News
Pemkab Solok Laksanakan Pilwana Serentak di 23 Nagari
News
Pilwana Nagari Kinari Hadirkan Doorprize, Tingkatkan Antusias Masyarakat Gunakan Hak Pilih
News
Perkuat Sinergi dan Kolaborasi, BRI BO Sibuhuan Kunjungan Kerja ke CU Hati Nurani
News